Jumat, 17 Agustus 2012

DESA TUARE DI LEMBAH BADA


Lore Lindu merupakan kawasan taman nasional di Propinsi Sulawesi Tengah. Di kawasan hutan seluas 180 ribu hektar ini terdapat 62 desa adat Lore Lindu. Desa adat ini berbatasan dengan hutan yang masih perawan, karena lokasinya terisolir.

Warga setempat mengandalkan penghidupan dari hasil hutan dan berladang. Salah satu diantaranya adalah memanfaatkan kayu sebagai bahan untuk membuat kain. Tempat pengolahan kain kulit kayu ini diantaranya terdapat di Desa Tuare, Kecamamatan Lore Selatan.

Desa Tuare terletak sekitar 362 kilometer dari Palu, ibukota propinsi Sulawesi Tengah. Kendaraan roda empat hanya dapat mencapai Desa Gimpu, Kecamatan Lore Barat. Selanjutnya perjalanan dilakukan dengan menggunakan sepeda motor selama empat jam, melewati kawasan taman nasional sejauh 46 kilo meter.

Desa Tuare berada di Lembah Bada'. Desa ini dipimpin kepala desa dan ketua adat. Di desa yang dihuni 120 keluarga ini terdapat 25 pengrajin kain kulit kayu.

Yang mengambil kulit kayu adalah kaum lelaki. Pohon yang kulitnya bagus untuk diolah menjadi kain diantaranya pohon beringin, bea, dan sukun. Proses pengolahan dilakukan di halaman rumah yang disebut buho.

Kulit kayu yang akan diolah terlebih dahulu di dibersihkan di sungai. Hal ini dilakukan untuk melepaskan getah dari kulit kayu. Setelah bersih kulit kayu direbus di belanga hingga lunak.

Kemudian kulit kayu diolah menjadi serat dengan menggunakan alat yang disebut peboba. Serat selanjutnya dihaluskan dengan alat pukul yang disebut ike. Kulit kayu kemudian diluruskan dengan bambu. lalu dikeringkan.

Salah seorang pengrajin kain kulit kayu di Desa Tuare adalah Hapy Mandai. Ibu dua orang anak ini mewarisi keterampilan membuat kain kulit kayu dari ibunya. Dalam seminggu ia dapat menghasilkan hingga 5 meter kain.

Kulit kayu buatannya dipasarkan ke Kota Palu. Namun tak banyak uang yang didapat, karena harga satu meter kain kulit kayu hanya berkisar delapan hingga sembilan ribu rupiah. Karena itu ia hanya menjadikan pembuatan kain kulit kayu ini sebagai pekerjaan sambilan.

Warga Desa Tuare lainnya, Tony Taula mengolah kain kulit kayu menjadi berbagai barang kerajinan, seperti karpet, baju adat, dan siga.

Tony mendapat keterampilan mengolah kain kulit kayu ini dari misionaris Jerman dan Belanda yang pernah datang ke desanya sekitar 12 tahun lalu. Sebelum terjadi kerusuhan di Poso, memang banyak orang asing yang datang. Mereka tidak hanya mengajari penduduk setempat membuat berbagai barang kerajinan, tetapi juga membeli barang-barang kerajinan yang dihasilkan.

Barang kerajinan yang dibuat dari kain kulit kayu oleh masyarakat Lembah Bada, seperti tas, dompet dan baju memiliki kualitas yang tinggi, karena dibuat dari kulit kayu bea yang hanya ada di Lembah Bada.

Namun pengembangan usaha kerajinan ini masih menghadapi kendala pemasaran. Karena selama ini kain kulit kayu lebih banyak dijadikan perlengkapan untuk upacara adat. Hal inilah yang menjadikan usaha ini tidak berkembang menjadi usaha yang dapat menjadi mata pencarian utama warga setempat.

Meskipun pemasarannya menghadapi hambatan, namun masayarakat Lore Lindu akan tetap membuat kain kulit kayu. Karena bagi mereka, hal ini tidak hanya sekedar usaha untuk mencari nafkah tambahan, tetapi juga merupakan upaya untuk melestarikan adat.(Indsib


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar