Kamis, 13 Juni 2013

GUNUNG SIDOLE



Gunung Sidole terletak pada perbatasan dua wilayah Kabupaten yaitu Donggala dan Parimo (Parigi-Mautong) tepatnya antara Kecamatan Sindue dan Kecamatan Ampibabo. Adapun lokasi Gunung Sidole masih kontroversial, hal ini disebabkan pada lembaran peta Tavaili oleh Bakosurtanal edisi I tahun 1991 lembar 2015-34, menerangkan bahwa puncak tertinggi adalah ‘Bulu’ Sinio (Gunung Sinio dalam bahasa Kaili), akan tetapi pada kenyataannya masyarakat setempat menyebutkan bahwa puncak tersebut adalah Bulu Semen, karena pada puncaknya terdapat tugu/triangulasi buatan tangan para pendahulu kita yang hidup pada masa kolonial Belanda di bumi Tadulako. Namun pada peta, Gunung Semen terletak tiga karvak ke arah selatan dari puncak Gunung Sinio, sedangkan yang kami kenal puncak tertinggi tersebut bernama Bulu Sidole atau Gunung Sidole dan bukanlah Gunung Sinio. Dalam beberapa kali Expedisi Buka Jalur yang berhasil dilakukan oleh tim dari Mapala Lalimpala, diperoleh bahwa lokasi titik koordinat puncak tersebut berada tepat di Gunung Sidole. Mengenai masalah identitas puncak-puncak kontroversial tersebut, menurut hemat kami hal tersebut terjadi dikarenakan kesalahan penempatan beberapa nama puncak pada lembar peta Tavaili khususnya antara puncak Sidole, Sinio, dan Semen. Hal tersebut diatas kami simpulkan dengan memperhatikan beberapa nama jalan di Kota Palu yang menggunakan nama dari sebagian puncak tertinggi di Sulawesi Tengah dan salah satunya ialah Gunung Sidole. Oleh karena itu, maka tim kali ini sepakat, menamakan Daki Wajib Gunung Sidole 2009 sesuai dengan program Mapala Lalimpala periode 2008/2009.
Dalam pendakian sebelumnya Tim dari Mapala Lalimpala telah beberapa kali merintis jalur pendakian yang berhasil menggapai puncak, yakni pertama pada tahun 1997, dari Desa Sidole (Pantai Timur) – Puncak yang memakan waktu 5 hari perjalanan. Kedua pada tahun 1998 yang start dan berakhir di lokasi yang sama. Ketiga pada tahun 2003 dari Desa Wani (Pantai Barat) – Puncak – Desa Towera (Pantai Timur) yang menggunakan sistem Himalayan Style dengan total 7 hari perjalanan. Keempat pada 11 Februari 2007 untuk melaksanakan kegiatan Buka Jalur Tetap Gunung Sidole menempuh rute Taripa – Puncak Sidole– Taripa (Alpine Style).

traking dimulai dengan menyusuri Binangga Toaya (Sungai Toaya dalam bahasa Kaili) yang mengalir di wilayah desa Taripa dan tim juga melintasi perkebunan penduduk dengan tujuan Bulu Toposo. Tanaman khas pertanian masyarakat banyak dijumpai, utamanya durian yang sedang berbunga lebat pada bulan tersebut. Tim juga sempat mengisi kantong- kantong airnya di Sumur Lesung untuk persiapan kebutuhan makan malam di pos I. Keunikan yang dimilikinya ialah memiliki air yang sangat jernih dan berasal dari tanaman bambu yang banyak tumbuh disekitarnya, ukuran diameternya mencapai 50 X 50 Cm dengan kedalaman 60 Cm.  Suhu terasa beku kabut masih sibuk meletakan butir-butir embun pada dedaunan dan lumut. tim melanjutkan perjalanan ke puncak. Perjalanan dimulai pukul 08.00 WITA menyusuri hutan basah dengan vegetasi pepohonan damar. Tim mencapai puncak pada pukul 17.00 WITA. Sorak kegembiraan, tawa dan tangis kebahagiaan serta kebanggaan mencapai puncak terlihat pada wajah seluruh anggota tim, setelah seorang tim yang berjalan di depan melihat Triangulasi (tugu yang menandakan puncak gunung sidole) dan berteriak “ woy puncak, ayo cepat sudah”. Semua personil tim bergegas menyusul merayakan keberhasilan dan kebanggaan sebagai Perempuan-perempuan Pertama yang Mencapai Puncak Gunung Sidole

(MAPALA LALIMPALA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar