Senin, 13 Mei 2013

OBYEK WISATA BATU SUSUN PANTAI LAKEA


Salah satu objek wisata terkenal di kabupaten buol adalah pantai lakea yang terletak di desa lakea kecamatan Biau. Pantai ini sangat indah dengan landmark yang khas berupa batuan karang bersusun yang oleh masyarakat setempat di sebut batu susun, berjarak kurang lebih 30 km dari kota Buol, Sulawesi Tengah. Kota Buol sendiri berjarak sekitar 600 km dari Palu dan Manado, Karena lokasinya yang cukup jauh ini maka pantai ini belum banyak dikunjungi para wisatawan, apalagi promosi wisata yang dilakukan masih sangat kurang. Keindahan pasir putih akan semakin memikat ketika laut surut. Untuk menuju lokasi ini dapat menggunakan kendaraan roda dua atau empat dari kota Buol yang memakan waktu kurang lebih 1 jam.

Untuk mecapai Kota Buol dapat dilakukan melalui beberapa alternative rute perjalanan, melalui perhubungan udara ke bandara Pogogul dengan pesawat Merpati sekali seminggu dari Manado, Gorontalo atau Palu. Buol memiliki empat pelabuhan. terletak di Desa Lamadong, Kecamatan Momunu. Pelabuhan laut Buol masing-masing Pelabuhan Leok, Paleleh, Kumaligon, dan yang terbesar sebagai pelabuhan utama lalu lintas penumpang dan barang.

Suku Buol, Sulawesi Tengah



Suku Buol, adalah suku yang terdapat di kabupaten Toli-Toli provinsi Sulawesi Tengah. Tersebar di beberapa daerah kecamatan seperti di Biau, Bunobugu, Paleleh dan Momunu, sebagian kecil tersebar ke daerah dekat wilayah.Gorontalo. Populasi suku Buol diperkirakan lebih dari 75.000 orang.

Masyarakat suku Buol berbicara dalam bahasa Buol, yang masih berkerabat dengan bahasa Toli-Toli. Selain itu bahasa Buol ini juga mirip dengan bahasa Gorontalo. Karena terdapat kemiripan ini, mereka sering dianggap sebagai sub-suku Gorontalo.

Pada masa alu di wilayah suku Buol ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Buol. Diduga orang Buol ini adalah keturunan dari orang-orang dari Kerajaan Buol. Dugaan itu diperkuat dengan adanya sistem penggolongan dalam masyarakat suku Buol, seperti golongan keluarga raja (tan poyoduiya); golongan bangsawan yang masih mempunyai hubungan kerabat dekat dengan raja (tan wayu); golongan yang hubungan kerabat dengan raja sudah jauh (tan wanon); golongan masyarakat (taupat); dan golongan budak, yaitu orang yang melanggar adat atau kalah perang. Pada masa lalu, setiap golongan memiliki atribut sendiri, yang dapat dilihat dari pakaiannya. Sejak agama Islam masuk di kalangan masyarakat suku Buol, maka sistem penggolongan sudah banyak ditinggalkan. Saat ini, penggolongan masyarakat lebih didasarkan pada status berdasarkan tingkat pendidikan.

Suku Buol memiliki kearifan adat yang merupakan kebiasaan dan berhubungan dengan perlindungan sumber daya alam, baik berupa tanah, air, alam dan hutan.
Agama Islam menjadi agama mayoritas di kalangan suku Buol. Mereka adalah penganut Islam yang taat, dan agama Islam memiliki pengaruh yang kuat dala kehidupan mereka. Namun demikian, banyak dari mereka yang masih percaya bahwa alam gaib berpengaruh dalam kehidupan dan hasil panen mereka. Mereka takut pada tempat-tempat keramat dan sering mencari bantuan dukun untuk mengobati anggota mereka yang sakit atau mengusir roh-roh jahat.

