Kamis, 03 Januari 2013
Melawat Kehidupan Masyarakat Pulau Malenge Oleh: hadi - d'Traveler
Pulau Malenge merupakan salah satu dari 6 pulau besar yang ada di kepulauan Togean. Pulau Malenge mempunya jumlah penduduk yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan pulau yang ada di sekitarnya. Pulau Malenge dapat dikunjungi dari Ampana dengan mengunakan perahu boat dengan waktu tempuh sekitar 8 (delapan) jam.
Masyarakat yang ada di pulau ini sebagian besar adalah orang Togean dan sisanya merupakan penduduk pendatang. Kehidupan di pulau ini tergolong sederhana sebagian besar rumah yang ada masih berdinding papan.
Walaupun berada di pesisir pantai, namun sumber pencaharian masyarakat di pulau malenge ini bervariasi dari mulai nelayan, petani, peternak dan pedagang. Selain ikan laut, cokelat dan kelapa merupakan komoditas pulau ini. Disamping itu, ada juga warga yang mengembangkan tambak lobster untuk diekspor ke luar negeri dan teripang untuk dijual ke restoran-restoran di kota besar.
Fasilitas di pulau ini bisa dikatakan masih minim. Sekolah yang terdapat di pulau ini hanyalah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SMP) itupun dalam satu atap artinya kegiatan pembelajaran antar murid sekolah dasar dan sekolah menegah pertama berada dalam satu gedung. Sekolah Menengah Atas (SMA) belum tersedia di pulau ini. Orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya hingga SMA harus menyekolahkan anak-anaknya di Wakai atau bahkan di Ampana. Puskesmas yang ada di pulau ini merupakan puskesmas perintis yang kadangkala masih minim akan peralatan dan obat-obatan sehingga masyarakat disini masih sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Namun dibalik minimnya fasilitas, pulau ini ternyata menyimpan potensi wisata yang cukup menarik. Di pulau ini terdapat satwa endemik yang hanya dapat hidup di pulau ini yaitu Monyet Togean (Macaca Togeannus) dan Kepiting kenari.disamping itu terdapat pantai-pantai berpasir putih seperti pantai Kadoda, Bonavang, Pantai Poponoton dan Pantai Batuengkang yang cocok untuk bersantai sambil melakukan sunbathing.
Sabtu, 15 Desember 2012
Menyusuri Pemandangan Lain Desa Meko, Sulawesi Tengah
(Berita Daerah-Sulawesi) Bertamasya tak melulu harus mengunjungi objek wisata yang berada di daerah. Mampir ke sebuah tempat, yang bukan merupakan kawasan wisata, merupakan salah satu kegiatan yang tak mudah untuk dilupa.
Tempat yang bisa anda kunjungi salah satunya adalah Desa Meko, yang berada di Pamona Barat. Sulawesi Tengah. Desa yang terletak di pinggiran Danau Poso ini begitu tenang dan indah.
Hamparan padi menguning, dijamin bisa mengawali indahnya hari yang akan anda jalankan. Areal persawahan begitu mudah ditemui di desa ini. Maklumlah, 90% penduduk di desa Meko memang berprofesi sebagai petani.
Foto: Berita Daerah-Wagner
Tanahnya yang gembur membuat padi-padi bertumbuh subur. Tak hanya lahan pertanian, letaknya yang ada di tepi danau Poso, menjadikan berbagai budidaya ikan, seperti mujair hingga lele tumbuh pesat di sana. Bebatuan cantik menjadi bonus yang bisa dijumpai di sana.
Tak hanya itu, indahnya bunga teratai juga membuatnya betah tumbuh di perairan desa Meko. Sungguh pemandangan langka, yang jarang terdapat di tempat lain.
Desa Meko bisa dijumpai lewat perjalanan darat sekitar 30 km dari kota Tentena. Berminat mengunjunginya?
(Arnelia Triwardini/DN/bd)
Tempat yang bisa anda kunjungi salah satunya adalah Desa Meko, yang berada di Pamona Barat. Sulawesi Tengah. Desa yang terletak di pinggiran Danau Poso ini begitu tenang dan indah.
Hamparan padi menguning, dijamin bisa mengawali indahnya hari yang akan anda jalankan. Areal persawahan begitu mudah ditemui di desa ini. Maklumlah, 90% penduduk di desa Meko memang berprofesi sebagai petani.
Foto: Berita Daerah-Wagner
Tanahnya yang gembur membuat padi-padi bertumbuh subur. Tak hanya lahan pertanian, letaknya yang ada di tepi danau Poso, menjadikan berbagai budidaya ikan, seperti mujair hingga lele tumbuh pesat di sana. Bebatuan cantik menjadi bonus yang bisa dijumpai di sana.
Tak hanya itu, indahnya bunga teratai juga membuatnya betah tumbuh di perairan desa Meko. Sungguh pemandangan langka, yang jarang terdapat di tempat lain.
Desa Meko bisa dijumpai lewat perjalanan darat sekitar 30 km dari kota Tentena. Berminat mengunjunginya?
(Arnelia Triwardini/DN/bd)
Ah, Damainya Desa Tonusu
(Berita Daerah-Sulawesi) Tenang, damai dan tentram, adalah sekilas perasaan yang didapat ketika berada di sebuah desa. Pamona Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa yang tenang dan tenteram ini di huni oleh sekitar 1600 penduduk yang sembilan puluh lima persennya berprofesi sebagai petani.
Kesan pertama yang diperoleh dari desa ini adalah ketenangan dan keindahannya.Sebagai orang yang biasa tinggal di kota besar yang padat, saya langsung merasakan ketenangan dan rasa damai yang jarang didapatkan. Belum lagi udaranya yang bersih serta penduduknya yang ramah.. Penduduk Tonusu ini termasuk dalam suku Pamona yang tersebar hampir diseluruh kabupaten Poso. Selain Bahasa Indonesia, mereka menggunakan bahasa Pamona (Bare’e) sebagai bahasa daerah mereka.
Desa ini juga dilalui oleh Danau Poso yang indah dimana air di tepi danau ini terlihat jernih berwarna kehijau-hijauan dan ditengah danau berwarna biru sesuai dengan dalamnya danau ini.
Sangat indah melihat sawah dengan padi-padinya yang menguning ditepi danau Poso yang biru. Danau ini menjadi salah satu obyek wisata di Sulawesi Tengah. Bahkan tiap tahunnya diadakan Festival Danau Poso yang diselenggarakan antara bulan Agustus sampai bulan September.
Udara di Desa Tonusu ini sangat sejuk di saat sore, malam dan pagi hari. Cukup terik di siang hari. Kondisi inilah yang membuat tanaman coklat dan cengkeh tumbuh subur. Rata-rata tiap keluarga memiliki kebun yang lokasinya sekitar beberapa meter dari rumah mereka.
Kebun itulah yang ditanam degan tanaman pangan seperti coklat dan cengkeh. Bila musim cengkeh tiba, aromanya yang harum dapat tercium sampai kejalan.
Tiap pagi terlihat para penduduk desa ini membersihkan pekarangan mereka yang ditanami bunga-bunga yang indah. Beberapa penduduk juga membeli ikan dari pedagang keliling yang menjajakan jualannya dengan sepeda motor.
Memang indah dan asri. Merupakan moment indah tak terlupakan ketika berjalan-jalan di pagi yang sejuk
Mendengarkan kicauan burung yang merdu serta mendapatkan senyuman ramah dari penduduk desa ini yang menawarkan untuk mampir sebentar ke beranda mereka sekedar bertegur sapa dan berkenalan.
Demikian rasa hangat kekeluargaan yang masih dapat dinikmati di desa Tonusu, Sulawesi Tengah.
Dabu-Dabu Peling, Sulawesi Tengah
(Berita Daerah - Sulawesi) Berbicara sambal pastilah kita membayangkan nikmatnya makanan bila disertai dengan sambal dan sangat menjadi kesukaan. Bahkan bila tidak makan dengan sambal, rasanya kurang lengkap. Sambal menjadi salah satu bagian saat kita hendak menyantap makanan, seperti pada saat kita makan nasi dengan ikan bakar atau ayam goreng dengan pelengkapnya ialah lalapan.
Sulawesi Tengah tepatnya di Desa Sosom, Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah disinilah saya merasakan betapa nikmatnya dabu - dabu asal pulau peling ini.
Dabu - dabu merupakan suatu menu yang favorit yang harus ada jika masyarakat Pulau Peling bahkan Pulau Sulawesi hendak makan dan ini menjadi khas Pulau Sulawesi, berupa sambal mentah yang terdiri dari irisan cabai rawit, tomat muda, bawang merah, lalu diberi air jeruk nipis dan garam, biasanya ada beberapa yang menambahkan dengan minyak kelapa agar menciptakan rasa dan aroma tersendiri.
Sambal ini bagi saya adalah welcome food. Sehingga tidak hanya mata, kepala dan kamera, sekarang lidah saya juga menjadi saksi bahwa saya sedang berada disini. Asam, pedas menyegarkan, maknyus rasanya. Setelah mengunyah sambal ini selanjutnya menghadirkan memori tersendiri bagi saya tentang pulau ini, saya pernah mencoba membuatnya, tapi rasanya tidak selezat disantap di daerah asalnya. Jadi tidak sabar mau kembali kesana untuk merasakan nikmatnya dabu - dabu Pulau Peling, Sulawesi Tengah.
Berwisata Ke Bambahano Singgah Di Danau Dampelas
(Berita daerah-Sulawesi) Aktivitas masyarakat di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, hari ketiga pascalebaran Idul Fitri 1431 Hijriah, Minggu pagi, sudah berdenyut lagi setelah dua hari sebelumnya sibuk bersilaturahmi.
Ada yang masih melanjutkan kunjungan silaturahmi dalam momen lebaran Idul Fitri, ada pula yang sibuk mempersiapkan diri bertamasya bersama keluarga, teman, dan kekasih.
Hari itu muda-mudi, tidak sedikit pula yang sudah berkeluarga dan anak-anak tumpah-ruah di pusat-pusat wisata. Mereka melepas lelah setelah sebulan lamanya berpuasa.
Di Kecamatan Dampelas banyak pilihan tempat bertamasya. Ada Danau Dampelas dan Bayabi di Desa Talaga, Pantai Majang di Desa Rerang, Ogo Dampelas, tanjung Dampelas dan Bambahano di Desa Sabang. Masing-masing lokasi wisata itu menawarkan pesona alam yang berbeda satu sama lainnya.
Batu cadas yang di atasnya ditumbuhi pepohonan keras, pasir putih mengkilap, ombak bergulung, tiupan angin, artefak tapak kaki, karang bawah laut, pohon rindang nan tawaran kuliner tradisional dapat dijumpai di Bambahano, 150 kilometer arah pantai barat Kota Palu.
"Di sini cocok olahraga air seperti ski terutama saat teduh. Bagus juga untuk bola pantai karena pasirnya halus dan bersih," kata Kiki, warga setempat.
Bambahano adalah dua suku kata dari bahasa Dampelas. "Bamba" artinya muara. "Hano" artinya danau. Bambahano berarti muara danau.
Saat air laut surut, air danau Dampelas ikut mengalir ke laut. Itulah sebabnya masyarakat Sabang menyebutnya sebagai muara danau. Jarak pantai dan danau kurang dari satu kilometer diantarai hutan dan semak belukar.
Dalam hutan itu terdapat ekosistem flora dan fauna seperti burung belibis dan tanaman pemakan serangga sehingga dapat dijadikan ekowisata untuk kepentingan penelitian. Keunikan itulah salah satu alasan orang berkunjung ke Bambahano. Selain menyebur ke laut, juga bisa membilas badan dengan air danau. Jika air pasang, rasa air di sana payau.
Lokasi wisata ini bentuknya seperti tanjung. Posisinya di tepi pantai. Sekitar 40 meter dari darat, terdapat dua gumpalan batu besar menyerupai pulau kecil. Di atasnya ditumbuhi pepohonan keras tahan air asin. Menyeberang ke batu itu bisa dengan berjalan kaki jika air dalam posisi surut. Banyak pengunjung berpose dengan latar tebing batu cadas.
"Kalau air pasang, kelihatan dua batu itu seperti pulau kecil tidak berpenghuni," kata Kiki.
Menurut Kiki, karang bawah laut di sekitarnya sebagian masih terawat. Sejak akhir tahun 1980-an, pemerintah desa di Sabang sudah melarang mengambil batu karang di sekitarnya. Meski masih ada aktivitas pengambilan karang untuk material pembangunan rumah tapi jauh dari lokasi itu.
Wisata Bambahano itu pertama kali dibuka oleh Pengurus Karang Taruna Desa Sabang sekitar tujuh tahun lalu. Sekelompok generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna membuka semak-semak di sana. Pohon-pohon kecil mereka tebang. Pohon besar nan rindang disisakan untuk tempak berteduh.
"Jadilah dia seperti sekarang ramai dikunjungi orang terutama musim lebaran," kata Kiki.
"Beberapa tahun lalu saya lihat ada orang bule datang ke sini untuk sebuah penelitian," katanya.
Dua tahun setelah dibukanya lokasi itu, pemerintah Kabupaten Donggala, di bawah kepemimpinan Bupati Adam Ardjad Lamarauna mengaspal jalan menuju lokasi itu. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari jalan trans Sulawesi. Kini Kendaraan roda dua dan empat bisa didaratkan langsung ke bibir pantai Bambahano.
Jarak tempuh dari Kota Palu ke Bambahano kurang lebih 150 kilometer arah pantai barat. Biasanya ditempuh tiga jam paling lama dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam.
Belakangan ini jalan di jalur pantai barat Donggala tembus ke Kabupaten Tolitoli sudah mulus. Lebar jalannya rata-rata enam meter. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi memperkirakan tahun 2010 ini seluruh proyek jalan dan jembatan di wilayah ini akan tuntas.
Menuju Bambahano bisa dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Menggunakan kendaraan pribadi bisa berangkat dari Palu kapan pun. Pagi-pagi lebih baik sehingga bisa tiba di Bambahano pagi pula. Sore bisa kembali lagi setelah seharian bercengkrama dengan keindahan alam di sana.
Bagi yang ingin bermalam, di sana ada tempat beristirahat meski belum representatif. Tetapi ada pilihan penginapan di Desa Sabang.
Sebelum masuk ke Bambahano, Anda lebih dulu bertemu dengan Danau Dampelas atau danau Talaga yang teduh di bawah kaki gunung Sitangke sebagai zona penyangga danau itu. Di sana pengunjung bisa melepaskan lelah sesaat di pinggir jalan dekat danau. Jika membawa kail, bisa menumpang mancing ikan tawar, setelah itu melanjutkan perjalanan. Tidak lebih dari 20 menit sampai ke Bambahano.
Sekali jalan, Anda bisa menikmati dua pesona alam yang unik, danau Dampelas dan pesona laut Bambahano.
Keunikan Mitologi
Menurut Budayawan Hapri Ika Poigi, keberadaan Bambahano tidak terlepas dari mitologi Sawerigading dan Nahadiya Dampelas. Awalnya danau dan laut di teluk itu menyatu, tetapi karena perseteruan Sawerigading dan Nahadiyah Dampelas, sehingga teluk itu tertutup dan terbentuklah danau Dampelas.
"Makanya di Bambahano itu ada artefak kaki yang besar di atas batu," kata magister Fakultas Budaya Universitas Gadjah Mada itu.
Jika air laut surut artefak kaki--warga di Dampelas menyebutnya kaki Sawerigading-- dapat dilihat jelas. Tapak kaki itu menempel di atas batu lengkap dengan lima jarinya.
Dampelas kata Hapri adalah salah satu suku bangsa yang berdiri sendiri. Memiliki ciri tersendiri sebagai suku bangsa seperti bahasa, budaya dan adat istiadat.
"Dampelas itu bukan sub etnis atau bagian dari etnis tertentu tetapi Dampelas adalah sebuah suku bangsa yang keberadaannya tidak terlepas dari mitologi Nahadiya Dampelas," kata Hapri.
Di Dampelas terdapat beberapa lokasi wisata yang bisa dijadikan destinasi pariwisata diantaranya adalah danau Dampelas dan Bambahano. Dua tempat ini memiliki daya tarik yang dapat membentuk sistem yang sinergi dalam menciptakan dan memotivasi kunjungan wisatawan.
Menurut Hapri, danau Dampelas dan Bambahano dapat dikembangkan sebagai objek wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Selain pesona alam di sana juga terdapat ekowisata untuk kepentingan penelitian.
"Tempat ini sebetulnya unik karena hanya di sana ada danau yang bersebelahan dengan laut ditambah lagi ekosistem flora dan faunanya. Apalagi ditambah dengan budaya lokal masyarakat Dampelas, lengkap sekali untuk destinasi pariwisata," kata Hapri.
Dosen pada Universitas Tadulako ini mengatakan, pemerintah daerah tampaknya belum fokus mengembangkan daerah tersebut sebagai potensi wisata yang memiliki keunggulan.
Pemerintah kata Hapri mestinya sudah bisa melakukan gebrakan iven untuk memperkenalkan wisata danau Dampelas dan Bambahano salah satunya melalui festival danau Dampelas.
(ma/MA/ant-Adha Nadjemuddin)
Kota Tua di Ujung Teluk Palu
detikTravel Community -
Kota Donggala, Sulawesi Tengah menyajikan banyak tawaran pelesiran. Mulai dari menonton para penenun Buya Sabe atau sarung sutra, menikmati indahnya pantai pasir putih Tanjung Karang, hingga menyicipi Kaledo, makanan khas Donggala, yang terbuat dari kaki dan daging lembu. Semuanya bisa dinikmati dalam sekali jalan. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampui.
Pagi baru merekah, masih tersisa langit yang memerah saga di ufuk timur. Mentari tentu saja baru saja sedikit melewati ufuk. Tontonan panorama alam itu lebih indah bila dinikmati dari pesisir laut Teluk Palu atau dari ujung teluk, tepatnya di Kota Donggala.
Bila Anda belum pernah mendengar namanya, bolehlah membaca buku "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" milik Buya Hamka, ulama dan budayawan tersohor di masanya. Atau bacalah "Tetralogi Pulau Buru" milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Di kedua buku itu, nama Donggala disebut sebagai tempat singgah para pelaut Nusantara dan mancanegara. Ya, Donggala identik dengan pelabuhan lautnya.
Kota tua ini pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-18. Oleh Belanda pelabuhan ini dijadikan sebagai pelabuhan niaga dan penumpang. Tidak heran masih banyak bangunan tua tersisa di kota ini.
Rasanya perjalanan ke kota ini tidak boleh dilewatkan. Dari Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah perjalanan menuju Donggala bisa ditempuh tidak lebih dari satu jam. Jaraknya hanya 40 kilometer. Pilihan kendaraannya terserah kita.
Jika ada wisatawan yang mau datang dari Jakarta, bisa dengan pesawat Lion Air, Wings Air, Batavia Air, Sriwijaya Air atau Merpati dengan waktu tempuh selama 2 jam. Lalu transit di Makassar atau Balikpapan, dan 55 menit kemudian akan tiba di Bandara Mutiara Palu. Diteruskan lagi dengan menumpang mobil kijang dari Bandara Mutiara Palu dengan tarif Rp100.000,- hingga Rp150.000,- dengan lama perjalanan antara 30 menit hingga 45 menit.
Lalu hendak ke mana kita di sana? Tenang saja, tawarannya, mau ke pantai pasir putih Tanjung Karang dulu atau menonton para penenun di Banawa Tengah atau Banawa Selatan atau menikmati makanan khas Kaledo?
Rasa-rasanya kita boleh memulai perjalanan dari Banawa Tengah. Jaraknya hanya 2 kilometer arah barat Kota Donggala. Yuk, kita ke sana!
Dari jauh bunyi hentakan balida yang bertemu dengan pasak alat tenun tradisional sudah terdengar bunyinya. Itu tandanya kita sudah dekat dengan Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Donggala. Balida itu, sebuah kayu panjang yang menjadi pemberat di tengah lipatan kain tenun saat penenun memasukkan benang-benang. Biasanya terbuat dari kayu ulin atau ebony.
Mungkin, selama ini orang hanya mengenal kain tenun Songket dari Palembang atau Ulos dari Sumatera Utara. Padahal, di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, ada sarung tenun yang sangat terkenal. Namanya Buya Sabe atau Sarung Tenun Donggala.
Salah satu pusat Buya Sabe berada di Desa Limboro. Di sana tidak kurang 100 penenun setiap hari bekerja. Menariknya, tidak cuma para perempuan paruh baya berusia 50–60 tahun yang menjadi penenun tapi juga pada gadis remaja berusia 12-20 tahun. Itu lah yang menyebabkan tradisi tenun Buya Sabe ini terus terlestarikan.
Biasanya mereka bekerja sejak pukul 09.00–12.00 WITA. Lalu diteruskan lagi pukul 13.00–17.00 WITA. Ada pula yang menenun di malam hari mulai pukul 19.00 – 22.00 WITA.
Jadi bagi ibu rumah tangga, mereka menyelesaikan dulu urusan masak-memasak dan mengatur rumah tangganya, lalu kemudian menenun. Sementara bagi gadis remaja, ada yang pergi ke sekolah, ada pula yang membantu orang tuanya. Untuk setiap satu helai Buya Sabe mereka dibayar Rp150.000,-. Meski tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka tetap tekun menenun dan tentu saja melestarikan tradisi.
Rata-rata masyarakat Limboro adalah petani tapi ada pula satu dua yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Karenanya, bertani dan menenun tentu saja adalah sumber mata pencaharian mereka yang utama. Berada di tengah para penenun tradisional ini, seperti membuat kita tercerabut dari alam digital ke zaman kayu. Peralatannya sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan bambu.
Pembuatan tenun Buya Sabe ini, hampir sama dengan pembuatan tenun-tenun yang ada di daerah lain. Baik dari proses pewarnaan benang hingga penenunan. Coraknya pun beragam. Antara lain, kain palekat garusu, buya bomba, buya sabe, kombinasi bomba dan sabe. Dari sekian corak tersebut, buya bomba yang paling sulit, hingga membutuhkan waktu pengerjaan satu hingga dua bulan. Berbeda dengan corak lainnya yang hanya membutuhkan waktu satu hingga dua minggu saja.
"Untuk Buya Bomba, kami mengerjakannya dengan sangat hati-hati. Karena corak yang akan dihasilkan sangat banyak. Biasanya pembuatannya sampai dua minggu atau sebulan. Biasa ada yang bilang corak bunga mawar," kata Habona, perempuan penenun di Limboro berusia 56 tahun.
Kalsum, seorang gadis remaja berusia 21 tahun, juga berkata senada. “Susah juga awalnya, setelah terbiasa kita jadi menikmatinya,� aku Kalsum yang belajar menenun dari ibunya.
Tenun Buya Sabe bisa ditemukan di sepanjang Limboro, Salu Bomba, Tosale, Towale dan Kolakola. Desa-desa itu berada di sebelah barat Kota Donggala. Selain pewarisan turun temurun, tenun Buya Sabe juga dilindungi dengan Peraturan Daerah oleh Pemerintah Kabupaten Donggala. Bahkan di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, setiap Sabtu, para Pegawai Negeri Sipil (PNS) diwajibkan memakai batik yang terbuat dari Buya Sabe.
"Perda itu untuk menjaga agar tenun Donggala itu bisa lestari dan tidak diduplikasi oleh pihak lain," kata Habir Ponulele, Bupati Donggala.
Buya Sabe, banyak digunakan pada cara-cara tertentu. Seperti pakaian pesta untuk orang tua, untuk menjamu tamu dari luar daerah, serta pakain untuk acara kedukaan. Harganya tergantung coraknya. Harga termurah mencapai Rp300.000,- dan paling mahal seharga Rp650.000,-.
Nah, sudah puaskan menonton para penenun di Limboro. Sekarang saatnya kita menuju Tanjung Karang. Jaraknya dari Limboro tinggal 3 kilometer.
Saat sampai di tempat yang satu ini mata kita langsung tertumbuk pada pasir putih yang menghiasi bibir pantainya. Dari atas jalanan di bukit Donggala, terlihat jelas hamparannya, juga kumpulan kapal niaga dan perahu nelayan di Pelabuhan Donggala. Indah dan luar biasa! Itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkannya.
Sekitar 20 tahun silam, Pantai Tanjung Karang ini hanya dikenal sebagai tempat istirahat sementara para nelayan setelah lelah melaut. Saat itu, belum ada jalan masuk ke Pantai Tanjung Karang, padahal hamparan pasir putih di pantai itu sungguh indah. Perkebunan kelapa milik masyarakat juga tumbuh subur di sekitar pantai ini.
Tapi sekarang, Pantai Tanjung Karang sudah berubah menjadi objek wisata favorit bagi warga Palu dan sekitarnya. Di musim libur, pantai ini dipadati wisatawan lokal, bahkan turis mancanegara. Rata-rata berasal dari Eropa.
Agus, salah seorang petugas di pintu masuk Tanjung Karang, mencatat setiap hari libur, sedikitnya 200 kendaraan roda empat dan dua masuk-keluar di objek wisata Tanjung Karang ini. Bahkan angka ini meningkat pesat setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mencanangkan lima hari kerja sejak pertengahan April 2007 lalu.Untuk setiap pengunjung dikenai biaya hanya Rp1.000,-.
"Pengunjung pada Sabtu, Minggu, dan hari libur, paling banyak. Ratusan orang biasanya," kata Agus.
Untuk memberikan pelayanan bagi para wisatawan, yang umumnya wisatawan keluarga, penduduk setempat membangun dan menyewakan puluhan penginapan sederhana, yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Tarifnya relatif murah, antara Rp100.000,- hingga Rp300.000,- semalam untuk masing-masing cottage yang memiliki satu kamar tidur, satu ruang terbuka sebagai teras, dan satu kamar mandi. Tarif ini tidak termasuk makan dan minum.
Menu yang disajikan para pengelolanya beraneka ragam, namun umumnya berupa makanan laut, seperti ikan bakar, cumi-cumi goreng, dan lobster rebus. Ada juga kopi panas, teh, dan sarabba (minuman khas terbuat dari jahe dan gula aren yang direbus serta diberi susu kental), serta pisang goreng panas. Pengunjung juga dapat menikmati makanan, minuman, dan penganan lainnya di cafe-cafe sederhana di area penginapan dan sepanjang bibir pantai Tanjung Karang.
Di Tanjung Karang, ada pula sebuah cottage milik Pieter, seorang warga Jerman yang beristrikan seorang perempuan asal Sulawesi Utara. Ia menamai kawasan cottagenya dengan Prince John Dive Resort. Cottage yang dikelilingi pagar kayu dan tembok dengan luas halaman sekitar 60 x 50 meter tersebut dilengkapi berbagai fasilitas memadai, seperti cafe dan lapangan voly pantai.
Pemilik cottage ini juga melengkapinya dengan kapal pesiar dan peralatan diving serta snorkeling yang memang diminati wisatawan mancanegara.
"Wisatawan yang datang rata-rata berasal dari Jerman, Australia dan Austria. Mereka sangat suka menyelam," kata Junaidi Kariso, Manager Public Relation di Prince John Dive Resort.
Nah, jika ingin bersnorkeling, cukup merogoh kocek Rp10.000,-. Snorkel bisa kita sewa pula pada penduduk setempat. Harga itu tidak dipatok per jam, tapi per hari. Murah, bukan?
Jika ingin menyelam kita bisa menyewa scuba diving milik Prince John Dive Resort. Dengan harga sekitar dengan Rp338.000,-. Pengelolanya memang memakai kurs Euro, karena wisatawannya rata-rata dari Eropa. Kalau beruntung bisa mendapatkan scuba diving dari penduduk lokal seharga Rp100.000,-.
Kalau kemahalan cukup snorkeling saja. Tuwo, perempuan penduduk lokal berusia 40 tahun menyewakan snorkelnya Rp10.000 per hari.
Mau snorkeling? Yuk! Wow, ternyata memang luar biasa indah. Hanya selangkah dari bibir pantai dan masih dari atas permukaan kita sudah dapat menikmati indahnya terumbu karang dan ikan hias yang menari-nari di atas dan di sela-sela karang.
"Di sini asyik sekali. Ada karang warna-warni dan ikan yang cantik-cantik," tutur Muhammad Nizam, anak berusia 9 tahun yang dipandu ibunya bersnorkeling.
Bagi wisatawan asal Jerman, Hillmart, ia memilih Tanjung Karang lantaran belum tertalu ramai dan masih alami. "Di sini sangat tenang, belum banyak orang. Jadi saya pilih di sini melewatkan akhir pekan," kata dia.
Rasa-rasanya setelah puas bermain-main di Tanjung Karang, sekarang waktunya makan. Tentu saja, menunya adalah Kaledo atau biasa orang menyebutkan kaki lembu Donggala. Ya, karena memang bahan utamanya adalah kaki lembu.
Ada anekdot dari seorang kawan, katanya, suatu waktu ada pemotongan lembu. Lalu orang Jawa, orang Makassar dan orang Donggala bergiliran mengambil dagingnya. Orang Jawa yang pertama mengambil semua daging lembu, mereka lalu membuat bakso. Lalu yang kedua adalah orang Makassar yang mengambil jeroannya dan kemudian membuat Coto Makassar. Tertinggalah tulang-tulang dan sedikit dagingnya, maka jadilah Kaledo.
Menurut Hajjah Rahma, yang sejak 1970-an berjualan Kaledo, tidak ada makanan seperti ini di daerah lain di Indonesia.
"Ini beda dengan sup daging atau coto Makassar atau Sop Konro. Ini memang pakai kaki lembu utuh," kata Hajjah Rahma.
Kaledo terbuat dari tulang kaki lembu dan dagingnya, dicampur asam Jawa mentah, dengan bumbu cabe rawit, garam dan jeruk nipis. Setelah masak Kaledo seperti sup dengan kaki lembu dan sedikit daging. Jika kurang pedas, kita bisa menambahnya dengan sambal cabe rawit. Agar terasa wangi, bolehlah ditambahkan bawang goreng.
Dalam sehari Hajjah Rahmah menghabiskan 10 kaki lembu, 5 kilogram tulang leher, dan 5 kilo daging. Harganya dijual Rp25.000,- per porsinya.
Mau tahu cara memasaknya? Coba diperhatikan. Awalnya tentu saja daging dan tulang kaki lembu dibersihkan. Lalu jerang air hingga mendidih, setelah itu masukkan daging dan tulang sapi, masak hingga empuk. Lalu buang air rebusan daging dan kaki sapi tadi agar lemaknya tidak bercampur dan jerang lagi air sampai mendidih, lalu daging dan kaki lembu tadi dimasukkan ke jerangan air yang baru itu. Kemudian masukkan garam, cabe rawit hijau, penyedap rasa dan asam jawa. Setelah dagingnya tanak, sajikan panas-panas.
Kaledo bisa dinikmati bersama dengan nasi putih, singkong rebus atau jagung rebus. Tinggal pilih, sesuai selera. Ada banyak warung Kaledo di sepanjang perjalanan dari Palu ke Donggala. Memang tidak semua warung menyediakan makanan ini, karena penjual Kaledo tidak mau mencampurnya dengan makanan lain.
Dari arah Palu kita bisa menemukan warung Kaledo Abadi di Jalan Diponegoro, lalu warung Kaledo Stereo di depan Pantai Taman Ria. Lalu warung Kaledo Megaria di poros Jalan Palu-Donggala di Tumbelaka. Mendekati Kota Donggala, kita akan menemukan warung Kaledo Lolioge, ini dia yang Kaledonya paling yummi. Setidaknya begitu pengakuan banyak penggemarnya.
"Kalau saya rasakan, Kaledo di Lolioge itulah yang paling enak. Rasanya nikmat dan tidak ada lemak yang menempel di dagingnya," aku Junaidi Kariso, Manager Public Relation Prince John Dive Resort.
Cukupkan perjalanan kita menyusuri Kota Donggala dan pernak-perniknya? Jika belum, bisalah disambung lain waktu. Masih banyak keelokan Donggala yang kabarnya tidak tersiar ke luar daerah, seperti pemandian air panas Mantikole, pantai penyu hijau di Pasoso atau air terjun di Wera.
Kapan-kapan jika ada waktu berkunjunglah ke Donggala. Anda bisa pula menyaksikan keindahan alam pegunungan, pantainya dan aktivitas budaya warganya.
Kerajaan Banawa (Donggala) di Sulawesi Tengah
Kerajaan Banawa adalah salah satu kerajaan Melayu yang terdapat di Sulawesi Tengah. Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Donggala Banawa karena lahir di wilayah Donggala. Kerajaan yang berdiri pada medio abad ke-15 Masehi ini terlahir berkat andil tokoh legendaris yang berpetualang dari tanah Bugis, yaitu Sawerigading. Sejak pertama kali didirikan, kerajaan ini mampu mempertahankan eksistensinya hingga era pascakemerdekaan Republik Indonesia. Saat ini, Banawa menjadi wilayah kecamatan yang merupakan ibukota dari Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.
1. Sejarah
Penduduk Donggala adalah percampuran dari berbagai ras dan suku bangsa, hasil persilangan ras Wedoid dan Negroid yang berkembang menjadi suku bangsa baru menyusul datangnya orang-orang Proto-Melayu pada tahun 3000 SM. Aroma Melayu semakin kental ketika pada era 300 SM kaum perantau yang berasal dari ras Deutro-Melayu juga menyambangi Donggala dan tempat-tempat di Sulawesi Tengah lainnya (www.sejarahbangsaindonesia.co.cc). Mayoritas penduduk Kerajaan Banawa adalah orang-orang dari Suku Kaili.
a. Cikal-Bakal Berdirinya Kerajaan Banawa
Pendahulu Kerajaan Banawa adalah suatu perabadan monarki milik Suku Kaili yang bernama Kerajaan Pudjananti atau yang sering juga disebut sebagai Kerajaan Banawa Lama. Kerajaan ini diperkirakan masih eksis pada abad ke-11 hingga 13 M, sezaman dengan Kerajaan Singasari yang dilanjutkan oleh Majapahit. Diperkirakan, Kerajaan Pudjananti mengalami masa kejayaan antara kurun tahun 1220 sampai 1485 M. Kerajaan Pudjananti menjadi salah satu dari tiga kerajaan tua yang terdapat di Sulawesi Tengah, yaitu Kerajaan Banggai (Benggawi) dan Sigi (Jamrin Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Versi legenda, diceritakan bahwa raja yang paling terkenal dalam riwayat Kerajaan Pudjananti bernama Raja Lian. Sang penguasa dikisahkan menikahi seorang wanita dipercaya datang dari alam gaib. Perkawinan ini membuahkan seorang anak perempuan bernama Gonenggati yang memberi Raja Lian tujuh orang cucu, masing-masing enam cucu laki-laki dan satu cucu perempuan. Keenam cucu laki-laki tersebut kemudian menyebar ke daerah-daerah lain, menikah dengan wanita setempat, dan menjadi penguasa di daerah-daerah baru tersebut (http://infokom-sulteng.go.id).
Sesuai namanya, pusat pemerintahan Kerajaan Pudjananti diduga kuat berlokasi di daerah yang bernama Pudjananti atau Ganti. Jarak Pudjananti tidak begitu jauh dari Donggala, yang kelak menjadi ibukota Kerajaan Banawa, hanya sekitar 2 kilometer. Pudjananti merupakan kawasan tua yang sudah lama berpenghuni (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Donggala sudah kesohor sebagai salah satu kota perdagangan yang ramai. Bahkan, Donggala merupakan kota pelabuhan tertua di Sulawesi Tengah (Agustan T. Syam, dalam http://portal.cbn.net.id). Kota pelabuhan ini oleh orang Eropa disebut dengan nama Banava, yang boleh jadi merupakan akar dari kata Banawa (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Ketenaran bandar niaga Donggala sempat disebutkan dalam lembaran naskah catatan perjalanan yang ditulis oleh pengelana dari negeri Cina. Seorang pedagang Eropa, bernama Antonio de Paiva, pada kurun tahun 1542-1543 bertolak ke Donggala dengan maksud untuk mencari kayu cendana. Pada saat itu, wilayah Banawa memang banyak ditumbuhi pohon cendana. Hal tersebut dikuatkan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Dr. Boorsman di mana ia menemukan batang-batang pohon cendana di pegunungan di sekitar Palu dan Donggala (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Penamaan Banawa sebagai kerajaan dimungkinkan juga terkait erat dengan nama kapal yang ditumpangi Sawerigading untuk mengarungi samudera, termasuk mengunjungi Ganti dan Donggala. Sawerigading adalah seorang pangeran dari Kerajaan Luwu Purba, putera dari Sang Raja Batara Lattu. Nama Sawerigading dikenal melalui cerita dan kisah dari epik sastra Bugis yang legendaris, yakni La Galigo (http://id.wikipedia.org).
Di suatu tempat yang tidak jauh dari Ganti dan Donggala, kapal yang ditumpangi rombongan Sawerigading terpaksa berlabuh karena mengalami sedikit kerusakan. Menurut kepercayaan masyarakat lokal di sana, tempat di mana Sawerigading menyangga bahteranya itu lantas dikenal dengan nama Langgalopi yang dalam bahasa Bugis-Donggala berarti “galangan perahu” (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Langgalopi termasuk wilayah kekuasaan milik Kerajaan Pudjananti. Sawerigading kemudian memutuskan untuk mengunjungi kerajaan itu. Bukti bahwa rombongan Sawerigading pernah melalukan pelayaran sampai ke wilayah kekuasaan Kerajaan Pudjananti termaktub dalam Kitab Bahasa Bugis. Dalam kitab itu disebutkan bahwa salah satu daerah jelajah Sawerigading adalah Pudjananti (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Sawerigading sempat berkunjung ke Kerajaan Sigi di Teluk Kaili dan bermaksud menyunting Ratu Ngilinayo, pemimpin Kerajaan Sigi, untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi, pernikahan itu tidak pernah terjadi karena terjadi gempa bumi pada saat pembicaraan pinang-meminang dilangsungkan sehingga rencana tersebut menjadi kacau-balau. Akibat bencana itulah, seperti yang diyakini dalam legenda, perairan Teluk Palu menjadi kering. Orang-orang yang semula berdomisili di pegunungan pun mulai turun dan mendirikan permukiman baru di lembah bekas laut itu serta beranak-pinak hingga sekarang (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Singkat cerita, dari hasil kunjungan ke Kerajaan Pudjananti itu muncul gagasan untuk menikahkan anak lelaki Sawerigading, yakni La Galigo, dengan puteri Kerajaan Pudjananti yang bernama Daeng Malino Karaeng Tompo Ri Pudjananti. Dari perkawinan itu, La Galigo dikarunai dua orang anak, masing-masing laki-laki dan perempuan. Cucu laki-laki Sawerigading diberi nama Lamakarumpa Daeng Pabetta La Mapangandro, yang artinya “pergi menantang, menang, dan akhirnya semua menyembah kepadanya”. Sedangkan anak yang perempuan diberi nama Wettoi Tungki Daeng Tarenreng Masagalae Ri Pudjananti, yang bermakna “bintang tunggal yang diikuti semua orang” (Iin Ainar Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Lamakarumpa Daeng Pabetta La Mapangandro dinikahkan dengan I Badan Tassa Batari Bana, puteri dari kakak Raja Bone. Setelah pernikahan itu, Sawerigading dan La Galigo mulai menggagas pendirian pemerintahan baru sebagai pengganti Kerajaan Pudjananti. Dibuatlah kesepakatan dari raja-raja yang menurunkan darah bangsawan murni kepada kedua mempelai menghadiahkan seluruh wilayah Kerajaan Pudjananti. Sejak saat itu, sebuah pemerintahan hasil afiliasi Bugis dan Kaili dengan nama baru, yaitu Kerajaan Banawa (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
b. Masa Awal dan Eksistensi Kerajaan Banawa
Kerajaan Banawa resmi berdiri di bawah kepemimpinan seorang ratu, yakni I Badan Tassa Batari Bana yang bertahta sejak tahun 1485 hingga 1552 M (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com). Penerus kepemimpinan I Badan Tassa Batari Bana juga seorang perempuan, bernama I Tassa Banawa. Ratu ke-2 Kerajaan Banawa ini memerintah sejak tahun 1552 sampai dengan 1650 M. Pada masa pemerintahan I Tassa Banawa, wilayah kekuasaan Kerajaan Banawa semakin bertambah luas. Selain itu, kabinet I Tassa Banawa juga berhasil merumuskan tata cara atau sistem pemerintahan dan membentuk Dewan Adat Pittunggota atau semacam lembaga legislatif kerajaan (http://infokom-sulteng.go.id).
Masa pemerintahan I Tassa Banawa berakhir pada tahun 1650 M. Penerus I Tassa Banawa adalah cucu perempuannya, yaitu Puteri Intoraya. Ratu ke-3 Kerajaan Banawa ini menikah dengan dengan seorang lelaki bernama La Masanreseng Arung dari Cendana Mandar. Pernikahan pasangan ini dikaruniai empat orang anak, masing-masing dua laki-laki dan dua perempuan, yang diberi nama La Bugia, La Lotako, Puteri Nanggiwa, dan Puteri Nanggiana (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Pada era kepemimpinan Ratu Intoraya, pengaruh Islam mulai masuk ke wilayah Donggala. Penyebaran dan perkembangan ajaran Islam di lingkungan Kerajaan Banawa, dan juga di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, pada medio abad ke-16 M itu dipelopori oleh kerajaan-kerajaan dari Sulawesi Selatan yang sudah terlebih dulu memeluk Islam. Pelopor syiar Islam di kawasan Sulawesi Tengah adalah orang-orang dari Kerajaan Bone dan Wajo (www.sejarahbangsaindonesia.co.cc).
Sejalan dengan itu, Ratu Intoraya pun menjadi penguasa Kerajaan Banawa pertama yang memeluk Islam. Tindakan yang dilakukan oleh Ratu Intoraya dan segenap keluarga Kerajaan Banawa itu membuat sebagian besar rakyat juga turut berbondong-bondong masuk Islam.
Tidak cuma masuknya ajaran Islam saja yang mewarnai dinamika kehidupan Kerajaan Banawa pada masa pemerintahan Ratu Intoraya, melainkan juga pengaruh bangsa-bangsa asing yang datang dari Eropa. Portugis adalah wakil dari kaum Barat pertama yang memasuki wilayah ini, kemudian disusul oleh Spanyol dan Belanda lewat kongsi niaganya yakni Vereniging Oost-indische Compagine (VOC). Namun dalam perkembangan selanjutnya, peta kekuatan di kawasan tersebut berada dalam dominasi pengaruh kompeni Belanda.
Memasuki tahun ke-19 pemerintahan Ratu Intoraya, VOC sudah menjalin mitra niaga dengan sejumlah kerajaan di kawasan Sulawesi Tengah, termasuk dengan Kerajaan Banawa, dan kerajaan-kerajaan Suku Kaili lainnya seperti Kerajaan Tawaeli, Palu, Loli, dan Sigi. VOC mengadakan kontrak penambangan emas dengan masing-masing penguasa kerajaan tersebut (http://infokom-sulteng.go.id).
Belanda menawarkan kepada raja-raja lokal yang bersemayam di wilayah itu untuk pemberian bantuan dalam bidang penanggulangan keamanan. Peluang Belanda terbuka kian lebar karena pada waktu itu wilayah Kerajaan Banawa dan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Tengah sedang rawan kejahatan yang dilakukan oleh gerombolan perompak dari wilayah Mindanao, Filipina, itu seringkali menganggu kawasan perairan di Selat Makassar (www.sejarahbangsaindonesia.co.cc).
Kaum kompeni kian mendapat angin dengan diizinkannya membangun benteng atau loji. Pemerintahan Ratu Intoraya sebagai orang nomor satu di Kerajaan Banawa berakhir pada tahun 1698 M. Putra sulung Ratu Inoraya, yakni La Bugia, naik ke puncak kekuasaan tertinggi kerajaan. Dengan demikian, La Bugia adalah laki-laki pertama yang menempati singgasana Kerajaan Banawa di mana tiga penguasa sebelumnya adalah perempuan. Setelah ditabalkan sebagai raja, La Bugia menyandang gelar kehormatan sebagai La Bugia Pue Uva (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Pada era kepemimpinan Raja La Bugia Pue Uva, kemakmuran warga masyarakat Kerajaan Banawa semakin maju. Bandar niaga Donggala semakin mendapat perhatian dari berbagai kalangan sebagai salah satu sentra jaringan perniagaan di nusantara. Bahkan, saking kondangnya citra Donggala, pada masa pemerintahan Raja La Bugia Pue Uva ini datang gangguan dari bangsa Portugis yang berambisi untuk merebut pelabuhan dagang Donggala sehingga terjadi pertempuran melawan pihak Kerajaan Banawa. Dalam peperangan laut ini, Raja La Bugia Pue Uva berhasil mempertahankan Donggala dari ancaman Portugis (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Periode pemerintahan Raja La Bugia Pue Uva usai pada tahun 1758 M. Sebagai anak pertama, Puteri I Sabida adalah orang yang paling berhak untuk meneruskan tahta ayahandanya. Dengan demikian, Kerajaan Banawa kembali dipimpin oleh seorang perempuan. Ratu I Sabida mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang pejabat kerajaan yang bernama Madika Matua Banawa. Pernikahan ini membuahkan tiga orang putera dan seorang puteri, masing-masing bernama La Bunia, Kalaya, Lauju, dan Puteri I Sandudongie.
Sosok Ratu I Sabida digambarkan sebagai tokoh wanita yang pemberani dan sakti mandraguna. Ia memimpin dengan penuh wibawa, tegas, disegani oleh kawan maupun lawan, dan berhasil membawa Kerajaan Banawa menjadi peradaban yang sejahtera. Selain itu, Ratu I Sabida juga membuka ruang interaksi dengan kaum pedagang asing yang singgah di pelabuhan Donggala dan yang menetap untuk sementara di wilayah Kerajaan Banawa. Pada masa ini, mulai diperkenalkan cara merajut tenun sutra, yang kini dikenal sebagai kain tenun Donggala, oleh para saudagar dari Gujarat (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Dalam urusan pewarisan tahta, Ratu I Sabida tampaknya cenderung memilih Puteri I Sandudongie sebagai calon penerusnya kendati ketiga anaknya yang lain adalah laki-laki, termasuk anak yang paling sulung. Setelah Ratu I Sabida meninggal dunia, puteri bungsunya itulah yang diangkat sebagai pelanjut tahta Kerajaan Banawa. I Sandudongie naik jabatan sebagai ratu pada tahun 1800. Raja perempuan terakhir dalam sejarah Kerajaan Banawa ini menikah dengan Magau Lando Dolo dan memperoleh seorang anak laki-laki yang diberi nama La Sa Banawa (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Pada masa kuasa Ratu Kerajaan Banawa yang ke-6 ini, Belanda juga berhasil memaksa Ratu I Sandudongie untuk menandatangani sejumlah kesepakatan yang tentu saja merugikan pihak Kerajaan Banawa. Kontrak perjanjian yang disodorkan oleh Belanda kepada Ratu I Sandudongie pada tahun 1824, misalnya, memuat isi yang pada intinya semakin menguatkan dominasi Belanda dalam monopoli perdagangan di Donggala. Salah satu keuntungan istimewa yang diperoleh Belanda dengan kontrak tersebut adalah bahwa Belanda diperbolehkan mendirikan Kantor Bea dan Cukai (Doane), beserta macam-macam fasilitas, dengan dalih memperlancar kegiatan ekonominya (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Setelah menjadi ratu selama 45 tahun, Ratu I Sandudongie wafat pada tahun 1845. Putera semata wayangnya, La Sa Banawa, ditetapkan selaku pemimpin Kerajaan Banawa yang berikutnya. Setelah ditahbiskan menjadi raja, La Sa Banawa memperoleh nama kehormatan La Sa Banawa I Sanggalea Dg Paloera dan menyandang gelar adat Mpue Mputi. Penguasa ke-7 Kerajaan Banawa ini mengawini I Palusia dan dikaruniai dua orang anak laki-laki yang diberi nama I Tolare dan La Marauna (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Di era kepemimpinan Raja La Sa Banawa I Sanggalea Dg Paloera, meski masih berada di bawah bayang-bayang pengaruh Belanda, populeritas Donggala kian menjulang. Donggala tidak hanya sebagai kota pelabuhan saja, tetapi juga sebagai kota pelajar, kota perdagangan, kota pemerintahan, kota perjuangan, dan kota budaya yang sering menjadi rujukan dan didatangi oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia. Josep Condrad, pengelana sekaligus penulis berkebangsaan Inggris kelahiran Polandia, menjadikan Donggala sebagai salah satu tempat penjelajahan yang dilakoninya. Selama masa kunjungan ke Kerajaan Banawa sejak tahun 1858, Condrad menjalin persahabatan yang erat dengan Raja La Sa Banawa I Sanggalea Dg Paloera (Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com).
Kepala pemerintahan Kerajaan Banawa yang berikutnya adalah La Makagili yang tidak lain adalah cucu dari Raja La Sa Banawa I Sanggalea Dg Paloera. Penguasa Kerajaan Banawa yang ke-8 ini menduduki puncak singgasana sejak tahun 1888 dengan gelar La Makagili Tomai Doda Pue Nggeu dan dikenal sebagai sosok pemimpin yang paling berani dan gigih melawan penjajah Belanda.
Tepat pada tanggal 23 Juli 1893, pusat pemerintahan Kerajaan Banawa yang selama ini berlokasi di Pudjananti alias Ganti dipindahkan ke Donggala. Penetapan Donggala sebagai ibukota Kerajaan Banawa ini bertahan hingga Kerajaan Banawa bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sementara itu, tahta Raja La Makagili Tomai Doda Pue Nggeu berakhir pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1902 (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com)
c. Kerajaan Banawa pada Era Kemerdekaan RI
Memasuki abad ke-20, pemerintah kolonial Hindia Belanda semakin kuat menancapkan pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan yang terdapat di Sulawesi Tengah, tidak terkecuali Kerajaan Banawa. Kerajaan-kerajaan lokal tersebut telah diikat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan berbagai macam kontrak politik dan ekonomi (http://infokom-sulteng.go.id). Pada periode tahun 1902 hingga 1926, pemimpin Kerajaan Banawa adalah La Marauna dengan gelar La Marauna Pue Totua dan mendapat julukan kehormatan sebagai Mpue Totua (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Pengemban estafet kepemimpinan Kerajaan Banawa yang ke-10 ialah Raja La Gaga Pue Tanamea yang bertahta sejak tahun 1926 sampai dengan tahun 1932. Raja La Gaga Pue Tanamea adalah anak dari kakak kandung Raja La Marauna Pue Totua yang telah menjabat sebelumnya. Setelah Raja La Marauna Pue Totua mangkat, yang diangkat sebagai penggantinya adalah putera keempat almarhum raja, bernama La Ruhana Lamarauna. Pada masa pemerintahan Raja Banawa ke-11 ini, terjadi pertempuran sengit antara Belanda dengan Jepang yang mendarat di wilayah Sulawesi Tengah pada tanggal 15 Mei 1942. Akhirnya, Jepang berhasil mengambil-alih penguasaan wilayah Kerajaan Banawa (www.sejarahbangsaindonesia.co.cc).
Raja La Ruhana Lamarauna harus menjalankan pemerintahannya dengan waspada dan berhati-hati selama era penjajahan Jepang. Pada masa ini, Kerajaan Banawa nyaris tidak memiliki kewenangan dan kekuasaan secara politik lagi dan hanya sekadar menjalani kehidupan sembari menunggu terjadinya perubahan. Harapan itu terwujud ketika pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Raja La Ruhana Lamarauna pun leluasa dapat menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Banawa hingga tutup usia pada tahun 1947 (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Pemangku tahta Kerajaan Banawa yang selanjutnya adalah putera bungsu Raja La Ruhana Lamarauna, bernama La Parenrengi Lamarauna. Selain sebagai pemangku tahta, Raja Banawa ke-12 ini juga berkecimpung di ranah perpolitikan nasional dengan merangkap jabatan sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pertama di Sulawesi Tengah. Suami dari Hajja Sania Tombolotutu ini merupakan raja terakhir Kerajaan Banawa dan memungkasi riwayat hidupnya pada tahun 1986. Raja La Ruhana Lamarauna menghembuskan nafas terakhirnya di Palu (Lawide, dalam http://iinainarlawide.blogspot.com).
Raja La Parenrengi Lamarauna disebut sebagai raja terakhir Kerajaan Banawa karena sejak tanggal 12 Agustus 1952, Donggala ditetapkan sebagai salah satu dari dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, selain Kabupaten Poso (Edi Wicaksono, dalam http://ediwicak.blogspot.com). Status daerah Banawa pun dialihkan menjadi kecamatan dan ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Donggala. Sejak saat itu, kehidupan Banawa selaku pemerintahan kerajaan dinyatakan usai.
2. Silsilah
I Badan Tassa Batari Bana (1485-1552 M).
I Tassa Banawa (1552-1650 M).
I Toraya (1650-1698M).
La Bugia Pue Uva (1698-1758 M).
I Sabida (1758-1800).
I Sandudongie (1800-1845).
La Sa Banawa I Sanggalea Dg Paloera (1845-1888).
La Makagili Tomai Doda Pue Nggeu (1888-1902).
La Marauna Pue Totua (1902-1926).
La Gaga Pue Tanamea (1926-1932).
La Ruhana Lamarauna (1932-1947).
La Parenrengi Lamarauna (1947-1959)
(Abubakar, dalam http://catatanjamrin.blogspot.com; Lawide, http://iinainarlawide.blogspot.com).
3. Sistem Pemerintahan
Kerajaan Banawa mengadopsi sistem pemerintahan yang telah diberlakukan dalam tata cara pemerintahan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Kemiripan pola pengaturan kehidupan di Kerajaan Banawa dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan tersebut terlihat dari bentuk bangunan dan pemakaian gelar kehormatan untuk bangsawan.
Bangunan adat khas Kerajaan Banawa dikenal dengan sebutan baruga yang merupakan lambang kewibawaan dan kekuasaan kerajaan (Marahalim Siagian, dalam www.masagala.co.cc). Sedangkan gelar-gelar kehormatan kerajaan yang dianugerahkan kepada para bangsawan di Kerajaan Banawa juga nyaris persis dengan gelar bangsawan di Sulawesi Selatan, sebut saja pemakaian gelar yang berawalan La, Daeng, Andi, dan sebagainya.
Di samping itu, format dan struktur pemerintahan yang dijalankan di Kerajaan Banawa juga memakai gaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yakni dengan menganut sistem Pitunggota. Pitunggota adalah suatu susunan pemerintahan kerajaan dan lembaga legislatif yang dipimpin oleh seorang Baligau. Keanggotaan Pitunggota terdiri dari tujuh pejabat tinggi kerajaan, termasuk menteri dan pejabat daerah, yaitu antara lain Madika Malolo, Madika Matua, Ponggawa, Tadulako, Galara, Pabicara, dan Sabandara (http://linosidiru.blog.friendster.com).
Madika Malolo adalah sebutan untuk raja muda sebagai wakil dari Raja Banawa dalam mengurusi persoalan-persoalan tertentu. Pengangkatan Madika Malolo dilakukan langsung secara adat oleh raja dan harus mendapat restu dari dewan kerajaan. Madika Matua merupakan jabatan perdana menteri yang merangkap sebagai pejabat urusan luar negeri dan ekonomi. Seorang Madika Matua diangkat dan diberhentikan oleh raja atas persetujuan Baligau. Anggota Pitunggota lainnya yakni Ponggawa atau menteri dalam negeri, Tadulako atau menteri pertahanan dan keamanan, Galara atau menteri kehakiman, Pabicara atau menteri penerangan, dan Sabandara alias menteri perhubungan kelautan (http://infokom-sulteng.go.id).
Tata cara pemerintahan di Kerajaan Banawa juga terdapat dua lembaga tinggi, yakni Libu Nu Maradika (semacam Majelis Permusyawaratan Rakyat) dan Libu Nto Deya (semacam Dewan Permusyawaratan Rakyat). Tugas Libu Nu Maradika adalah mengesahkan penobatan raja terpilih. Sedangkan Libu Nto Deya ialah dewan yang mewakili tujuh penjuru wilayah atau Kota Pitunggota. Bentuk Kota Pitunggota ditetapkan berdasarkan luas wilayah kerajaan yang memiliki perwakilan Soki (kampung). Selain itu, dalam tradisi Kerajaan Banawa dikenal tingkat penggolongan strata sosial masyarakat, antara lain yaitu Madika/Maradika (kaum raja dan bangsawan), Totua Nungata (keturunan tokoh-tokoh masyarakat), To Dea (rakyat biasa), dan Batua yang merupakan kasta hamba atau budak (http://id.wikipedia.org).
4. Wilayah Kekuasaan
Sejak era pemerintahan Raja La Sabanawa I Sanggalea Dg Paloera (1845-1888) hingga Raja La Ruhana Lamarauna (1932-1947), Kerajaan Banawa memiliki luas wilayah sekitar 460.000 hektare yang terbagi atas tiga daerah. Pertama adalah kawasan Banawa Selatan yang memiliki area wilayah dari Loli Watusampu sampai Surumana yang berbatasan dengan daerah Mamuju. Berikutnya adalah kawasan Banawa Tengah yang membentang dari Pantoloan sampai Sindue. Bagian ketiga adalah kawasan Banawa Utara dengan cakupan daerah yang terhampar dari Balaesang hingga Dampelas Sojol, termasuk Pulau Pasoso dan Pangalasing (Lawide, http://iinainarlawide.blogspot.com).
Daerah-daerah yang dahulu termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Banawa pada masa sekarang menjadi desa-desa yang bernaung di wilayah administratif Kecamatan Banawa. Daerah-daerah itu meliputi Ganti, Bambarimi, Boneoge, Boya, Gunling Bale, Kabonga Besar, Kabonga Kecil, Kola-Kola, Labuanbajo, Lalombi, Limboro, Lolioge, Lolitasiburi, Lumbudolo, Lumbumarara, Maleni, Mbuwu, Powelliwa, Salengkaenu, Salubomba, Salumpaku, Surlimana, Tanahmea, Tanjung Batu, Tolongano, Tosale, Towale, dan Watatu (http://id.wikipedia.org).
(Iswara N. Raditya/Ker/021/10-2010)
Langganan:
Komentar (Atom)