Senin, 06 Mei 2013

Pendidikan di Pedalaman Balingara Kab. Banggai-Sulteng


Balingara. 52 Kilometer dari ibukota kecamatan ini, perjalanan ke ujung barat kabupaten Banggai. Pantai yang terlihat memanjang, juga tebing-tebing curam di Batu Hitam. Raksasa batu di sisi kiri, begitu kokoh dan angkuh. Gunung Lontio, patahan raksasa yang menyimpan misteri. Puncak JuluTompu. Tanjung Kopinyo yang ramai dengan rumah nelayan dibesut rawa bakau. Hingga tugu bertuliskan “selamat Jalan Kabupaten Banggai”. Tugu yang dilepas dengan patung penari Umapos dan Mangonyop. Batas itu adalah kuala Balingara.

Dari jalan poros Luwuk-Palu KM 180, kendaraan kami haluan ke kiri. Melewati tepi kuala, menuju pegunungan Balingara. Jalan berbatu yang sering dibelah oleh sungai-sungai kering. Hutan-hutan yang lebat, jalanan yang berliku tajam penuh tanjakan sepanjang 42 KM. Dari 0 mdpl Balingara menuju desa transisi 180 mdpl. Sampai di desa yang baru saja mekar, bernama Obo.

Obo,26-27 April 2013

Obo, nama seorang pengembara yang singgah di tempat ini puluhan tahun yang lalu. Nama itu digunakan untuk menyebut sebuah daerah yang ada dalam transisi saat ini. Desa transisi antara Balingara (Banggai) dan desa Bulan (Ampana). Desa Transisi antara suku Saluan Loinang dan Suku Ta. Desa Transisi antara Petani tetap dan Petani Ladang berpindah. Desa transisi kehidupan manusia Maden dan Nomaden. Desa Transisi antara ajaran Haripuru ke agama Samawi.

Desa ini memiliki 60 KK, hanya 10 KK yang rumahnya berkumpul dalam jarak dekat. Selebihnya jarak antar rumah 2-5 kilometer antar rumah. Desa yang dikelilingi bukit Batu Tanda, bukit yang menyimpan folklore pertemuan orang-orang yang singgah di pertemuan dua kuala.

Kabut-kabut yang pekat mengelilingi lembah ini. Pagi-pagi kabut yang mengantar anak-anak ke sekolah dengan kaki telanjang. Mereka berjalan berjalan lebih dari 3 mil, mencapai sebuah sekolah yang halamannya penuh rumput. Halaman yang hanya ditumbuhi satu pohon kelapa dan satu tiang bendera yang terbuat dari sebatang ranting lurus. SD yang diampu oleh 2 guru, hanya ada satu unit kelas.SD yang tidak bisa meluluskan siswanya karena banyak syarat yang belum dipenuhi. Tidak ada SD inti yang menampung siswa yang lepas dari kelas 5. Kami datang mengenalkan Indonesia di tanah ini, Indonesia. Papan tulis yang tua, debu-debu kapur yang kami goreskan membentuk tatanan kepulauan.

“ kita sekarang berada di pulau K, pulau Sulawesi “

Keakraban ditambah dengan perkenalan, hampir semua yang berkenalan mengungkapkan cita-cita mereka sebagai Tentara dan Guru. Apa yang mereka lihat pagi itu, itulah cita-cita mereka. Hingga ada satu anak yang maju ke depan kelas, rambutnya ikal kulitnya coklat pekat.

“ perkenalkan nama saya Alferd, saya kelas tiga. Cita-cita saya ingin naik kelas empat “

Semua tertawa, lahir kami tertawa tetapi hati berkata lain. Semangat untuk naik kelas yang begitu hebat, kurangnya pengajar, kurangnya fasilitas dan tuntutan ujian yang setara dengan keberadaan anak-anak di tanah Jawa. Tanda tanya

“Depe desa singada poskesdes, Polindes ato Juru Rawat.” Pelayanan kesehatan begitu jauh dan sulit didapatkan. Kalau harus turun membutuhkan 28 KM kalau naik ke Longgek 18 KM, jalannya hanya susunan batu kuala.

Desa tanpa listrik, tanpa sinyal layanan selluler. Rumah Sekdes menjadi sentral pertemuan masyarakat, karena hanya ditempat itu ada Genset untuk pembangkit listrik. Masyarakat sekedar berkumpul, bersendau gurau sampai membicarakan hal penting.

Keterbatasan di perbatasan Balingara.

Sebuah danau yang mereka sebut “ Rano” dalam bahasa Ta. Mirip dengan bahasa sansekerta yang menyebut “ Ranu” yang berarti telaga. Rano yang dipenuhi dengan teratai, dikelilingi ingerhous, ilalang, Pinus udang dan tumbuhan hutan. Rano yang menyajikan ikan Mujair dan Gabus bagi masyarakat Obo, sekedar sebagai lauk makanan. Ada lagi tentang sebuah danau yang disebut Rano Sembilan Tanjung, lekukan yang menjorok ke danau sebagai hulu sungai Balingara. Kisah mistik akan adanya buaya air tawar yang ada disana, konon mencapai 5 depa.

Kisah Batu Putih, sebuah batu yang diceritakan sebagai kapal yang terdampar di atas gunung seperti epos Gilgamesh dan Nabi Nuh. Goa yang ada di dalamnya menyimpan kerangka manusia.Dari Bulutui dan Rotan hutan mereka hidup. Jagung di sekitar delta tampak rimbun dan subur. Ladang-ladang yang baru dibuka.

Saluan-Loinang yang kehilangan Family

Desa perbatasan yang ditempati oleh masyarakat Loinang Simpang, yang tersebar karena serangan Belanda. Politik monopoli manusia, Belanda mengharapkan agar semua orang pedalaman turun ke tepian pantai. Penolakan terjadi hingga Belanda mengirimkan satu peleton pasukan untuk menyerang Benteng Baloa-Doda. Masyarakat Loinang kocar-kacir menyebar keseluruh penjuru pegunungan, ada pula yang hadir di perbatasan ini.

Mereka kehilangan fams, saat ini nama mereka diambil dari apa yang mereka dengar. Nama Gergaji, Tank, Jepang, Pulpen, Suharto dll. Seorang tetua adat bernama Gergaji mengantarkan kami kepada pengetahuan ajaran bernama Haripuru.

Pendidikan melalui ajaran leluhur

Haripuru adalah ajaran kuno masyarakat pedalaman dimana mereka percaya bahwa :

kekuatan tertinggi ada pada Tuhan Yang Maha Esa atau Tompu atau Anui-Langga. Di bawah Tompu mereka percaya pada Nabi (tanpa mereka tahu nama nabi), lalu percaya kepada arwah leluhur atau Tominuat. Lalu kepada manusia yang kerasukan Tominuat yang disebut Buhake. Masyarakat Saluan di Desa Obo mempercayai adanya tanda alam atau Hambolo. Tanda-tanda ini yang esensinya masih terjaga sampai sekarang adalah mendengarkan tanda-tanda dari kicauan burung atau mongkoek. Burung yang menjadi tanda adalah burung Kukau (tekukur malam).

Mohondahabit adalah proses doa yang mereka naikkan kepada Tominuat dengan Pomangan (sesaji) berupa ; Popos (pinang), hampak (sirih), talon (kapur) dan sosop (rokok). Mereka percaya bahwa doa yang disampaikan kepada Tominuat akan diteruskan kepada Nabi lalu kepada Tompu. lalu Tompu memberi jawaban melalui suara burung. Proses mendengar jawaban itu disebut Pihongo. Berikut ini tafsir suara kicau berdasarkan jumlah :

1 kali : ada tamu pejabat (utus daka)

2 kali : ada tamu

3 kali : aba-aba musibah / bahaya

4 kali : baik

5 kali : ada rejeki

6 kali : ada tamu

7 kali : umur panjang / kesembuhan jika sedang berobat

8 kali : pejabat besar datang

Pengecualian

7 kali lalu disusul suara “kiii..” : pertanda buruk, terjadi pertumpahan darah.

“Burung Totoidi juga berbunyi sebagai tanda menjelang pagi dan petang. Bahkan sebelum Utus Daka datang ke sini, kami sudah diberitahu beberapa hari sebelumnya. Kami mendengar suara burung berbunyi delapan kali” ucap seorang translator mengulangi kata-kata pak Gergaji.

Kehidupan Nomaden masih melekat di dalam kehidupan mereka. Setiap ada anggota keluarga yang meninggal mereka selalu berpindah tempat. Mayat dibungkus dengan kulit kayu Andolia (Cempaka) baru dikuburkan. Untuk penanda di atas kuburnya diletakkan sebuah kayu berbentuk silinder (di Lobu berbentuk perahu, dimungkinkan perbedaan budaya gunung dan pantai).

“ Dahulu kami selalu meninggalkan rumah dan pekarangan jika ada salah satu dari anggota keluarga yang meninggal. Karena kami takut, jika arwah yang mati mengajak kami menemaninya di alam kubur “

Angin lembah berhembus di celah-celah Laigan Pangkat, di balik embun pagi yang menetes lentik di ujung daun Enau. Daun yang digunakan untuk membungkus tembakau sosop, mereka menyebutnya Gau. Etika anak tangga yang terbuat dari kayu gelondongan dipecak sebagai simbol ada tidaknya tuan rumah.

Desa tinggal orang Loinang pedalaman yang sangat taat dan santun. Pelajaran yang menarik tentang kesetiaan suami-istri orang Loinang. Ketika hukum adat berkata “mati” bagi setiap orang yang bertindak serong. Monogami sampai mati.

Madu murni menjadi sebuah kenikmatan hasil hutan. Pengembara yang menuju peradaban.

Sistem berpindah ladang setelah tiga kali tanam, mereka membuka hutan baru. Lima sampai sepuluh tahun kemudian, mereka kembali ke tanah semula.

Permainan Pili-pili (baling-baling) dan Patengkang (egrang) begitu lekat di hati.

“Humatok kami menyebutnya sebagai sebuah sistem gotong royong. Dalam membuka lahan, pesta perkawinan atau orang meninggal. “

Mereka berkumpul bakubantu. Kerukunan yang tertanam sejak jaman dahulu masih terjaga hingga kini.

Inilah Indonesia.

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/02/pendidikan-di-pedalaman-balingara-kabluwuk-sulteng-556828.html

Minggu, 17 Maret 2013

Objek Taman Wisata Alam Bancea, Poso SULTENG



TWA Bancea adalah Taman Wisata Alam yang terletak di Desa Bancea, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah.



TWA Bancea merupakan kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

TWA Bancea memiliki beberapa kawasan yang dapat dijadikan sebagai objek-objek wisata alam yang sangat menarik. Beberapa objek wisata tersebut adalah sebagai berikut:

1. Danau Poso
Sebagian besar kawasan TWA Bancea merupakan wilayah perairan bagian dari Danau Poso, yaitu Tanjung Bancea. Daerah Perairan kawasan TWA ini memiliki air tawar yang jernih, sejuk dan tenang sehingga banyak menarik pengunjung untuk berenang atau mandi. Selain itu di Danau Poso pengunjung dapat menikmati pemandangan alam di sekitar Danau Poso dengan menggunakan sampan atau rakit, disamping itu dapat pula melakukan kegiatan memancing ikan air tawar.

2. Pesisir danau Poso
Kawasan TWA Bancea juga memiliki wilayah pesisir/ bibir pantai dari Danau Poso yang sangat indah karena memiliki pasir putih yang unik dan bersih juga pemandangan alamnya yang indah. Daerah ini merupakan daerah yang sering dikunjungi wisatawan untuk rekreasi. Kegiatan wisata alam yang dapat dilaksanakan di sini antara lain berenang/mandi, berjemur di pantai, menikmati pemandangan alam yang indah, berkemah dan pengamatan flora fauna terutama jenis anggrek alam dan kondisi medannya cukup mudah untuk dilalui pengunjung.

3. Wilayah Daratan Kawasan
Daerah ini terletak di bagian barat kawasan, merupakan daerah yang berhutan yang memiliki potensi flora fauna yang tinggi. Biasanya pengunjung memanfaatkan daerah ini hanya untuk lintas alam dan wisata ilmiah untuk kegiatan penelitian/pengamatan flora fauna. Di daerah ini sering dijumpai fauna endemik seperti anoa, burrung Allo, tarsius, dan rusa. Selain itu anda dapat menikmati anggrek-anggrek yang tumbuh alami di TWA Bancea melalui trekking yang mendaki.

4. Taman Anggrek
Taman anggrek ini berada di pesisir Danau Poso. Dapat ditempuh melalui jalur air maupun jalur darat dari Desa Bancea. Di Taman Anggrek ini pengunjung dapat menikmati keindahan jenis-jenis anggrek alami yang dikoleksi dari kawasan TWA Bancea. Taman Anggrek ini dibangun sekitar tahun 1980an oleh Biro Kependudukan dan Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Sub Balai KSDA pada saat itu. Maksud dari pembangunan Taman anggrek ini antara lain untuk mempermudah pengunjung menikmati jenis-jenis anggrek alam yang terdapat di TWA Bancea tanpa harus berjalan dan mencari di kawasan hutan TWA Bancea.

5. Air Terjun
Di TWA Bancea terdapat dua buah air terjun, yaitu air terjun Limba Ata dan air terjun Batu Marato. Air terjun Limba Ata ini bermuara ke sungai Limba Ata yang selanjutnya nke Danau Poso. Lokasi air terjun ini sekitar 5 Km dari jalan raya, kondisi jalan menanjak sekitar 300 m dpl. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m. Air Terjun Batu Marato bermuara ke sungai Batu Ata, selanjutnya bermuara ke Danau Poso. Lokasi air terjun berjarak ± 1 km dari jalan raya, melewati nperkebunan rakyat dan kondisi jalan menanjak 200 m. Tinggi air terjun ini sekitar 50 m.


Secara admiinistratif TWA Bancea terletak di 3 (tiga) desa yaitu dua wilayah Desa Bancea dan Desa Panjo di Kecamatan Pamona Selatan, serta Desa Taipa di Kecamatan Pamona Barat Kabupaten Poso – Sulawesi Tengah.
TWA Bancea di tetapkan berdasarkan SK MenHutBun Nomor : 272/Kpts-II/1999, tanggal 7 Mei 1999 dengan luas kawasan ± 5.000 Ha dengan potensi wisata berupa danau, padang mariri, taman anggrek dan lain-lainnya.
Vegetasi yang sering di temukan di TWA Bancea antara lain Jongi (Dillenia Celebica), Lebanu (Neonauclea Celebica), Jabon (Anthocephalus Cadamba), Betau (Calophyllum sp), Nyatoh (Palaquium Obtusifolium), Benoang (Octomeles Sumatrana), Beringin (Ficus Benjamina), Laro (Metrosideros Petiolata), Kase/Kasek (Pometia Pinnata), Kayu Kacang, Paku-pakuan dan beraneka ragam jenis anggrek.

Potensi Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di TWA Bancea yang ditawarkan adalah
 Tanjung Bancea;
 Pesisir Danau Poso;
 Wilayah Daratan Kawasan;
 Taman Anggrek;
 Air Terjun Limba Ata dan Watu Marato; dan
 Padang Rumput Marari.

Atraksi Wisata yang dapat pengunjung lakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
 Berenang dan Berjemur
 Berperahu
 Pengamatan Burung ( Bird Watching )
 Pengamatan Anggrek
 Menelusuri Hutan ( Jungle Tracking )
 Berkemah
 Wisata Ilmiah ( Penelitian dan Pengembangan )
 Photografi
 Panorama Sunrise, dan
 Objek Wisata Pendukung
Referensi: Panduan Kegiatan Wisata Di Taman Wisata Alam Bancea.

Selasa, 12 Maret 2013

Cacing cumi misterius dari Sulawesi



Para ilmuwan baru-baru ini menemukan makhluk misterius di kedalaman perairan antara Sulawesi dan Filipina. Makhluk tersebut memiliki tubuh sepanjang 9,4 sentimeter dan menyerupai cacing dan cumi-cumi sehingga para ilmuwan menamainya squidworm atau cacing cumi.

Cacing cumi itu memiliki sepuluh tentakel yang panjang, menyeruak dari kepalanya. Selain itu, ia juga memiliki enam organ yang disebut nuchal yang memungkinkannya untuk mengecap rasa dan membaui sesuatu di dalam air.

Makhluk misterius itu ditemukan oleh tiga ahli biologi laut yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Scripps Institution of Oceanography in California, pada saat melakukan penjelajahan di Laut Sulawesi pada kedalaman 2,8 kilometer. Observasi mereka menggunakan kapal penjelajah yang dikendalikan dari jarak jauh. "Hewan ini sangat menggoda sebab sangat berbeda dengan ciri-ciri hewan yang telah dideskripsikan sebelumnya," ungkap Osborn dengan antusias.

Cacing cumi yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut hidup pada kedalaman 100-200 meter di atas dasar laut. Rentang kedalaman itu diketahui merupakan wilayah yang kaya akan spesies yang belum teridentifikasi.

Cacing cumi yang baru ditemukan itu diberi nama ilmiah Teuthidodrilus samae. Spesies tersebut dikatakan bukan merupakan predator. Mereka memakan campuran tumbuhan dan hewan mikro laut yang tenggelam di kedalaman.

Laut Sulawesi tempat spesies ini ditemukan merupakan wilayah yang terisolasi dari perairan di sekitarnya. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dalam kawasan konservasi yang memiliki beranekaragam bentuk kehidupan dan sejarah geologi yang unik. "Ketika saya mengeksplorasi wilayah tersebut, saya memperkirakan ada lebih dari setengah jumlah hewan yang kita lihat merupakan spesies yang belum teridentifikasi," lanjut Osborn.

Karena sifat-sifat cacing cumi tersebut sangat berbeda dari bentuk kehidupan yang lain, para ilmuwan tidak hanya menggolongkannya sebagai spesies baru, tetapi juga genus baru--tingkatan taksonomi di atas spesies. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters baru-baru ini.

Teks oleh Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Rio Pakava, Anak Tiri Sulteng di Tengah Sulbar

Ditulis oleh Rahmat Azis

Wilayah terpencil di Kabupaten Donggala itu memang lebih dikenal dengan nama Lalundu ketimbang Rio Pakava. Padahal, Lalundu adalah nama lama dari kawasan yang kini menjadi Kecamatan Rio Pakava. Dulu, areal penempatan transmigran asal Jawa, Bali dan Lombok ini disebut Lalundu, yang terdiri dari enam UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi). Wilayah yang berbatasan langsung dengan Sulbar ini merupakan wilayah Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala. Namun, pada tahun 2000, dimekarkan menjadi Kecamatan Rio Pakava. Selain transmigran asal luar Sulawesi, wilayah seluas 17.014,14 kilometer persegi ini juga dihuni oleh etnis Bugis dari Sulawesi Selatan dan juga sebagian kecil etnis Kaili yang tersebar di 14 desa dengan ibukotanya di Desa Lalundu Utama.

Wilayah berpenduduk 22.228 jiwa yang terdiri dari 5.324 KK (kepala keluarga) ini memang terpencil. Berada di pedalaman, Rio Pakava terkepung wilayah Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar di sebelah barat, selatan, dan tenggara. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Pasangkayu, Kecamatan Tike dan Kecamatan Baras di Sulbar. Sementara kecamatan di wilayah Sulteng yang berbatasan dengan Rio Pakava adalah Kecamatan Dolo Selatan, Kecamatan Pinambani, Kecamatan Pipikoro dan Kecamatan Kulawi yang masuk Kabupaten Sigi.

Sepanjang perjalanan, tapal batas antara kedua provinsi ini tidak begitu diketahui karena tidak adanya gerbang yang menandakannya. Untuk mengenali wilayah Sulteng atau Sulbar, hanya berdasarkan pengamatan pada baliho caleg peserta Pemilu 2009 yang mencantumkan daerah pemilihan (dapil). Di dalam areal sawit di Kecamatan Pasangkayu yang dekat dengan Rio Pakava, wilayah Sulteng dan Sulbar justru tidak bisa dipastikan.

Keadaan alam yang tidak menguntungkan inilah yang membuat akses penduduk Rio Pakava ke ibukota Kabupaten Donggala di Banawa memang menjadi sulit. Keterpencilan itu disebabkan tidak ada jalan lain yang bisa dilalui untuk bisa langsung ke kecamatan lain di Kabupaten Donggala. Pasalnya, wilayah ini dibentengi rangkaian Pegunungan Gawalise yang menjulang tinggi.

Padahal, penduduk Rio Pakava dan empat kecamatan di Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar tersebut lebih memilih membawa hasil buminya seperti kakao, beras, jagung dan sayuran ke Donggala di Kecamatan Banawa yang lebih dekat. Untuk mencapai Donggala, penduduk Rio Pakava selain harus melintasi empat kecamatan di Provinsi Sulbar, juga harus melintasi Kecamatan Banawa Selatan dan Banawa Tengah.

Karena harus melintasi Provinsi Sulbar, maka penduduk Rio Pakava sering terkena tarikan retribusi di jalan raya yang biayanya tinggi. Agar bebas dari pungutan, masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor harus mengantongi surat jalan terlebih dulu dari Rio Pakava. Surat ini hanya berlaku untuk satu kali perjalanan. Jika tidak, mereka harus membayar pungutan sebesar Rp 50 ribu di perbatasan wilayah yang dilakukan oleh petugas dari Sulbar. Dan saat kembali ke Rio Pakava pun mereka harus mengantongi surat jalan dari Donggala jika tidak ingin dikenai pungutan lagi karena perbedaan pelat nomor kendaraan.

Karena terpencil di pedalaman itulah yang menyebabkan wilayah ini kurang mendapat perhatian Pemerintah. Akibatnya, kecamatan ini minim fasilitas. Jangankan jaringan telekomunikasi, listrik dari PT. PLN pun belum masuk ke Rio Pakava.

Untuk listrik, saat ini penduduk hanya mengandalkan genset dengan daya 3 kilowatt yang hanya dinyalakan sejak pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Satu mesin genset ini rata-rata mampu menerangi 10 rumah tangga dengan menghabiskan solar hingga 5 liter.



Rugi Lewat Toboli Tanpa Mampir Ke Raja Lalampa



Palu (antarasulteng.com) - Halaman warung sederhana itu nyaris tak pernah sepi sepanjang hari 1x24 jam, meskipun asap dari tempat pemanggangan terus mengepul.

Parkiran mobil baik pribadi, dinas maupun bis angkutan umum dan sepeda motor selalu memadati halaman depannya, sehingga tak jarang membuat arus lalu lintas di poros jalan Trans Sulawesi itu terganggu.

"Sayang om lewat di sini kalau tak mampir ke warung ini," kata Jefri, pengemudi mobil sewaan (rental) yang membawa penulis dari Palu ke Morowali belum lama ini.

Warung yang ia maksud adalah kedai kopi 'Raja Lalampa Cik Sungi' di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, sekitar 70 km arah timur Kota Palu.

Daya tarik utama kedai ini adalah lalampa buah tangan Cik Sungi, seorang ibu keturunan Tionghoa berusia setengah abad lebih.

Untuk menikmati lalampa, kedai ini juga menyediakan minuman hangat seperti kopi dan teh serta sarabba (air jahe hangat cmapur telor dan susu-sematam STMJ di Jakarta)

Kebanyakan pengunjung menilai lalampa Cik Sungi ini enak dan gurih, bahkan tidak sedikit yang 'fanatik' sehingga tak pernah lewat begitu saja tanpa singgah ke kedai ini bila melintas di Toboli.

"Saya ini tiap minggu lewat Toboli karena bekerja di Pantai Timur. Warung ini sudah menjadi langganan saya, baik saat melintas dari Palu ke tempat kerja maupun saat kembali ke Palu di akhir pekan," kata salah seorang karyawan perusahaan kontraktor yang sedang menyeruput kopi susu dan sepiring lalampa panas berisi empat bungkus di kedai itu.

Lalampa adalah semacam kue yang bahan utamanya adalah beras ketan putih dan ikan bakar yang digiling halus lalu ditumis dengan bumbu tertentu.

Menurut Cik Sungi, beras ketan itu lebih dahulu dikukus sampai matang lalu dibungkus dengan daun pisang berbentuk gelondong dicampur ikan yang dihaluskan dan ditumis lalu kedua ujungnya ditusuk dengan lidi.

Sebelum disajikan, bungkusan itu dipanggang selama sekitar lima menit agar konsumennya bisa menikmatinya dalam keadaan hangat.

"Di desa Toboli ini ada beberapa warung kopi yang menyediakan lalampa, namun lalampa buatan Cik Sungi lain rasanya, lebih lengket di lidah," ujar Jhon, seorang penggemar lalampa Cik Sungi.

Saking gemarnya terhadap lalampa ini, Jhon yang warga Kota Palu itu sering menyempatkan diri ke Toboli hanya untuk minum kopi dan makan lalampa sambil membawa pulang untuk ole-ole keluarga dan sahabat.

Rahasia

Ketika ditanya apa rahasianya sehingga lalampa buatannya memikat banyak oprang dibanding warung-warung di tetangganya, Cik Sungi menjawab kontan dan singkat: 'itu rahasia pak."

Karena kerahasiaan itu pula, Cik Sungi mengaku tidak membuka cabang di manapun meski sudah banyak yang memintanya membuka cabang di Kota Palu atau Parigi.

Ia mengakui bahwa ikan yang dihaluskan yang dicampur ke dalam bungkusan nasi ketan putih itu volumenya lebih banyak dibanding lalampa buatan orang lain, namun bagaimana meramu beras ketan putih dan ikan halus saat ditumis itu, ia menolak mengungkapkannya.

Cik Sungi yang mengaku mempekerjakan 10 orang tenaga kerja itu mengaku bahwa usaha yang digelutinya ini merupakan warisan orang tua yang sudah dimulai sejak 1963.

Setiap hari ia menghabiskan 100 kg beras ketan putih dan puluhan kilo ikan laut serta daun pisang dalam jumlah yang cukup banyak. Produksi dan pelayanan lalampa ini berlangsung selama 1x24 jam, dengan mengatur jam kerja karyawan.

Ia sendiri dan suaminya dibantu seorang keponakan bergantian menjadi pengawas sekaligus pelayan.

Meski usaha ini sudah berlangsung lama, namun ramainya pengunjung baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

"Setiap hari kami bisa menjual 5.000 bungkus. Harganya Rp1.250,00/bungkus. Jadi omzet kami rata-rata mencapai Rp7,5 juta termasuk hasil penjualan minuman hangat," ujar Cik Sungi.

Pengunjung warung kopi 'Raja Lalampa' ini mencapai ratusan orang tiap hari, umumnya mereka yang sedang melakukan perjalanan melintasi jalan trans Sulawesi, terutama yang akan masuk ke atau keluar dari Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Lokasi Desa Toboli ini memang cukup strategis karena terletak di pertigaan jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Makassar-Gorontalo-Manado dan poros utama menuju Kota Palu yang terletak di Pantai Barat Sulawesi Tengah.

Karena itu, kedai 'Raja Lalampa' ini sangat dikenal di Sulawesi Tengah termasuk para pejabat dan pengusaha, bahkan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola yang mantan Bupati Parigi-Moutong duia periode tersebut menjadikan lalampa Cik Sungi sebagai salah satu sajian wajib di dalam mobil bila melintas di Toboli saat melakukan perjalanan dinas. (R007)

Minggu, 10 Maret 2013

Wisata Selam Donggala Tak Kalah Cantik, Terkenal Sampai Eropa


REPUBLIKA.CO.ID,PALU--Wisata menyelam di kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sangat terkenal di kalangan para pecinta olahraga selam di Eropa. Indikasi itu terlihat dari frekuensi kunjungan mereka tinggi dan waktu tinggal yang lama.

Seorang warga Jerman, Inge Eberl (50), Rabu (20/2)mengatakan, sudah dua kali datang dan menginap di Prince John Dive Resort, Donggala, untuk merayakan hari ulang tahunnya sekaligus menikmati keindahan bawah laut Donggala yang terkenal indah coral dan ikan-ikannya.

"Kali ini kedatangan yang ke-2 kalinya ke Donggala untuk merayakan HUT ke-50 bersama pacar," kata Inge, asal Bavaria Jerman. Ia saat itu sedang menjamu makanan untuk semua tamu di Prince John Dive resort, yang dikelola dan dimiliki oleh pasangan Indonesia-Jerman. Inge dan pacarnya datang ke Donggala untuk menyelam selama dua minggu.

Hal senada dikemukakan oleh turis asal Jerman, Erika Oltmans, 62 tahun, bahwa Donggala sangat terkenal sebagai destinasi menyelam di kalangan para penyelam Eropa.

"Saya berwisata ke Indonesia selama 23 hari. Sebelum menyelam ke Donggala, saya telah menyelam ke Bunaken dan Lembeh Bitung, Sulawesi Utara," katanya. Erika, seorang pensiunan pekerja farmasi di Jerman, mengatakan, ia sudah sering datang ke Indonesia untuk menyelam. Sebelum ini, ia pernah menyelam di Raja Ampat, Papua, kemudian di Lombok dan Bali.

Mengenai wisata menyelam di Donggala, ia mengatakan, lokasi menyelam cukup bagus. Terumbu karangnya masih terjaga dengan baik, ikan-ikan juga banyak dan cantik-cantik. Ia mengaku melihat dan bertemu dengan ikan hiu, penyu.
"Lokasi menyelam di Donggala banyak sekali ditemukan ikan nemo dan Nudibranch," katanya sambil menunjukan beberapa foto hasil jepretannya di bawah laut.

Baik Inge dan Erika, mengaku tahu informasi di Donggala merupakan tempat menyelam yang bagus dari pembicaraan para penghobi penyelam Eropa. Selain itu, mereka juga melihat foto-foto dari blogger dan Facebook.
Ada sebuah resort di Donggala yang juga terkenal di kalangan para penyelam Eropa yakni Prince John Dive Resort (PJDR). Manager PDJR Alexander Franz mengatakan, resort ini memang satu-satunya resort yang menawarkan jasa penyelaman di Donggala. "Sekitar 85 persen, tamu kami berasal dari Eropa.
Tujuan utama mereka datang dan menginap memang untuk menyelam. Sisanya sekitar 15 persen merupakan tamu WNI, dan tujuan utamanya adalah untuk menyelam," katanya.
"Kami jarang melakukan promosi, villa kami juga terbatas hanya 15 unit. Untuk menambah vila maka harus juga menambah "dive master" karena tujuan utama tamunya untuk menyelam,"katanya. Menurut dia para penyelam Eropa tahu resort dan lokasi menyelam di Donggala darui mulut ke mulut dan juga informasi dari facebook dan blogger.

Kamis, 03 Januari 2013

Melawat Kehidupan Masyarakat Pulau Malenge Oleh: hadi - d'Traveler


Pulau Malenge merupakan salah satu dari 6 pulau besar yang ada di kepulauan Togean. Pulau Malenge mempunya jumlah penduduk yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan pulau yang ada di sekitarnya. Pulau Malenge dapat dikunjungi dari Ampana dengan mengunakan perahu boat dengan waktu tempuh sekitar 8 (delapan) jam.



Masyarakat yang ada di pulau ini sebagian besar adalah orang Togean dan sisanya merupakan penduduk pendatang. Kehidupan di pulau ini tergolong sederhana sebagian besar rumah yang ada masih berdinding papan.



Walaupun berada di pesisir pantai, namun sumber pencaharian masyarakat di pulau malenge ini bervariasi dari mulai nelayan, petani, peternak dan pedagang. Selain ikan laut, cokelat dan kelapa merupakan komoditas pulau ini. Disamping itu, ada juga warga yang mengembangkan tambak lobster untuk diekspor ke luar negeri dan teripang untuk dijual ke restoran-restoran di kota besar.




Fasilitas di pulau ini bisa dikatakan masih minim. Sekolah yang terdapat di pulau ini hanyalah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SMP) itupun dalam satu atap artinya kegiatan pembelajaran antar murid sekolah dasar dan sekolah menegah pertama berada dalam satu gedung. Sekolah Menengah Atas (SMA) belum tersedia di pulau ini. Orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya hingga SMA harus menyekolahkan anak-anaknya di Wakai atau bahkan di Ampana. Puskesmas yang ada di pulau ini merupakan puskesmas perintis yang kadangkala masih minim akan peralatan dan obat-obatan sehingga masyarakat disini masih sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.



Namun dibalik minimnya fasilitas, pulau ini ternyata menyimpan potensi wisata yang cukup menarik. Di pulau ini terdapat satwa endemik yang hanya dapat hidup di pulau ini yaitu Monyet Togean (Macaca Togeannus) dan Kepiting kenari.disamping itu terdapat pantai-pantai berpasir putih seperti pantai Kadoda, Bonavang, Pantai Poponoton dan Pantai Batuengkang yang cocok untuk bersantai sambil melakukan sunbathing.