Sistem Pemerintahan Adat suku Buol:
Ta Bwulrigan (orang yang diusung), seseorang yang diangkat menjadi kepala pemerintahan adat beserta pembantunya untuk mengurus urusan-urusan pemerintahan dan kemasyarakatan.
Ta Mogutu Bwu Bwulrigon (pembuat usungan), sebagai pembuat peraturan adat (pengambil keputusan sekaligus memilih kepala pemerintahan).
Ta Momomayungo Bwu Bwulrigon (orang yang memayungi usungan), adalah pengayom masyarakat dan penegak hukum adat/ pemangku adat yang disebut hukum Duiyano Butako.
Ta Momulrigo Bwu Bwulrigon (pengusung usungan), adalah yang memastikan seluruh masyarakat adat untuk taat dan patuh terhadap hukum adat.

pic regionaltimur

Masyarakat suku Buol sebagian besar hidup dari pertanian padi pada lahan sawah dan ladang. Mereka juga menanam kelapa dan cengkeh, yang menjadi komoditi ekspor. Hasil hutan juga menjadi sumber pendukung hidup bagi mereka, dengan mangumpulkan rotan, damar, kayu manis, dan gula merah. Sedangkan yang tinggal di daerah pesisir berprofesi sebagai nelayan. Bidang profesi lain adalah sebagai pedagang, guru dan lain-lain.

http://protomalayans.blogspot.com/2012/10/suku-buol-sulawesi.html

Senin, 06 Mei 2013

Geso-geso: Musik Eksotik Tau Taa Wana


Musik ibarat lukisan, ia melukiskan jiwa dan perasaan orang yang memainkannya. Ia bisa bercerita tentang alam, cinta, kerinduan bahkan duka cita. Hal ini berlaku pula bagi Tau Taa Wana, salah satu komunitas adat di Sulawesi Tengah yang mendiami kawasan pegunungan Balingara. Musik adalah keseharian mereka, saat acara ritual panen, ritual pengobatan, duka hingga saat melepas penat di tengah ladang, musik selalu menyertai di tiap denyut kehidupan Tau Taa Wana.

Setidaknya demikian gambaran yang saya peroleh saat mengunjungi pemukiman mereka, Tak heran bila di komunitas ini kita bisa menjumpai beragam jenis alat musik tradisional, satu diantaranya adalah Geso-geso, alat musik gesek sejenis biola ini mampu menghasilkan kombinasi nada yang sangat indah. Alunan nada mendayu-dayu yang dihasilkan alat ini sangat eksotik dan bernuansa ritual, sehingga mampu membuat terhanyut perasaan orang yang mendengarnya.
Selain nada yang dikeluarkannya, bentuk alat musik ini juga sangat unik. Geso-geso terbuat dari kayu khusus yang kuat dan keras, ditambah tempurung yang dilapisi dengan kulit binatang sebagai membran pengeras bunyi menjadikan bentuk alat musik ini sangat estetis, alat geseknya terbuat dari serat kayu atau ijuk yang diikatkan pada sebilah kayu atau rotan. Karenanya, bagi saya selain sebagai alat musik geso juga berpotensi dijadikan sebagai souvenir atau pajangan.
Alat musik ini, selain dimainkan secara solo juga dapat dimainkan secara bersama (orchestra) dengan alat music lainnya, bahkan untuk kebutuhan pementasan yang menggunakan soundsistem bervoltase besar ia bisa dilengkapi dengan spul yang dilekatkan pada pada batang utama untuk dihubungkan dengan amplifier.
Pada kesempatan berkunjung Desember tahun lalu, saya bersyukur bisa bertemu dengan Apa Ijeng, salah seorang yang mahir dalam memainkan gesso, tak hanya itu ia juga dikenal sebagai salah satu pembuat gesso terbaik di komunitasnya, isterinya (Indo Ijeng) juga dikenal terampil memainkan berbagai alat musik tradisi termasuk geso. Mendengarkannya memainkan gesso dengan penuh perasaan adalah suatu moment yang sangat istimewa.

Keterampilan istimewa yang dimiliknya, memainkan sekaligus memproduksi gesso berkualitas merupakan sebuah keahilan yang mulai langka, karenanya ia terus berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi dengan mengajarkan cara memainkan sekaligus memproduksi alatnya kepada generasi muda, kecintaannya yang begitu besar terhadap pelestarian seni tradisi pula yang membuat, ia kerap harus meninggalkan kampungnya untuk mementaskan pertunjukan seni tradisi Tau Taa Wana di berbagai event.
Saat menemuinya di pondoknya di tengah ladang, terlihat beberapa geso-geso tergantung di dinding, baginya geso-geso dan alat musik tradisi adalah bagian dari kebudayaan Tau Taa Wana yang mesti diwariskan kepada anak cucu, identitas budaya dan kehidupan tau Taa Wana yang hidup harmoni dengan alam. Semoga geso akan terus mengumandangkan senandung kadamaian dan harmoni kehidupan mereka sepanjang zaman.

http://edywicaksono.info/index.php?option=com_content&view=article&id=75:geso-geso-musik-eksotik-tau-taa-wana&catid=36:feature&Itemid=55

Pendidikan di Pedalaman Balingara Kab. Banggai-Sulteng


Balingara. 52 Kilometer dari ibukota kecamatan ini, perjalanan ke ujung barat kabupaten Banggai. Pantai yang terlihat memanjang, juga tebing-tebing curam di Batu Hitam. Raksasa batu di sisi kiri, begitu kokoh dan angkuh. Gunung Lontio, patahan raksasa yang menyimpan misteri. Puncak JuluTompu. Tanjung Kopinyo yang ramai dengan rumah nelayan dibesut rawa bakau. Hingga tugu bertuliskan “selamat Jalan Kabupaten Banggai”. Tugu yang dilepas dengan patung penari Umapos dan Mangonyop. Batas itu adalah kuala Balingara.

Dari jalan poros Luwuk-Palu KM 180, kendaraan kami haluan ke kiri. Melewati tepi kuala, menuju pegunungan Balingara. Jalan berbatu yang sering dibelah oleh sungai-sungai kering. Hutan-hutan yang lebat, jalanan yang berliku tajam penuh tanjakan sepanjang 42 KM. Dari 0 mdpl Balingara menuju desa transisi 180 mdpl. Sampai di desa yang baru saja mekar, bernama Obo.

Obo,26-27 April 2013

Obo, nama seorang pengembara yang singgah di tempat ini puluhan tahun yang lalu. Nama itu digunakan untuk menyebut sebuah daerah yang ada dalam transisi saat ini. Desa transisi antara Balingara (Banggai) dan desa Bulan (Ampana). Desa Transisi antara suku Saluan Loinang dan Suku Ta. Desa Transisi antara Petani tetap dan Petani Ladang berpindah. Desa transisi kehidupan manusia Maden dan Nomaden. Desa Transisi antara ajaran Haripuru ke agama Samawi.

Desa ini memiliki 60 KK, hanya 10 KK yang rumahnya berkumpul dalam jarak dekat. Selebihnya jarak antar rumah 2-5 kilometer antar rumah. Desa yang dikelilingi bukit Batu Tanda, bukit yang menyimpan folklore pertemuan orang-orang yang singgah di pertemuan dua kuala.

Kabut-kabut yang pekat mengelilingi lembah ini. Pagi-pagi kabut yang mengantar anak-anak ke sekolah dengan kaki telanjang. Mereka berjalan berjalan lebih dari 3 mil, mencapai sebuah sekolah yang halamannya penuh rumput. Halaman yang hanya ditumbuhi satu pohon kelapa dan satu tiang bendera yang terbuat dari sebatang ranting lurus. SD yang diampu oleh 2 guru, hanya ada satu unit kelas.SD yang tidak bisa meluluskan siswanya karena banyak syarat yang belum dipenuhi. Tidak ada SD inti yang menampung siswa yang lepas dari kelas 5. Kami datang mengenalkan Indonesia di tanah ini, Indonesia. Papan tulis yang tua, debu-debu kapur yang kami goreskan membentuk tatanan kepulauan.

“ kita sekarang berada di pulau K, pulau Sulawesi “

Keakraban ditambah dengan perkenalan, hampir semua yang berkenalan mengungkapkan cita-cita mereka sebagai Tentara dan Guru. Apa yang mereka lihat pagi itu, itulah cita-cita mereka. Hingga ada satu anak yang maju ke depan kelas, rambutnya ikal kulitnya coklat pekat.

“ perkenalkan nama saya Alferd, saya kelas tiga. Cita-cita saya ingin naik kelas empat “

Semua tertawa, lahir kami tertawa tetapi hati berkata lain. Semangat untuk naik kelas yang begitu hebat, kurangnya pengajar, kurangnya fasilitas dan tuntutan ujian yang setara dengan keberadaan anak-anak di tanah Jawa. Tanda tanya

“Depe desa singada poskesdes, Polindes ato Juru Rawat.” Pelayanan kesehatan begitu jauh dan sulit didapatkan. Kalau harus turun membutuhkan 28 KM kalau naik ke Longgek 18 KM, jalannya hanya susunan batu kuala.

Desa tanpa listrik, tanpa sinyal layanan selluler. Rumah Sekdes menjadi sentral pertemuan masyarakat, karena hanya ditempat itu ada Genset untuk pembangkit listrik. Masyarakat sekedar berkumpul, bersendau gurau sampai membicarakan hal penting.

Keterbatasan di perbatasan Balingara.

Sebuah danau yang mereka sebut “ Rano” dalam bahasa Ta. Mirip dengan bahasa sansekerta yang menyebut “ Ranu” yang berarti telaga. Rano yang dipenuhi dengan teratai, dikelilingi ingerhous, ilalang, Pinus udang dan tumbuhan hutan. Rano yang menyajikan ikan Mujair dan Gabus bagi masyarakat Obo, sekedar sebagai lauk makanan. Ada lagi tentang sebuah danau yang disebut Rano Sembilan Tanjung, lekukan yang menjorok ke danau sebagai hulu sungai Balingara. Kisah mistik akan adanya buaya air tawar yang ada disana, konon mencapai 5 depa.

Kisah Batu Putih, sebuah batu yang diceritakan sebagai kapal yang terdampar di atas gunung seperti epos Gilgamesh dan Nabi Nuh. Goa yang ada di dalamnya menyimpan kerangka manusia.Dari Bulutui dan Rotan hutan mereka hidup. Jagung di sekitar delta tampak rimbun dan subur. Ladang-ladang yang baru dibuka.

Saluan-Loinang yang kehilangan Family

Desa perbatasan yang ditempati oleh masyarakat Loinang Simpang, yang tersebar karena serangan Belanda. Politik monopoli manusia, Belanda mengharapkan agar semua orang pedalaman turun ke tepian pantai. Penolakan terjadi hingga Belanda mengirimkan satu peleton pasukan untuk menyerang Benteng Baloa-Doda. Masyarakat Loinang kocar-kacir menyebar keseluruh penjuru pegunungan, ada pula yang hadir di perbatasan ini.

Mereka kehilangan fams, saat ini nama mereka diambil dari apa yang mereka dengar. Nama Gergaji, Tank, Jepang, Pulpen, Suharto dll. Seorang tetua adat bernama Gergaji mengantarkan kami kepada pengetahuan ajaran bernama Haripuru.

Pendidikan melalui ajaran leluhur

Haripuru adalah ajaran kuno masyarakat pedalaman dimana mereka percaya bahwa :

kekuatan tertinggi ada pada Tuhan Yang Maha Esa atau Tompu atau Anui-Langga. Di bawah Tompu mereka percaya pada Nabi (tanpa mereka tahu nama nabi), lalu percaya kepada arwah leluhur atau Tominuat. Lalu kepada manusia yang kerasukan Tominuat yang disebut Buhake. Masyarakat Saluan di Desa Obo mempercayai adanya tanda alam atau Hambolo. Tanda-tanda ini yang esensinya masih terjaga sampai sekarang adalah mendengarkan tanda-tanda dari kicauan burung atau mongkoek. Burung yang menjadi tanda adalah burung Kukau (tekukur malam).

Mohondahabit adalah proses doa yang mereka naikkan kepada Tominuat dengan Pomangan (sesaji) berupa ; Popos (pinang), hampak (sirih), talon (kapur) dan sosop (rokok). Mereka percaya bahwa doa yang disampaikan kepada Tominuat akan diteruskan kepada Nabi lalu kepada Tompu. lalu Tompu memberi jawaban melalui suara burung. Proses mendengar jawaban itu disebut Pihongo. Berikut ini tafsir suara kicau berdasarkan jumlah :

1 kali : ada tamu pejabat (utus daka)

2 kali : ada tamu

3 kali : aba-aba musibah / bahaya

4 kali : baik

5 kali : ada rejeki

6 kali : ada tamu

7 kali : umur panjang / kesembuhan jika sedang berobat

8 kali : pejabat besar datang

Pengecualian

7 kali lalu disusul suara “kiii..” : pertanda buruk, terjadi pertumpahan darah.

“Burung Totoidi juga berbunyi sebagai tanda menjelang pagi dan petang. Bahkan sebelum Utus Daka datang ke sini, kami sudah diberitahu beberapa hari sebelumnya. Kami mendengar suara burung berbunyi delapan kali” ucap seorang translator mengulangi kata-kata pak Gergaji.

Kehidupan Nomaden masih melekat di dalam kehidupan mereka. Setiap ada anggota keluarga yang meninggal mereka selalu berpindah tempat. Mayat dibungkus dengan kulit kayu Andolia (Cempaka) baru dikuburkan. Untuk penanda di atas kuburnya diletakkan sebuah kayu berbentuk silinder (di Lobu berbentuk perahu, dimungkinkan perbedaan budaya gunung dan pantai).

“ Dahulu kami selalu meninggalkan rumah dan pekarangan jika ada salah satu dari anggota keluarga yang meninggal. Karena kami takut, jika arwah yang mati mengajak kami menemaninya di alam kubur “

Angin lembah berhembus di celah-celah Laigan Pangkat, di balik embun pagi yang menetes lentik di ujung daun Enau. Daun yang digunakan untuk membungkus tembakau sosop, mereka menyebutnya Gau. Etika anak tangga yang terbuat dari kayu gelondongan dipecak sebagai simbol ada tidaknya tuan rumah.

Desa tinggal orang Loinang pedalaman yang sangat taat dan santun. Pelajaran yang menarik tentang kesetiaan suami-istri orang Loinang. Ketika hukum adat berkata “mati” bagi setiap orang yang bertindak serong. Monogami sampai mati.

Madu murni menjadi sebuah kenikmatan hasil hutan. Pengembara yang menuju peradaban.

Sistem berpindah ladang setelah tiga kali tanam, mereka membuka hutan baru. Lima sampai sepuluh tahun kemudian, mereka kembali ke tanah semula.

Permainan Pili-pili (baling-baling) dan Patengkang (egrang) begitu lekat di hati.

“Humatok kami menyebutnya sebagai sebuah sistem gotong royong. Dalam membuka lahan, pesta perkawinan atau orang meninggal. “

Mereka berkumpul bakubantu. Kerukunan yang tertanam sejak jaman dahulu masih terjaga hingga kini.

Inilah Indonesia.

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/02/pendidikan-di-pedalaman-balingara-kabluwuk-sulteng-556828.html

Minggu, 17 Maret 2013

Objek Taman Wisata Alam Bancea, Poso SULTENG



TWA Bancea adalah Taman Wisata Alam yang terletak di Desa Bancea, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah.



TWA Bancea merupakan kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

TWA Bancea memiliki beberapa kawasan yang dapat dijadikan sebagai objek-objek wisata alam yang sangat menarik. Beberapa objek wisata tersebut adalah sebagai berikut:

1. Danau Poso
Sebagian besar kawasan TWA Bancea merupakan wilayah perairan bagian dari Danau Poso, yaitu Tanjung Bancea. Daerah Perairan kawasan TWA ini memiliki air tawar yang jernih, sejuk dan tenang sehingga banyak menarik pengunjung untuk berenang atau mandi. Selain itu di Danau Poso pengunjung dapat menikmati pemandangan alam di sekitar Danau Poso dengan menggunakan sampan atau rakit, disamping itu dapat pula melakukan kegiatan memancing ikan air tawar.

2. Pesisir danau Poso
Kawasan TWA Bancea juga memiliki wilayah pesisir/ bibir pantai dari Danau Poso yang sangat indah karena memiliki pasir putih yang unik dan bersih juga pemandangan alamnya yang indah. Daerah ini merupakan daerah yang sering dikunjungi wisatawan untuk rekreasi. Kegiatan wisata alam yang dapat dilaksanakan di sini antara lain berenang/mandi, berjemur di pantai, menikmati pemandangan alam yang indah, berkemah dan pengamatan flora fauna terutama jenis anggrek alam dan kondisi medannya cukup mudah untuk dilalui pengunjung.

3. Wilayah Daratan Kawasan
Daerah ini terletak di bagian barat kawasan, merupakan daerah yang berhutan yang memiliki potensi flora fauna yang tinggi. Biasanya pengunjung memanfaatkan daerah ini hanya untuk lintas alam dan wisata ilmiah untuk kegiatan penelitian/pengamatan flora fauna. Di daerah ini sering dijumpai fauna endemik seperti anoa, burrung Allo, tarsius, dan rusa. Selain itu anda dapat menikmati anggrek-anggrek yang tumbuh alami di TWA Bancea melalui trekking yang mendaki.

4. Taman Anggrek
Taman anggrek ini berada di pesisir Danau Poso. Dapat ditempuh melalui jalur air maupun jalur darat dari Desa Bancea. Di Taman Anggrek ini pengunjung dapat menikmati keindahan jenis-jenis anggrek alami yang dikoleksi dari kawasan TWA Bancea. Taman Anggrek ini dibangun sekitar tahun 1980an oleh Biro Kependudukan dan Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Sub Balai KSDA pada saat itu. Maksud dari pembangunan Taman anggrek ini antara lain untuk mempermudah pengunjung menikmati jenis-jenis anggrek alam yang terdapat di TWA Bancea tanpa harus berjalan dan mencari di kawasan hutan TWA Bancea.

5. Air Terjun
Di TWA Bancea terdapat dua buah air terjun, yaitu air terjun Limba Ata dan air terjun Batu Marato. Air terjun Limba Ata ini bermuara ke sungai Limba Ata yang selanjutnya nke Danau Poso. Lokasi air terjun ini sekitar 5 Km dari jalan raya, kondisi jalan menanjak sekitar 300 m dpl. Tinggi air terjun ini sekitar 100 m. Air Terjun Batu Marato bermuara ke sungai Batu Ata, selanjutnya bermuara ke Danau Poso. Lokasi air terjun berjarak ± 1 km dari jalan raya, melewati nperkebunan rakyat dan kondisi jalan menanjak 200 m. Tinggi air terjun ini sekitar 50 m.


Secara admiinistratif TWA Bancea terletak di 3 (tiga) desa yaitu dua wilayah Desa Bancea dan Desa Panjo di Kecamatan Pamona Selatan, serta Desa Taipa di Kecamatan Pamona Barat Kabupaten Poso – Sulawesi Tengah.
TWA Bancea di tetapkan berdasarkan SK MenHutBun Nomor : 272/Kpts-II/1999, tanggal 7 Mei 1999 dengan luas kawasan ± 5.000 Ha dengan potensi wisata berupa danau, padang mariri, taman anggrek dan lain-lainnya.
Vegetasi yang sering di temukan di TWA Bancea antara lain Jongi (Dillenia Celebica), Lebanu (Neonauclea Celebica), Jabon (Anthocephalus Cadamba), Betau (Calophyllum sp), Nyatoh (Palaquium Obtusifolium), Benoang (Octomeles Sumatrana), Beringin (Ficus Benjamina), Laro (Metrosideros Petiolata), Kase/Kasek (Pometia Pinnata), Kayu Kacang, Paku-pakuan dan beraneka ragam jenis anggrek.

Potensi Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di TWA Bancea yang ditawarkan adalah
 Tanjung Bancea;
 Pesisir Danau Poso;
 Wilayah Daratan Kawasan;
 Taman Anggrek;
 Air Terjun Limba Ata dan Watu Marato; dan
 Padang Rumput Marari.

Atraksi Wisata yang dapat pengunjung lakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
 Berenang dan Berjemur
 Berperahu
 Pengamatan Burung ( Bird Watching )
 Pengamatan Anggrek
 Menelusuri Hutan ( Jungle Tracking )
 Berkemah
 Wisata Ilmiah ( Penelitian dan Pengembangan )
 Photografi
 Panorama Sunrise, dan
 Objek Wisata Pendukung
Referensi: Panduan Kegiatan Wisata Di Taman Wisata Alam Bancea.

Selasa, 12 Maret 2013

Cacing cumi misterius dari Sulawesi



Para ilmuwan baru-baru ini menemukan makhluk misterius di kedalaman perairan antara Sulawesi dan Filipina. Makhluk tersebut memiliki tubuh sepanjang 9,4 sentimeter dan menyerupai cacing dan cumi-cumi sehingga para ilmuwan menamainya squidworm atau cacing cumi.

Cacing cumi itu memiliki sepuluh tentakel yang panjang, menyeruak dari kepalanya. Selain itu, ia juga memiliki enam organ yang disebut nuchal yang memungkinkannya untuk mengecap rasa dan membaui sesuatu di dalam air.

Makhluk misterius itu ditemukan oleh tiga ahli biologi laut yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Scripps Institution of Oceanography in California, pada saat melakukan penjelajahan di Laut Sulawesi pada kedalaman 2,8 kilometer. Observasi mereka menggunakan kapal penjelajah yang dikendalikan dari jarak jauh. "Hewan ini sangat menggoda sebab sangat berbeda dengan ciri-ciri hewan yang telah dideskripsikan sebelumnya," ungkap Osborn dengan antusias.

Cacing cumi yang ditemukan oleh ilmuwan tersebut hidup pada kedalaman 100-200 meter di atas dasar laut. Rentang kedalaman itu diketahui merupakan wilayah yang kaya akan spesies yang belum teridentifikasi.

Cacing cumi yang baru ditemukan itu diberi nama ilmiah Teuthidodrilus samae. Spesies tersebut dikatakan bukan merupakan predator. Mereka memakan campuran tumbuhan dan hewan mikro laut yang tenggelam di kedalaman.

Laut Sulawesi tempat spesies ini ditemukan merupakan wilayah yang terisolasi dari perairan di sekitarnya. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dalam kawasan konservasi yang memiliki beranekaragam bentuk kehidupan dan sejarah geologi yang unik. "Ketika saya mengeksplorasi wilayah tersebut, saya memperkirakan ada lebih dari setengah jumlah hewan yang kita lihat merupakan spesies yang belum teridentifikasi," lanjut Osborn.

Karena sifat-sifat cacing cumi tersebut sangat berbeda dari bentuk kehidupan yang lain, para ilmuwan tidak hanya menggolongkannya sebagai spesies baru, tetapi juga genus baru--tingkatan taksonomi di atas spesies. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters baru-baru ini.

Teks oleh Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Rio Pakava, Anak Tiri Sulteng di Tengah Sulbar

Ditulis oleh Rahmat Azis

Wilayah terpencil di Kabupaten Donggala itu memang lebih dikenal dengan nama Lalundu ketimbang Rio Pakava. Padahal, Lalundu adalah nama lama dari kawasan yang kini menjadi Kecamatan Rio Pakava. Dulu, areal penempatan transmigran asal Jawa, Bali dan Lombok ini disebut Lalundu, yang terdiri dari enam UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi). Wilayah yang berbatasan langsung dengan Sulbar ini merupakan wilayah Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala. Namun, pada tahun 2000, dimekarkan menjadi Kecamatan Rio Pakava. Selain transmigran asal luar Sulawesi, wilayah seluas 17.014,14 kilometer persegi ini juga dihuni oleh etnis Bugis dari Sulawesi Selatan dan juga sebagian kecil etnis Kaili yang tersebar di 14 desa dengan ibukotanya di Desa Lalundu Utama.

Wilayah berpenduduk 22.228 jiwa yang terdiri dari 5.324 KK (kepala keluarga) ini memang terpencil. Berada di pedalaman, Rio Pakava terkepung wilayah Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar di sebelah barat, selatan, dan tenggara. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Pasangkayu, Kecamatan Tike dan Kecamatan Baras di Sulbar. Sementara kecamatan di wilayah Sulteng yang berbatasan dengan Rio Pakava adalah Kecamatan Dolo Selatan, Kecamatan Pinambani, Kecamatan Pipikoro dan Kecamatan Kulawi yang masuk Kabupaten Sigi.

Sepanjang perjalanan, tapal batas antara kedua provinsi ini tidak begitu diketahui karena tidak adanya gerbang yang menandakannya. Untuk mengenali wilayah Sulteng atau Sulbar, hanya berdasarkan pengamatan pada baliho caleg peserta Pemilu 2009 yang mencantumkan daerah pemilihan (dapil). Di dalam areal sawit di Kecamatan Pasangkayu yang dekat dengan Rio Pakava, wilayah Sulteng dan Sulbar justru tidak bisa dipastikan.

Keadaan alam yang tidak menguntungkan inilah yang membuat akses penduduk Rio Pakava ke ibukota Kabupaten Donggala di Banawa memang menjadi sulit. Keterpencilan itu disebabkan tidak ada jalan lain yang bisa dilalui untuk bisa langsung ke kecamatan lain di Kabupaten Donggala. Pasalnya, wilayah ini dibentengi rangkaian Pegunungan Gawalise yang menjulang tinggi.

Padahal, penduduk Rio Pakava dan empat kecamatan di Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulbar tersebut lebih memilih membawa hasil buminya seperti kakao, beras, jagung dan sayuran ke Donggala di Kecamatan Banawa yang lebih dekat. Untuk mencapai Donggala, penduduk Rio Pakava selain harus melintasi empat kecamatan di Provinsi Sulbar, juga harus melintasi Kecamatan Banawa Selatan dan Banawa Tengah.

Karena harus melintasi Provinsi Sulbar, maka penduduk Rio Pakava sering terkena tarikan retribusi di jalan raya yang biayanya tinggi. Agar bebas dari pungutan, masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor harus mengantongi surat jalan terlebih dulu dari Rio Pakava. Surat ini hanya berlaku untuk satu kali perjalanan. Jika tidak, mereka harus membayar pungutan sebesar Rp 50 ribu di perbatasan wilayah yang dilakukan oleh petugas dari Sulbar. Dan saat kembali ke Rio Pakava pun mereka harus mengantongi surat jalan dari Donggala jika tidak ingin dikenai pungutan lagi karena perbedaan pelat nomor kendaraan.

Karena terpencil di pedalaman itulah yang menyebabkan wilayah ini kurang mendapat perhatian Pemerintah. Akibatnya, kecamatan ini minim fasilitas. Jangankan jaringan telekomunikasi, listrik dari PT. PLN pun belum masuk ke Rio Pakava.

Untuk listrik, saat ini penduduk hanya mengandalkan genset dengan daya 3 kilowatt yang hanya dinyalakan sejak pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Satu mesin genset ini rata-rata mampu menerangi 10 rumah tangga dengan menghabiskan solar hingga 5 liter.