Jumat, 17 Agustus 2012

Lembah Megalitikum Besoa

Berlibur di pegunungan atau di pantai bagi kebanyakan orang mungkin sudah biasa. Tapi cobalah sesekali mengisi waktu liburan dengan berkunjung ke lembah Megalitikum Besoa. Di lembah ini kita akan menyaksikan arca-arca atau patung batu unik dari zaman prasejarah yang terhampar luas di padang savanna. Di lembah ini ratusan arca batu bisa kita temukan. Jarak dari satu arca ke arca lainnya bervariasi. Ada yang jaraknya mencapai 50 meter, bahkan ada pula yang sampai 100 meter. Tapi, yang paling mudah dicapai adalah situs arca Tadulako. Ini adalah arca panglima perang yang tersisa dari zamannya. Berdiri di atas sebuah bukit, arca ini menghadap ke arah barat, yakni ke arah matahari terbenam. Menurut Munis Taro, tetua adat Besoa, Tadulako adalah panglima perang yang tersisa dari sebuah perang suku di zaman sekitar 3.000 Sebelum Masehi. Ia dikutuk menjadi batu setelah dipukul kepalanya oleh seorang perempuan musuh dengan batang alu. “Itu kisah turun-temurun yang saya ketahui sampai kini tentang Tadulako. Tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan kisah ini muncul, tapi dari perhitungan peneliti, kisah ini ada sejak ribuan tahun lalu,” tutur Munis Taro yang kini berusia 72 tahun . Saking terkenalnya arca ini, sebuah perguruan tinggi negeri di Palu, Sulawesi Tengah dinamai Universitas Tadulako. Tadulako merujuk pada gelar pemimpin perang atau orang yang sangat dihormati. Tadulako sama dengan Senopati dalam tradisi Jawa. Lembah Megalitikum Besoa terletak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke situs purbakala yang menyimpan cerita dari zaman prasejarah itu, kita harus berjalan kaki kurang dari 1 kilometer melewati pesawahan dan menyaksikan kerbau-kerbau petani yang sedang berkubang. Di dekat arca Tadulako sekitar 50 meter kita juga akan menemukan Kalamba. Ini yang menarik. Menurut cerita, arca ini dulunya adalah bak mandi para putri raja. Bentuknya seperti ember besar. Kalamba ini mempunyai tutup yang juga terbuat dari batu alam. Berkunjung ke lembah Megalitum bak terlempar jauh ke masa prasejarah di mana manusia belum mengenal tulisan. Selain Tadulako, salah satu arca yang fenomenal adalah Patung Sepe, yang biasa disebut pula Arca Miring, karena posisinya berdiri seperti Menara Pisa di Roma, Italia. Tak ada yang tahu pasti kenapa Patung Sepe ini posisinya miring. Untuk menuju ke situs ini, kita bisa menempuhnya dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Lalu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekira 300 meter dari jalan utama di Lembah Napu. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah saat ini terdapat 432 objek situs megalit di Sulawesi Tengah. Tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Poso sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala sebanyak 27 situs. Saat ini, sebagian besar arca yang ditaksir berusia sekitar 3000 – 4000 SM itu masih berada di situs alamnya di Lembah Napu, Bada dan Besoa di Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Sementara sebagiannya sudah dibawa ke Museum Negeri Sulawesi Tengah. Arca megalitikum semacam ini adalah hal yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Marquies Island, Amerika Latin. Dr Albertus Christiaan Kruyt (1869-1949) dan Dr Nicolaus Adriani yang tiba di Poso pada 1895, dua orang misionaris dan juga ahli etnografer Belanda, mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso pada 1908, masyarakat Poso masih memperlakukan penguburan mayat-mayat anggota suku mereka di dalam batu maupun kayu. Sebagai bukti, sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan Goa Latea, salah satu situs penguburan di dalam kubur batu dan goa-goa di Tentena, Sulawesi Tengah, sekitar 300 kilometer dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut Martin, salah seorang juru pelihara situs megalitikum di Lembah Besoa, dari sejumlah situs megalitikum di Kabupaten Poso itu terdapat beragam peninggalan zaman megalitikum. Ada yang berupa arca, menhir atau dolmen. “Jadi arca-arca megalitikum di sini sangat beragam. Bisa jadi situs ini yang paling beragam di Indonesia. Sayangnya, kita memang kurang promosi, sehingga kurang dikunjungi oleh wisatawan. Paling yang datang ke sini adalah peneliti,” kata Martin. Dibanding situs-situs arkeologi lainnya, situs ini kurang mendapat perhatian. Padahal kita tahu usia arca-arca megalitikum itu lebih tua daripada Borobudur. Sulteng memiliki 1.451 buah arca dari situs megalitikum yang terseber di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa, Kabupaten Poso. Diperkirakan situs megalitikum Sulteng adalah yang terluas di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar