Senin, 06 Mei 2013
Geso-geso: Musik Eksotik Tau Taa Wana
Musik ibarat lukisan, ia melukiskan jiwa dan perasaan orang yang memainkannya. Ia bisa bercerita tentang alam, cinta, kerinduan bahkan duka cita. Hal ini berlaku pula bagi Tau Taa Wana, salah satu komunitas adat di Sulawesi Tengah yang mendiami kawasan pegunungan Balingara. Musik adalah keseharian mereka, saat acara ritual panen, ritual pengobatan, duka hingga saat melepas penat di tengah ladang, musik selalu menyertai di tiap denyut kehidupan Tau Taa Wana.
Setidaknya demikian gambaran yang saya peroleh saat mengunjungi pemukiman mereka, Tak heran bila di komunitas ini kita bisa menjumpai beragam jenis alat musik tradisional, satu diantaranya adalah Geso-geso, alat musik gesek sejenis biola ini mampu menghasilkan kombinasi nada yang sangat indah. Alunan nada mendayu-dayu yang dihasilkan alat ini sangat eksotik dan bernuansa ritual, sehingga mampu membuat terhanyut perasaan orang yang mendengarnya.
Selain nada yang dikeluarkannya, bentuk alat musik ini juga sangat unik. Geso-geso terbuat dari kayu khusus yang kuat dan keras, ditambah tempurung yang dilapisi dengan kulit binatang sebagai membran pengeras bunyi menjadikan bentuk alat musik ini sangat estetis, alat geseknya terbuat dari serat kayu atau ijuk yang diikatkan pada sebilah kayu atau rotan. Karenanya, bagi saya selain sebagai alat musik geso juga berpotensi dijadikan sebagai souvenir atau pajangan.
Alat musik ini, selain dimainkan secara solo juga dapat dimainkan secara bersama (orchestra) dengan alat music lainnya, bahkan untuk kebutuhan pementasan yang menggunakan soundsistem bervoltase besar ia bisa dilengkapi dengan spul yang dilekatkan pada pada batang utama untuk dihubungkan dengan amplifier.
Pada kesempatan berkunjung Desember tahun lalu, saya bersyukur bisa bertemu dengan Apa Ijeng, salah seorang yang mahir dalam memainkan gesso, tak hanya itu ia juga dikenal sebagai salah satu pembuat gesso terbaik di komunitasnya, isterinya (Indo Ijeng) juga dikenal terampil memainkan berbagai alat musik tradisi termasuk geso. Mendengarkannya memainkan gesso dengan penuh perasaan adalah suatu moment yang sangat istimewa.
Keterampilan istimewa yang dimiliknya, memainkan sekaligus memproduksi gesso berkualitas merupakan sebuah keahilan yang mulai langka, karenanya ia terus berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi dengan mengajarkan cara memainkan sekaligus memproduksi alatnya kepada generasi muda, kecintaannya yang begitu besar terhadap pelestarian seni tradisi pula yang membuat, ia kerap harus meninggalkan kampungnya untuk mementaskan pertunjukan seni tradisi Tau Taa Wana di berbagai event.
Saat menemuinya di pondoknya di tengah ladang, terlihat beberapa geso-geso tergantung di dinding, baginya geso-geso dan alat musik tradisi adalah bagian dari kebudayaan Tau Taa Wana yang mesti diwariskan kepada anak cucu, identitas budaya dan kehidupan tau Taa Wana yang hidup harmoni dengan alam. Semoga geso akan terus mengumandangkan senandung kadamaian dan harmoni kehidupan mereka sepanjang zaman.
http://edywicaksono.info/index.php?option=com_content&view=article&id=75:geso-geso-musik-eksotik-tau-taa-wana&catid=36:feature&Itemid=55
Pendidikan di Pedalaman Balingara Kab. Banggai-Sulteng
Balingara. 52 Kilometer dari ibukota kecamatan ini, perjalanan ke ujung barat kabupaten Banggai. Pantai yang terlihat memanjang, juga tebing-tebing curam di Batu Hitam. Raksasa batu di sisi kiri, begitu kokoh dan angkuh. Gunung Lontio, patahan raksasa yang menyimpan misteri. Puncak JuluTompu. Tanjung Kopinyo yang ramai dengan rumah nelayan dibesut rawa bakau. Hingga tugu bertuliskan “selamat Jalan Kabupaten Banggai”. Tugu yang dilepas dengan patung penari Umapos dan Mangonyop. Batas itu adalah kuala Balingara.
Dari jalan poros Luwuk-Palu KM 180, kendaraan kami haluan ke
kiri. Melewati tepi kuala, menuju pegunungan Balingara. Jalan berbatu yang sering
dibelah oleh sungai-sungai kering. Hutan-hutan yang lebat, jalanan yang berliku
tajam penuh tanjakan sepanjang 42 KM. Dari 0 mdpl Balingara menuju desa
transisi 180 mdpl. Sampai di desa yang baru saja mekar, bernama Obo.
Obo,26-27 April 2013
Obo, nama seorang pengembara yang singgah di tempat ini
puluhan tahun yang lalu. Nama itu digunakan untuk menyebut sebuah daerah yang
ada dalam transisi saat ini. Desa transisi antara Balingara (Banggai) dan desa
Bulan (Ampana). Desa Transisi antara suku Saluan Loinang dan Suku Ta. Desa
Transisi antara Petani tetap dan Petani Ladang berpindah. Desa transisi
kehidupan manusia Maden dan Nomaden. Desa Transisi antara ajaran Haripuru ke
agama Samawi.
Desa ini memiliki 60 KK, hanya 10 KK yang rumahnya berkumpul
dalam jarak dekat. Selebihnya jarak antar rumah 2-5 kilometer antar rumah. Desa
yang dikelilingi bukit Batu Tanda, bukit yang menyimpan folklore pertemuan
orang-orang yang singgah di pertemuan dua kuala.
Kabut-kabut yang pekat mengelilingi lembah ini. Pagi-pagi
kabut yang mengantar anak-anak ke sekolah dengan kaki telanjang. Mereka
berjalan berjalan lebih dari 3 mil, mencapai sebuah sekolah yang halamannya
penuh rumput. Halaman yang hanya ditumbuhi satu pohon kelapa dan satu tiang
bendera yang terbuat dari sebatang ranting lurus. SD yang diampu oleh 2 guru,
hanya ada satu unit kelas.SD yang tidak bisa meluluskan siswanya karena banyak
syarat yang belum dipenuhi. Tidak ada SD inti yang menampung siswa yang lepas
dari kelas 5. Kami datang mengenalkan Indonesia di tanah ini, Indonesia. Papan
tulis yang tua, debu-debu kapur yang kami goreskan membentuk tatanan kepulauan.
“ kita sekarang berada di pulau K, pulau Sulawesi “
Keakraban ditambah dengan perkenalan, hampir semua yang
berkenalan mengungkapkan cita-cita mereka sebagai Tentara dan Guru. Apa yang
mereka lihat pagi itu, itulah cita-cita mereka. Hingga ada satu anak yang maju
ke depan kelas, rambutnya ikal kulitnya coklat pekat.
“ perkenalkan nama saya Alferd, saya kelas tiga. Cita-cita
saya ingin naik kelas empat “
Semua tertawa, lahir kami tertawa tetapi hati berkata lain.
Semangat untuk naik kelas yang begitu hebat, kurangnya pengajar, kurangnya
fasilitas dan tuntutan ujian yang setara dengan keberadaan anak-anak di tanah
Jawa. Tanda tanya
“Depe desa singada poskesdes, Polindes ato Juru Rawat.”
Pelayanan kesehatan begitu jauh dan sulit didapatkan. Kalau harus turun
membutuhkan 28 KM kalau naik ke Longgek 18 KM, jalannya hanya susunan batu
kuala.
Desa tanpa listrik, tanpa sinyal layanan selluler. Rumah
Sekdes menjadi sentral pertemuan masyarakat, karena hanya ditempat itu ada
Genset untuk pembangkit listrik. Masyarakat sekedar berkumpul, bersendau gurau
sampai membicarakan hal penting.
Keterbatasan di perbatasan Balingara.
Sebuah danau yang mereka sebut “ Rano” dalam bahasa Ta.
Mirip dengan bahasa sansekerta yang menyebut “ Ranu” yang berarti telaga. Rano
yang dipenuhi dengan teratai, dikelilingi ingerhous, ilalang, Pinus udang dan
tumbuhan hutan. Rano yang menyajikan ikan Mujair dan Gabus bagi masyarakat Obo,
sekedar sebagai lauk makanan. Ada lagi tentang sebuah danau yang disebut Rano
Sembilan Tanjung, lekukan yang menjorok ke danau sebagai hulu sungai Balingara.
Kisah mistik akan adanya buaya air tawar yang ada disana, konon mencapai 5
depa.
Kisah Batu Putih, sebuah batu yang diceritakan sebagai kapal
yang terdampar di atas gunung seperti epos Gilgamesh dan Nabi Nuh. Goa yang ada
di dalamnya menyimpan kerangka manusia.Dari Bulutui dan Rotan hutan mereka
hidup. Jagung di sekitar delta tampak rimbun dan subur. Ladang-ladang yang baru
dibuka.
Saluan-Loinang yang kehilangan Family
Desa perbatasan yang ditempati oleh masyarakat Loinang
Simpang, yang tersebar karena serangan Belanda. Politik monopoli manusia,
Belanda mengharapkan agar semua orang pedalaman turun ke tepian pantai.
Penolakan terjadi hingga Belanda mengirimkan satu peleton pasukan untuk
menyerang Benteng Baloa-Doda. Masyarakat Loinang kocar-kacir menyebar keseluruh
penjuru pegunungan, ada pula yang hadir di perbatasan ini.
Mereka kehilangan fams, saat ini nama mereka diambil dari
apa yang mereka dengar. Nama Gergaji, Tank, Jepang, Pulpen, Suharto dll.
Seorang tetua adat bernama Gergaji mengantarkan kami kepada pengetahuan ajaran
bernama Haripuru.
Pendidikan melalui ajaran leluhur
Haripuru adalah ajaran kuno masyarakat pedalaman dimana
mereka percaya bahwa :
kekuatan tertinggi ada pada Tuhan Yang Maha Esa atau Tompu
atau Anui-Langga. Di bawah Tompu mereka percaya pada Nabi (tanpa mereka tahu
nama nabi), lalu percaya kepada arwah leluhur atau Tominuat. Lalu kepada
manusia yang kerasukan Tominuat yang disebut Buhake. Masyarakat Saluan di Desa
Obo mempercayai adanya tanda alam atau Hambolo. Tanda-tanda ini yang esensinya
masih terjaga sampai sekarang adalah mendengarkan tanda-tanda dari kicauan
burung atau mongkoek. Burung yang menjadi tanda adalah burung Kukau (tekukur malam).
Mohondahabit adalah proses doa yang mereka naikkan kepada
Tominuat dengan Pomangan (sesaji) berupa ; Popos (pinang), hampak (sirih),
talon (kapur) dan sosop (rokok). Mereka percaya bahwa doa yang disampaikan
kepada Tominuat akan diteruskan kepada Nabi lalu kepada Tompu. lalu Tompu
memberi jawaban melalui suara burung. Proses mendengar jawaban itu disebut
Pihongo. Berikut ini tafsir suara kicau berdasarkan jumlah :
1 kali : ada tamu pejabat (utus daka)
2 kali : ada tamu
3 kali : aba-aba musibah / bahaya
4 kali : baik
5 kali : ada rejeki
6 kali : ada tamu
7 kali : umur panjang / kesembuhan jika sedang berobat
8 kali : pejabat besar datang
Pengecualian
7 kali lalu disusul suara “kiii..” : pertanda buruk, terjadi
pertumpahan darah.
“Burung Totoidi juga berbunyi sebagai tanda menjelang pagi
dan petang. Bahkan sebelum Utus Daka datang ke sini, kami sudah diberitahu
beberapa hari sebelumnya. Kami mendengar suara burung berbunyi delapan kali”
ucap seorang translator mengulangi kata-kata pak Gergaji.
Kehidupan Nomaden masih melekat di dalam kehidupan mereka.
Setiap ada anggota keluarga yang meninggal mereka selalu berpindah tempat.
Mayat dibungkus dengan kulit kayu Andolia (Cempaka) baru dikuburkan. Untuk
penanda di atas kuburnya diletakkan sebuah kayu berbentuk silinder (di Lobu
berbentuk perahu, dimungkinkan perbedaan budaya gunung dan pantai).
“ Dahulu kami selalu meninggalkan rumah dan pekarangan jika
ada salah satu dari anggota keluarga yang meninggal. Karena kami takut, jika
arwah yang mati mengajak kami menemaninya di alam kubur “
Angin lembah berhembus di celah-celah Laigan Pangkat, di
balik embun pagi yang menetes lentik di ujung daun Enau. Daun yang digunakan
untuk membungkus tembakau sosop, mereka menyebutnya Gau. Etika anak tangga yang
terbuat dari kayu gelondongan dipecak sebagai simbol ada tidaknya tuan rumah.
Desa tinggal orang Loinang pedalaman yang sangat taat dan
santun. Pelajaran yang menarik tentang kesetiaan suami-istri orang Loinang.
Ketika hukum adat berkata “mati” bagi setiap orang yang bertindak serong.
Monogami sampai mati.
Madu murni menjadi sebuah kenikmatan hasil hutan. Pengembara
yang menuju peradaban.
Sistem berpindah ladang setelah tiga kali tanam, mereka
membuka hutan baru. Lima sampai sepuluh tahun kemudian, mereka kembali ke tanah
semula.
Permainan Pili-pili (baling-baling) dan Patengkang (egrang)
begitu lekat di hati.
“Humatok kami menyebutnya sebagai sebuah sistem gotong
royong. Dalam membuka lahan, pesta perkawinan atau orang meninggal. “
Mereka berkumpul bakubantu. Kerukunan yang tertanam sejak
jaman dahulu masih terjaga hingga kini.
Inilah Indonesia.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/02/pendidikan-di-pedalaman-balingara-kabluwuk-sulteng-556828.html
http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/02/pendidikan-di-pedalaman-balingara-kabluwuk-sulteng-556828.html
Minggu, 17 Maret 2013
Objek Taman Wisata Alam Bancea, Poso SULTENG
TWA Bancea adalah Taman Wisata Alam yang terletak di Desa Bancea, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah.
TWA Bancea merupakan kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.
TWA Bancea memiliki beberapa kawasan yang dapat dijadikan sebagai objek-objek wisata alam yang sangat menarik. Beberapa objek wisata tersebut adalah sebagai berikut:
1. Danau Poso
Sebagian besar kawasan TWA Bancea merupakan wilayah perairan bagian dari Danau Poso, yaitu Tanjung Bancea. Daerah Perairan kawasan TWA ini memiliki air tawar yang jernih, sejuk dan tenang sehingga banyak menarik pengunjung untuk berenang atau mandi. Selain itu di Danau Poso pengunjung dapat menikmati pemandangan alam di sekitar Danau Poso dengan menggunakan sampan atau rakit, disamping itu dapat pula melakukan kegiatan memancing ikan air tawar.
2. Pesisir danau Poso
Kawasan TWA Bancea juga memiliki wilayah pesisir/ bibir pantai dari Danau Poso yang sangat indah karena memiliki pasir putih yang unik dan bersih juga pemandangan alamnya yang indah. Daerah ini merupakan daerah yang sering dikunjungi wisatawan untuk rekreasi. Kegiatan wisata alam yang dapat dilaksanakan di sini antara lain berenang/mandi, berjemur di pantai, menikmati pemandangan alam yang indah, berkemah dan pengamatan flora fauna terutama jenis anggrek alam dan kondisi medannya cukup mudah untuk dilalui pengunjung.
3. Wilayah Daratan Kawasan
Daerah ini terletak di bagian barat kawasan, merupakan daerah yang berhutan yang memiliki potensi flora fauna yang tinggi. Biasanya pengunjung memanfaatkan daerah ini hanya untuk lintas alam dan wisata ilmiah untuk kegiatan penelitian/pengamatan flora fauna. Di daerah ini sering dijumpai fauna endemik seperti anoa, burrung Allo, tarsius, dan rusa. Selain itu anda dapat menikmati anggrek-anggrek yang tumbuh alami di TWA Bancea melalui trekking yang mendaki.
4. Taman Anggrek
Taman anggrek ini berada di pesisir Danau Poso. Dapat ditempuh melalui jalur air maupun jalur darat dari Desa Bancea. Di Taman Anggrek ini pengunjung dapat menikmati keindahan jenis-jenis anggrek alami yang dikoleksi dari kawasan TWA Bancea. Taman Anggrek ini dibangun sekitar tahun 1980an oleh Biro Kependudukan dan Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Sub Balai KSDA pada saat itu. Maksud dari pembangunan Taman anggrek ini antara lain untuk mempermudah pengunjung menikmati jenis-jenis anggrek alam yang terdapat di TWA Bancea tanpa harus berjalan dan mencari di kawasan hutan TWA Bancea.
5. Air Terjun
Di TWA Bancea terdapat dua buah air terjun, yaitu air terjun Limba Ata dan air terjun Batu Marato. Air terjun Limba Ata ini bermuara ke sungai Limba Ata yang selanjutnya nke Danau Poso. Lokasi air terjun ini sekitar 5 Km dari jalan raya, kondisi jalan menanjak sekitar 300 m dpl. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m. Air Terjun Batu Marato bermuara ke sungai Batu Ata, selanjutnya bermuara ke Danau Poso. Lokasi air terjun berjarak ± 1 km dari jalan raya, melewati nperkebunan rakyat dan kondisi jalan menanjak 200 m. Tinggi air terjun ini sekitar 50 m.
Secara admiinistratif TWA Bancea terletak di 3 (tiga) desa yaitu dua wilayah Desa Bancea dan Desa Panjo di Kecamatan Pamona Selatan, serta Desa Taipa di Kecamatan Pamona Barat Kabupaten Poso – Sulawesi Tengah.
TWA Bancea di tetapkan berdasarkan SK MenHutBun Nomor : 272/Kpts-II/1999, tanggal 7 Mei 1999 dengan luas kawasan ± 5.000 Ha dengan potensi wisata berupa danau, padang mariri, taman anggrek dan lain-lainnya.
Vegetasi yang sering di temukan di TWA Bancea antara lain Jongi (Dillenia Celebica), Lebanu (Neonauclea Celebica), Jabon (Anthocephalus Cadamba), Betau (Calophyllum sp), Nyatoh (Palaquium Obtusifolium), Benoang (Octomeles Sumatrana), Beringin (Ficus Benjamina), Laro (Metrosideros Petiolata), Kase/Kasek (Pometia Pinnata), Kayu Kacang, Paku-pakuan dan beraneka ragam jenis anggrek.
Potensi Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di TWA Bancea yang ditawarkan adalah
Tanjung Bancea;
Pesisir Danau Poso;
Wilayah Daratan Kawasan;
Taman Anggrek;
Air Terjun Limba Ata dan Watu Marato; dan
Padang Rumput Marari.
Atraksi Wisata yang dapat pengunjung lakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
Berenang dan Berjemur
Berperahu
Pengamatan Burung ( Bird Watching )
Pengamatan Anggrek
Menelusuri Hutan ( Jungle Tracking )
Berkemah
Wisata Ilmiah ( Penelitian dan Pengembangan )
Photografi
Panorama Sunrise, dan
Objek Wisata Pendukung
Referensi: Panduan Kegiatan Wisata Di Taman Wisata Alam Bancea.
Selasa, 12 Maret 2013
Cacing cumi misterius dari Sulawesi
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan makhluk misterius di kedalaman perairan antara Sulawesi dan Filipina. Makhluk tersebut memiliki tubuh sepanjang 9,4 sentimeter dan menyerupai cacing dan cumi-cumi sehingga para ilmuwan menamainya squidworm atau cacing cumi.
Cacing cumi itu memiliki sepuluh tentakel yang panjang, menyeruak dari kepalanya. Selain itu, ia juga memiliki enam organ yang disebut nuchal yang memungkinkannya untuk mengecap rasa dan membaui sesuatu di dalam air.
Makhluk misterius itu ditemukan oleh tiga ahli biologi laut yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Scripps Institution of Oceanography in California, pada saat melakukan penjelajahan di Laut Sulawesi pada kedalaman 2,8 kilometer. Observasi mereka menggunakan kapal penjelajah yang dikendalikan dari jarak jauh. "Hewan ini sangat menggoda sebab sangat berbeda dengan ciri-ciri hewan yang telah dideskripsikan sebelumnya," ungkap Osborn dengan antusias.
Cacing cumi yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut hidup pada kedalaman 100-200 meter di atas dasar laut. Rentang kedalaman itu diketahui merupakan wilayah yang kaya akan spesies yang belum teridentifikasi.
Cacing cumi yang baru ditemukan itu diberi nama ilmiah Teuthidodrilus samae. Spesies tersebut dikatakan bukan merupakan predator. Mereka memakan campuran tumbuhan dan hewan mikro laut yang tenggelam di kedalaman.
Laut Sulawesi tempat spesies ini ditemukan merupakan wilayah yang terisolasi dari perairan di sekitarnya. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dalam kawasan konservasi yang memiliki beranekaragam bentuk kehidupan dan sejarah geologi yang unik. "Ketika saya mengeksplorasi wilayah tersebut, saya memperkirakan ada lebih dari setengah jumlah hewan yang kita lihat merupakan spesies yang belum teridentifikasi," lanjut Osborn.
Karena sifat-sifat cacing cumi tersebut sangat berbeda dari bentuk kehidupan yang lain, para ilmuwan tidak hanya menggolongkannya sebagai spesies baru, tetapi juga genus baru--tingkatan taksonomi di atas spesies. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters baru-baru ini.
Teks oleh Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com
Rio Pakava, Anak Tiri Sulteng di Tengah Sulbar
Ditulis oleh Rahmat Azis
Wilayah terpencil di Kabupaten Donggala itu memang lebih
dikenal dengan nama Lalundu ketimbang Rio Pakava. Padahal, Lalundu adalah nama
lama dari kawasan yang kini menjadi Kecamatan Rio Pakava. Dulu, areal
penempatan transmigran asal Jawa, Bali dan Lombok ini disebut Lalundu, yang
terdiri dari enam UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi). Wilayah yang berbatasan
langsung dengan Sulbar ini merupakan wilayah Kecamatan Dolo, Kabupaten
Donggala. Namun, pada tahun 2000, dimekarkan menjadi Kecamatan Rio Pakava.
Selain transmigran asal luar Sulawesi, wilayah seluas 17.014,14 kilometer
persegi ini juga dihuni oleh etnis Bugis dari Sulawesi Selatan dan juga
sebagian kecil etnis Kaili yang tersebar di 14 desa dengan ibukotanya di Desa
Lalundu Utama.
Wilayah berpenduduk 22.228 jiwa yang terdiri dari 5.324 KK
(kepala keluarga) ini memang terpencil. Berada di pedalaman, Rio Pakava
terkepung wilayah Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar di sebelah barat,
selatan, dan tenggara. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Pasangkayu,
Kecamatan Tike dan Kecamatan Baras di Sulbar. Sementara kecamatan di wilayah
Sulteng yang berbatasan dengan Rio Pakava adalah Kecamatan Dolo Selatan,
Kecamatan Pinambani, Kecamatan Pipikoro dan Kecamatan Kulawi yang masuk
Kabupaten Sigi.
Sepanjang perjalanan, tapal batas antara kedua provinsi ini
tidak begitu diketahui karena tidak adanya gerbang yang menandakannya. Untuk
mengenali wilayah Sulteng atau Sulbar, hanya berdasarkan pengamatan pada baliho
caleg peserta Pemilu 2009 yang mencantumkan daerah pemilihan (dapil). Di dalam
areal sawit di Kecamatan Pasangkayu yang dekat dengan Rio Pakava, wilayah
Sulteng dan Sulbar justru tidak bisa dipastikan.
Keadaan alam yang tidak menguntungkan inilah yang membuat
akses penduduk Rio Pakava ke ibukota Kabupaten Donggala di Banawa memang
menjadi sulit. Keterpencilan itu disebabkan tidak ada jalan lain yang bisa
dilalui untuk bisa langsung ke kecamatan lain di Kabupaten Donggala. Pasalnya,
wilayah ini dibentengi rangkaian Pegunungan Gawalise yang menjulang tinggi.
Padahal, penduduk Rio Pakava dan empat kecamatan di
Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar tersebut lebih memilih membawa hasil
buminya seperti kakao, beras, jagung dan sayuran ke Donggala di Kecamatan
Banawa yang lebih dekat. Untuk mencapai Donggala, penduduk Rio Pakava selain
harus melintasi empat kecamatan di Provinsi Sulbar, juga harus melintasi
Kecamatan Banawa Selatan dan Banawa Tengah.
Karena harus melintasi Provinsi Sulbar, maka penduduk Rio Pakava
sering terkena tarikan retribusi di jalan raya yang biayanya tinggi. Agar bebas
dari pungutan, masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor harus mengantongi
surat jalan terlebih dulu dari Rio Pakava. Surat ini hanya berlaku untuk satu
kali perjalanan. Jika tidak, mereka harus membayar pungutan sebesar Rp 50 ribu
di perbatasan wilayah yang dilakukan oleh petugas dari Sulbar. Dan saat kembali
ke Rio Pakava pun mereka harus mengantongi surat jalan dari Donggala jika tidak
ingin dikenai pungutan lagi karena perbedaan pelat nomor kendaraan.
Karena terpencil di pedalaman itulah yang menyebabkan
wilayah ini kurang mendapat perhatian Pemerintah. Akibatnya, kecamatan ini
minim fasilitas. Jangankan jaringan telekomunikasi, listrik dari PT. PLN pun
belum masuk ke Rio Pakava.
Untuk listrik, saat ini penduduk hanya mengandalkan genset
dengan daya 3 kilowatt yang hanya dinyalakan sejak pukul 18.00 sampai pukul
23.00. Satu mesin genset ini rata-rata mampu menerangi 10 rumah tangga dengan
menghabiskan solar hingga 5 liter.
Rugi Lewat Toboli Tanpa Mampir Ke Raja Lalampa
Palu (antarasulteng.com) - Halaman warung sederhana itu
nyaris tak pernah sepi sepanjang hari 1x24 jam, meskipun asap dari tempat
pemanggangan terus mengepul.
Parkiran mobil baik pribadi, dinas maupun bis angkutan umum
dan sepeda motor selalu memadati halaman depannya, sehingga tak jarang membuat
arus lalu lintas di poros jalan Trans Sulawesi itu terganggu.
"Sayang om lewat di sini kalau tak mampir ke warung
ini," kata Jefri, pengemudi mobil sewaan (rental) yang membawa penulis
dari Palu ke Morowali belum lama ini.
Warung yang ia maksud adalah kedai kopi 'Raja Lalampa Cik
Sungi' di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong,
sekitar 70 km arah timur Kota Palu.
Daya tarik utama kedai ini adalah lalampa buah tangan Cik
Sungi, seorang ibu keturunan Tionghoa berusia setengah abad lebih.
Untuk menikmati lalampa, kedai ini juga menyediakan minuman
hangat seperti kopi dan teh serta sarabba (air jahe hangat cmapur telor dan
susu-sematam STMJ di Jakarta)
Kebanyakan pengunjung menilai lalampa Cik Sungi ini enak dan
gurih, bahkan tidak sedikit yang 'fanatik' sehingga tak pernah lewat begitu
saja tanpa singgah ke kedai ini bila melintas di Toboli.
"Saya ini tiap minggu lewat Toboli karena bekerja di
Pantai Timur. Warung ini sudah menjadi langganan saya, baik saat melintas dari
Palu ke tempat kerja maupun saat kembali ke Palu di akhir pekan," kata
salah seorang karyawan perusahaan kontraktor yang sedang menyeruput kopi susu
dan sepiring lalampa panas berisi empat bungkus di kedai itu.
Lalampa adalah semacam kue yang bahan utamanya adalah beras
ketan putih dan ikan bakar yang digiling halus lalu ditumis dengan bumbu
tertentu.
Menurut Cik Sungi, beras ketan itu lebih dahulu dikukus
sampai matang lalu dibungkus dengan daun pisang berbentuk gelondong dicampur
ikan yang dihaluskan dan ditumis lalu kedua ujungnya ditusuk dengan lidi.
Sebelum disajikan, bungkusan itu dipanggang selama sekitar
lima menit agar konsumennya bisa menikmatinya dalam keadaan hangat.
"Di desa Toboli ini ada beberapa warung kopi yang
menyediakan lalampa, namun lalampa buatan Cik Sungi lain rasanya, lebih lengket
di lidah," ujar Jhon, seorang penggemar lalampa Cik Sungi.
Saking gemarnya terhadap lalampa ini, Jhon yang warga Kota
Palu itu sering menyempatkan diri ke Toboli hanya untuk minum kopi dan makan
lalampa sambil membawa pulang untuk ole-ole keluarga dan sahabat.
Rahasia
Ketika ditanya apa rahasianya sehingga lalampa buatannya
memikat banyak oprang dibanding warung-warung di tetangganya, Cik Sungi
menjawab kontan dan singkat: 'itu rahasia pak."
Karena kerahasiaan itu pula, Cik Sungi mengaku tidak membuka
cabang di manapun meski sudah banyak yang memintanya membuka cabang di Kota
Palu atau Parigi.
Ia mengakui bahwa ikan yang dihaluskan yang dicampur ke
dalam bungkusan nasi ketan putih itu volumenya lebih banyak dibanding lalampa
buatan orang lain, namun bagaimana meramu beras ketan putih dan ikan halus saat
ditumis itu, ia menolak mengungkapkannya.
Cik Sungi yang mengaku mempekerjakan 10 orang tenaga kerja
itu mengaku bahwa usaha yang digelutinya ini merupakan warisan orang tua yang
sudah dimulai sejak 1963.
Setiap hari ia menghabiskan 100 kg beras ketan putih dan
puluhan kilo ikan laut serta daun pisang dalam jumlah yang cukup banyak.
Produksi dan pelayanan lalampa ini berlangsung selama 1x24 jam, dengan mengatur
jam kerja karyawan.
Ia sendiri dan suaminya dibantu seorang keponakan bergantian
menjadi pengawas sekaligus pelayan.
Meski usaha ini sudah berlangsung lama, namun ramainya
pengunjung baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
"Setiap hari kami bisa menjual 5.000 bungkus. Harganya
Rp1.250,00/bungkus. Jadi omzet kami rata-rata mencapai Rp7,5 juta termasuk
hasil penjualan minuman hangat," ujar Cik Sungi.
Pengunjung warung kopi 'Raja Lalampa' ini mencapai ratusan
orang tiap hari, umumnya mereka yang sedang melakukan perjalanan melintasi
jalan trans Sulawesi, terutama yang akan masuk ke atau keluar dari Kota Palu,
Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Lokasi Desa Toboli ini memang cukup strategis karena
terletak di pertigaan jalan trans Sulawesi yang menghubungkan
Makassar-Gorontalo-Manado dan poros utama menuju Kota Palu yang terletak di
Pantai Barat Sulawesi Tengah.
Karena itu, kedai 'Raja Lalampa' ini sangat dikenal di
Sulawesi Tengah termasuk para pejabat dan pengusaha, bahkan Gubernur Sulawesi
Tengah Longki Djanggola yang mantan Bupati Parigi-Moutong duia periode tersebut
menjadikan lalampa Cik Sungi sebagai salah satu sajian wajib di dalam mobil
bila melintas di Toboli saat melakukan perjalanan dinas. (R007)
Minggu, 10 Maret 2013
Wisata Selam Donggala Tak Kalah Cantik, Terkenal Sampai Eropa
REPUBLIKA.CO.ID,PALU--Wisata menyelam di kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sangat terkenal di kalangan para pecinta olahraga selam di Eropa. Indikasi itu terlihat dari frekuensi kunjungan mereka tinggi dan waktu tinggal yang lama.
Seorang warga Jerman, Inge Eberl (50), Rabu (20/2)mengatakan, sudah dua kali datang dan menginap di Prince John Dive Resort, Donggala, untuk merayakan hari ulang tahunnya sekaligus menikmati keindahan bawah laut Donggala yang terkenal indah coral dan ikan-ikannya.
"Kali ini kedatangan yang ke-2 kalinya ke Donggala untuk merayakan HUT ke-50 bersama pacar," kata Inge, asal Bavaria Jerman. Ia saat itu sedang menjamu makanan untuk semua tamu di Prince John Dive resort, yang dikelola dan dimiliki oleh pasangan Indonesia-Jerman. Inge dan pacarnya datang ke Donggala untuk menyelam selama dua minggu.
Hal senada dikemukakan oleh turis asal Jerman, Erika Oltmans, 62 tahun, bahwa Donggala sangat terkenal sebagai destinasi menyelam di kalangan para penyelam Eropa.
"Saya berwisata ke Indonesia selama 23 hari. Sebelum menyelam ke Donggala, saya telah menyelam ke Bunaken dan Lembeh Bitung, Sulawesi Utara," katanya. Erika, seorang pensiunan pekerja farmasi di Jerman, mengatakan, ia sudah sering datang ke Indonesia untuk menyelam. Sebelum ini, ia pernah menyelam di Raja Ampat, Papua, kemudian di Lombok dan Bali.
Mengenai wisata menyelam di Donggala, ia mengatakan, lokasi menyelam cukup bagus. Terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, ikan-ikan juga banyak dan cantik-cantik. Ia mengaku melihat dan bertemu dengan ikan hiu, penyu.
"Lokasi menyelam di Donggala banyak sekali ditemukan ikan nemo dan Nudibranch," katanya sambil menunjukan beberapa foto hasil jepretannya di bawah laut.
Baik Inge dan Erika, mengaku tahu informasi di Donggala merupakan tempat menyelam yang bagus dari pembicaraan para penghobi penyelam Eropa. Selain itu, mereka juga melihat foto-foto dari blogger dan Facebook.
Ada sebuah resort di Donggala yang juga terkenal di kalangan para penyelam Eropa yakni Prince John Dive Resort (PJDR). Manager PDJR Alexander Franz mengatakan, resort ini memang satu-satunya resort yang menawarkan jasa penyelaman di Donggala. "Sekitar 85 persen, tamu kami berasal dari Eropa.
Tujuan utama mereka datang dan menginap memang untuk menyelam. Sisanya sekitar 15 persen merupakan tamu WNI, dan tujuan utamanya adalah untuk menyelam," katanya.
"Kami jarang melakukan promosi, villa kami juga terbatas hanya 15 unit. Untuk menambah vila maka harus juga menambah "dive master" karena tujuan utama tamunya untuk menyelam,"katanya. Menurut dia para penyelam Eropa tahu resort dan lokasi menyelam di Donggala darui mulut ke mulut dan juga informasi dari facebook dan blogger.
Langganan:
Komentar (Atom)



