Selasa, 12 Maret 2013

Rio Pakava, Anak Tiri Sulteng di Tengah Sulbar

Ditulis oleh Rahmat Azis

Wilayah terpencil di Kabupaten Donggala itu memang lebih dikenal dengan nama Lalundu ketimbang Rio Pakava. Padahal, Lalundu adalah nama lama dari kawasan yang kini menjadi Kecamatan Rio Pakava. Dulu, areal penempatan transmigran asal Jawa, Bali dan Lombok ini disebut Lalundu, yang terdiri dari enam UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi). Wilayah yang berbatasan langsung dengan Sulbar ini merupakan wilayah Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala. Namun, pada tahun 2000, dimekarkan menjadi Kecamatan Rio Pakava. Selain transmigran asal luar Sulawesi, wilayah seluas 17.014,14 kilometer persegi ini juga dihuni oleh etnis Bugis dari Sulawesi Selatan dan juga sebagian kecil etnis Kaili yang tersebar di 14 desa dengan ibukotanya di Desa Lalundu Utama.

Wilayah berpenduduk 22.228 jiwa yang terdiri dari 5.324 KK (kepala keluarga) ini memang terpencil. Berada di pedalaman, Rio Pakava terkepung wilayah Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar di sebelah barat, selatan, dan tenggara. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Pasangkayu, Kecamatan Tike dan Kecamatan Baras di Sulbar. Sementara kecamatan di wilayah Sulteng yang berbatasan dengan Rio Pakava adalah Kecamatan Dolo Selatan, Kecamatan Pinambani, Kecamatan Pipikoro dan Kecamatan Kulawi yang masuk Kabupaten Sigi.

Sepanjang perjalanan, tapal batas antara kedua provinsi ini tidak begitu diketahui karena tidak adanya gerbang yang menandakannya. Untuk mengenali wilayah Sulteng atau Sulbar, hanya berdasarkan pengamatan pada baliho caleg peserta Pemilu 2009 yang mencantumkan daerah pemilihan (dapil). Di dalam areal sawit di Kecamatan Pasangkayu yang dekat dengan Rio Pakava, wilayah Sulteng dan Sulbar justru tidak bisa dipastikan.

Keadaan alam yang tidak menguntungkan inilah yang membuat akses penduduk Rio Pakava ke ibukota Kabupaten Donggala di Banawa memang menjadi sulit. Keterpencilan itu disebabkan tidak ada jalan lain yang bisa dilalui untuk bisa langsung ke kecamatan lain di Kabupaten Donggala. Pasalnya, wilayah ini dibentengi rangkaian Pegunungan Gawalise yang menjulang tinggi.

Padahal, penduduk Rio Pakava dan empat kecamatan di Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar tersebut lebih memilih membawa hasil buminya seperti kakao, beras, jagung dan sayuran ke Donggala di Kecamatan Banawa yang lebih dekat. Untuk mencapai Donggala, penduduk Rio Pakava selain harus melintasi empat kecamatan di Provinsi Sulbar, juga harus melintasi Kecamatan Banawa Selatan dan Banawa Tengah.

Karena harus melintasi Provinsi Sulbar, maka penduduk Rio Pakava sering terkena tarikan retribusi di jalan raya yang biayanya tinggi. Agar bebas dari pungutan, masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor harus mengantongi surat jalan terlebih dulu dari Rio Pakava. Surat ini hanya berlaku untuk satu kali perjalanan. Jika tidak, mereka harus membayar pungutan sebesar Rp 50 ribu di perbatasan wilayah yang dilakukan oleh petugas dari Sulbar. Dan saat kembali ke Rio Pakava pun mereka harus mengantongi surat jalan dari Donggala jika tidak ingin dikenai pungutan lagi karena perbedaan pelat nomor kendaraan.

Karena terpencil di pedalaman itulah yang menyebabkan wilayah ini kurang mendapat perhatian Pemerintah. Akibatnya, kecamatan ini minim fasilitas. Jangankan jaringan telekomunikasi, listrik dari PT. PLN pun belum masuk ke Rio Pakava.

Untuk listrik, saat ini penduduk hanya mengandalkan genset dengan daya 3 kilowatt yang hanya dinyalakan sejak pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Satu mesin genset ini rata-rata mampu menerangi 10 rumah tangga dengan menghabiskan solar hingga 5 liter.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar