Sabtu, 01 September 2012

Gunung Lumut 2284 Mdpl

Gunung Lumut adalah Salah satu gunung yang memiliki pesona panorama alam dan kehidupan masyarakat lokal (tau Taa Wanba) yang masih sangat kental dalam menjalankan tradisi dan kearifan leluhur mereka , Gunung Lumut atau dalam bahasa masyarakat setempat dinamai Tongku BarengeBerada pada Pegunungan Balingara . Meski Gunung Lumut, memiliki Beragampotensi alam yang menakjubkan, kawasan gunung ini masih sangat jarang dieksplorasi para penggemar kegiatan petualangan khususnya pendaki gunung. Salah satu faktor penyebab adalah minimnya informasi yang tersedia mengenai Gunung ini. Selain itu terbatasnya akses untuk lokasi pendakian yang ideal merupakan faktor penyebab lainnya. Gunung Lumut ini secara administrative termasuk dalam wilayah Kabupaten Morowali, akan tetapi akses termudah untuk memulai titik start pendakian dari wilayah kabupaten Tojo Una-una. Selain keindahan alam rimba belantara yang masih jarang tersentuh serta kekayaan aneka ragam satwa merupakan daya pikat yang dimiliki gunung lumut ditambah tantangan jalur pendakian yang belum pernah dibuka, merupakan tantangan yang sangat mengasyikan bagi para pengemar olahraga dan kegiatan pendakian gunung.

Pulau Taupan

Secara administratif pulau Taupan terletak di wilayah Desa Kulingkinari, Kecamatan Unauna, Kepulauan Togean. Pulau yang terbentuk dari gugusan batu karang ini mempunyai pantai dengan hamparan pasir putih yang bersih dan alami. Hal yang paling menarik dilakukan untuk bersantai di tempat ini adalah dengan menikmati indahnya Sunset dan juga sangat baik untuk kegiatan selam ataupun snorkeling. Wisatawan yang ingin mengunjungi pulau ini dapat dengan mudah mengaksesnya, yaitu dengan menggunakan speed boat dari ibu kota Kabupaten (Ampana) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Keindahan alam bawah laut yang disuguhkan adalah salah satu yang terbaik di daerah wisata Kabupaten Tojo Unauna. Selain itu juga terdapat danau laut (laguna) yang merupakan ciri khas dari pulau Taupan ini. Bagi wisatawan yang ingin berekreasi di pulau Taupan ini dapat menginap di Reatret Island ataupun Poyalisa Cottages dan pihak penginapan akan memberikan fasilitas dengan harga yang cukup murah untuk menikmati keindahan alam bawah laut dari pulau Taupan ini.

Cagar Alam Tanjung Api

Kabupaten Tojo Una-una memiliki salah satu kawasan wisata alam yang sangat unik dan fenomenal yang kerap dikunjungi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, yakni Cagar alam Tanjung Api, yang secara administratif pemerintahan terletak di Kec. Ampana Kota Dan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-una Propinsi Sulawesi Tengah. Dalam kawasan ini pengunjung bisa menikmati fenomena alam berupa nyala api dari dalam tanah yang bersumber dari panas bumi dan adanya gua beraliran sungai. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama tanjung api, dimana api berpijar secara alami dari tanah, setiap kali kita mengeruk pasir maka dengan sendirinya api keluar dari kerukan tanah tersebut.

Jika dilihat dari fenomena alam ini, kemungkinan di daerah ini masih tesimpan Liquid Natural gas (LNG) atau gas pijar alam dalam jumlah yang besar namun kekayaan didalamnya tidak bisa dieksploitasi mengingat tempat ini sudah diresmikan menjadi cagar alam pada Februari 1977. Selain itu didekat kawasan ini terletak taman laut yang indah dan alami yang cocok untuk kegiatan snorkelling serta berjemur diatas pasir. kawasan cagar alam tanjung api selain mempunyai fungsi utama sebagai tempat perlindungan flora dan fauna endemik sulawesi juga mempunyai fungsi hidrologis bagi daerah sekitarnya dan sumber air minum bagi warga di desa-desa sekitarnya. air yang berasal dari cagar alam ini mengalir dalam tanah melalui sebuah gua di dalam kawasan dan muncul sebagai mata air di sepanjang pantai labuan. Secara geografis cagar alam Tanjung Api terletak antara 0° 53? sampai dengan 0° 58? LS dan 121° 33? sampai dengan 121° 37? BT. Cagar alam Tg. Api selain berbatasan geografis, juga berbatasan alam dengan desa Labua dan Kel. Dondo (Kec. Ampana Kota), desa Pusungi, desa Tete A dan Tete B (Kec. Ampana Tete) jaraknya ± 500 km dari Palu.

Batas-batas cagar alam Tg. Api secara rinci terdiri dari: * sebelah barat teluk Tomini * sebelah timur teluk Tomini * sebelah utara teluk Tomini * sebelah selatan desa Labuan, Kel. Dondo, desa Pusungi, desa Tete A dan Tete B. Luas dan Status Sesuai surat keputusan Menteri Pertanian No. : 91/Kpts/Um/2/1977 tanggal 21 Februari 1977 ditetapkan sebagai perlindungan api alam di sekitar Tanjung Api dan gua air yang terdapat dalam kawasan cagar alam juga sebagai perlindungan flora dan fauna yang unik yang tumbuh dilokasi sumber api alam / panas bumi. Luas kawasan CA, Tanjung Api: 4.246 Ha. Topografi Umumnya topografi di kawasan CA. Tg. Api berbukit-bukit dengan batu kapur dan karang yang ditutupi oleh jenis pohon-pohonan. Flora Beberapa flora yang banyak tumbuh di CA. Tg. Api antara lain: Pangi (Pangium edule), Kayu bayam (Intsia biyuga), Siuri (Koordersiodendron pinnatum), Palapi (Heritiera sp.) dan lain-lain. Fauna Jenis-jenis satwa yang dapat dijumpai antara lain: Ketam kenari (Birgus latro), Monyet hitarn (Macaca tonkeana), burung-burung (Maleo, Elang, Rangkong, burung-burung air/Kuntul) dan ular. Akses menuju CA. Tanjung Api Menuju CA. Tanjung Api dapat dicapai dengan kendaraan mobil / motor dari Palu - Ampana ± 500 KM (Desa Tete A dan Tete B) kemudian jalan kaki 1 Jam atau dengan speed boat ke lokasi sumber api alam ± 30 menit.

Pulau Una Una: Menjelajah Keindahan Alam nan Subur di Teluk Tomini

Gunung Colo yang dalam Bahasa Bugis berarti gunung korek api, keberadaannya agak menyimpang dari rangkaian jalur gunung api di Indonesia yaitu suatu zona lemah berupa sesar. Terletak pada 0°10' Lintang Selatan dan 121 °36.5' Bujur Timur, gunung vulkanik ini masih terbilang aktif sejak terakhir meletus tahun 1983. Sebelumnya, gunung ini meletus tahun 1898 hingga tahun 1900. Aktivitas vulkanik dan letusan tersebut mengakibatkan terbentuknya sumbat lava yang sekarang dikenal sebagai Gunung Colo.



Letusan terakhir merupakan letusan yang terbilang dahsyat dibandingkan dengan letusan 83 tahun sebelumnya. Tepat tanggal 23 Juli 1983, gunung kecil ini meletus, memuntahkan kepulan awan berwarna kuning setebal 5 kilometer di langit Pulau Una Una. Bau belerang tercium hingga ke seluruh penjuru pulau. Awan panas menghanguskan nyaris seluruh wilayah pulau dan merusak segala jenis tumbuhan di pulau tersebut. Lava dan lahar gunung api menyapu pemukiman penduduk yang dilaluinya. Bahkan, abu letusan gunung api mencapai beberapa daerah di Kalimantan Timur.



Tidak ada korban jiwa saat itu; penduduk berhasil dievakuasi dan diungsikan ke pulau-pulau terdekat dengan menggunakan kapal motor secara bertahap. Mereka mengungsi ke daerah-daerah sekitar pulau, seperti ke Ampana, Pulau Togean, hingga Gorontalo. Aktivitas gunung api yang meletus tersebut berlangsung selama 6 bulan sebelum dinyatakan normal. Berdasarkan hasil penyelidikan terpadu dikatakan bahwa bahwa sumbat lava Gunung Colo sudah habis dilontarkan. Terbentuk 3 (tiga) kawah gunung dengan ukuran yang berbeda pasca letusan. Kawah tertua dan yang paling besar berukuran sekira 2000 m; kawah kedua (kawah muda) berbentuk bulat dengan diameter tidak lebih dari 300 m; kawah ketiga (kawah termuda) terbentuk akibat letusan  eksplosif tahun 1983 dengan diameter sekira 200 m.



Beberapa waktu sejak meletus, gunung ini ditinggalkan tak berpenghuni. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian masyarakat yang dulu sempat mengungsi secara berangsur-angsur kembali ke Pulau Una Una dan membangun kembali kehidupannya di sana. Awalnya mereka hanya datang ke pulau ini sesekali untuk menanam tanaman berumur panjang dan menjadikannya semacam kebun penghasil komoditi pertanian. Seiring berjalannya waktu, beberapa penduduk kembali membangun rumah di Pulau Una Una. Meski dinyatakan bahwa Gunung Api Colo masih aktif dan dapat meletus kapan saja, hal ini seolah tidak menyurutkan keinginan penduduk untuk kembali lagi ke Pulau Una Una. Suku Bugis dan Gorontalo adalah mayoritas penduduk penghuni pulau cantik ini.



Pulau Una Una yang subur dan permai ini memang akibat dari letusan Gunung Colo itu sendiri. Pulau ini kini menjadi penghasil kopra utama bagi Sulawesi Tengah dan juga penghasil cengkeh. Keunikan lain yang diakibatkan oleh dampak letusan adalah pasir di sepanjang pesisir pantai Pulau Una Una ada yang berwarna hitam tercampur lava vulkanik. Hal ini terlihat mencolok sekali jika mengingat bahwa sebagian besar pantai di pulau-pulau lain di sekitarnya adalah pasir putih.



Sejak meletusnya Gunung Colo, kabarnya jumlah populasi rusa meningkat pesat. Penduduk Pulau Una Una bahkan beternak rusa dan mengkonsumsi daging rusa untuk kebutuhan sandang pangan sehari-hari. Kemungkinan penyebab fenomena meningkatnya populasi rusa ini adalah karena letusan gunung terakhir membunuh banyak predator rusa.



Pulau Una Una juga kaya dengan keanekaragaman hayati bawah laut, seperti ikan, udang, kepiting, serta teripang. Selain itu, pulau yang juga disebut Pulau Ringgit ini memiliki potensi wisata bahari yang memesona. Terdapat beberapa titik penyelaman yang cantik yang juga berdekatan dengan Pulau Kadidiri, objek wisata utama di kawasan Kepulauan Togean. Lokasi penyelaman yang terkenal adalah Jack's Point, Menara, Fishomania (The Pinnacle), Kololio, dan Tanjung Apollo. Pada musim-musim tertentu, perairan sekitar pulau ini akan menjadi jalur lintas bagi ribuan barakuda  yang berenang di antara warna-warni terumbu karang.



Untuk mengunjungi Pulau Una Una, Anda dapat menggunakan alat transportasi laut atau speedboat melalui Gorontalo, Pulau Kadidiri, atau Pulau Batudaka. Di Pulau Batudaka, terdapat stasiun vulkanologi yang berfungsi sebagai pusat pengamatan Gunungi Colo.  Mendaki Gunung Colo dapat menjadi tantangan sendiri bagi Anda yang gemar dengan pendakian. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa gunung api ini memiliki jurang-jurang yang terjal sehingga menuntut kehati-hatian saat mendaki tebingnya. Di beberapa bagian, tumbuh subur pakis yang akan menghalangi pandangan akan ke arah jurang.

Masjid Kuno Buatan 1804 di Pulau Una-una


Jika menyebut kepulauan Togean yang letaknya di Kabupaten Tojo Una-Una Sulawesi Tengah, ingatan orang pasti menerawang membayangkan indahnya gugusan pulau-pulau dan hamparan batu karang yang menjadi objek wisata. Namun, banyak pula yang langsung mengingat sebuah pulau yang menyimpan sejarah nasional bahkan dunia, yakni Pulau Una-Una yang pernah luluh lantak akibat letusan gunung berapi Gunung Colo tahun 1983. Berikut Catatan perjalanan ke Pulau Una-Una.

Berwisata ke Kepulauan Togean, serasa tidak lengkap kalau tidak menginjakkan kaki ke Pulau Una-Una. Pulau ini dulunya dikenal dengan nama Pulau Ringgit. Seorang tokoh masyarakat Pulau Una-Una mengatakan, pulau itu diberi julukan Pulau Ringgit, karena di wilayah itu dulunya hanya Pulau Una-Una yang paling kaya.

Pulau ini berisi jutaan pohon kelapa yang hasilnya langsung diekspor ke Malaysia. Bahkan, pada tahun 1960-an, transaksi di pulau ini pun menggunakan Ringgit Malaysia dan bukan Rupiah. Bahkan, yang memberi nama pulau ini adalah orang Malaysia. Menurut warga setempat, Una dalam bahasa Malasia artinya kelapa. Karena kelapa di pulau itu sangat banyak maka diberi nama Una-Una (kelapa-kelapa).

Tahun 1918, pulau Una-Una ini adalah pusat Kerajaan Una-Una. Rajanya bernama Abdurrahman Laudjeng Dg Materru (warga menyebutnya dengan Raja Tua). Bukti adanya kerajaan Una-Una, masih terlihat jelas dari Makam raja-raja tepat di belakang Masjid Jami yang dibangun tahun 1804.

Masjid inilah yang menjadi salah satu lambang kebanggaan masyarakat Pulau Una-Una. Selain bentuknya yang sangat berbau eropa, masjid itu juga menyimpan sejuta kisah ghaib yang hanya diketahui oleh masyarakat setempat.

Konstruksi masjid kuno yang diberi nama Masjid Jami itu, terbuat dari kayu Ulin dari Kalimantan (warga setempat lebih suka menebut Kalimantan dengan Borneo). Arsitekturnya perpaduan antara Eropa, China dan Arab. Lantai keramiknya berasal dari Perancis, sedangkan kubahnya berbentuk kopiah Teuku Umar yang kini menjadi Kubah Masjid Teuku Umar di Banda Aceh. Masjid Jami Una-Una itu pun masih terpelihara dengan baik.

Lantai keramik yang dimiliki masjid tua itupun, sangat unik dan konon menurut masyarakat setempat, tidak dimiliki oleh siapapun di wilayah Tojo-Unauna. Motif yang digambarkan dalam setiap lantai buatan eropa itu, adalah kaligrafi Turki yakni bintang segi delapan (mirip kaligrafi dicover album grup band Dewa) yang memaknai tulisan Allah.

Sejak dibangun tahun 1804, masjid itu nyaris tidak tersentuh pemugaran. Hal itu tampak dari kondisi masjid yang masih asli. Atap seng buatan eropa yang tebalnya hampir 1 cm itu, juga sejak dibangun hingga kini, masih digunakan di bagian kubah masjid. ‘’Dia tidak mudah rusak karena kualitas sengnya yang tebal dan tahan terhadap cuaca. Memang sengaja tidak dipugar, karena kondisinya yang masih bagus dan juga menjadi ciri khas masjid ini,’’ kata Diki Lasahido, salah satu warga menjadi tuan tanah di pulau itu pada suatu kesempatan saat bersama-sama berkunjung ke Pulau Ringgit itu beberapa tahun silam.

Salah satu kisah ghaib yang hingga kini masih dipercayai oleh warga Pulau Una-Una terhadap mesjid tua itu, bahwa sejumlah roh ulama masih berada di masjid itu. ‘’Salah satu contoh, pernah warga di sini salat Maghrib sendirian. Pada saat dia membaca Al-Fatihah, tiba-tiba terdengar suara puluhan orang mengucap kata ‘’Amin!’’ secara serentak. Padahal di masjid itu hanya dia seorang diri yang salat,’’ kata Diki.

Salah satu keghaiban yang dimiliki masjid kuno itu adalah, ketangguhannya saat diterpa larva letusan Gunung Colo. Ratusan rumah milik warga yang berada di sekitar masjid itu, rata dengan tanah dihantam panasnya larva yang mengalir dari letusan gunung berapi. Tapi, atas kekuasaan Sang Khaliq, masjid itu nyaris tidak tersentuh oleh panasnya larva dan masih berdiri dengan kokoh hingga kini.

Julukan Pulau Ringgit dan rakyatnya yang sangat sejahtera untuk pulau Una-Una, sayang hanya tinggal sejarah dan cerita turun-temurun dari warga setempat. Sebab, penduduknya telah lari meninggalkan pulau itu.

Ceritanya, pada tahun 1983, Gunung Colo di pulau itu meletus dan menumpahkan lahar panas, batu serta debu. Rumah dan harta benda mereka habis akibat letusan gunung berapi itu. Warga akhirnya eksodus dan enggan kembali lagi. Mereka menjadi transmigran di luar pulau itu dan tidak lagi mengurus harta benda mereka.

Tercatat, yang kembali lagi ke pulau itu tak lebih dari 100 orang. Namun, kehidupan mereka tidak lagi seperti dulu. Di tengah jutaan pohon kelapa dan potensi laut yang kaya, tapi rakyatnya tetap saja tidak kaya seperti dulu. Mereka menjadi terbelakang.(abdee mari)

GUNUNG COLO


Una Una (juga dikenal sebagai Colo) adalah gunung berapi yang terisolasi di Teluk Tomni, Sulawesi Tengah lepas pantai. Ini adalah situs belerang ekstraksi.

Una Una gunung adalah gunung luas, rendah berapi mengandung 2-km-lebar kaldera dengan kerucut tengah yang kecil. Hanya 3 letusan yang dikenal dalam waktu bersejarah, tetapi 2 dari mereka menyebabkan kerusakan lebih banyak pulau. Letusan terakhir Una Una ini pada tahun 1983 dan diproduksi aliran piroklastik yang menyapu seluruh pulau tak lama setelah semua penduduk telah dievakuasi.

Dalam bahasa daerah suku Bugis, Colo berarti korek api. Menurut pengamatan, keberadaan Gunung Colo yang memiliki ketinggian 238 mdpl, agak menyimpang dari rangkaian jalur Gunung Api di Indonesia. Pada awal 1900 terjadi letusan dan meninggalkan sumbet lava yang kemudian di kenal sebagai Gunung Colo.

Pada 23 Juli 1983, setelah berdiam selama 83 tahun, Gunung Colo Meletus. Letusan dahsyat itu menghancurkan sumbat lava. Awan panas membumihanguskan 2/3 Pulau Una-una. Abu setebal 1 cm menghujani kota Palu yang berjarak 180 km sebelah barat daya. Abu juga menyebar hingga 300 km ke selatan menerpa Sulawesi Selatan

Gunung Mad

Danau Tanamorambu

Untuk mencapai lokasi ini tidak terlalu sulit, dari Bandara palu atau pelabuhan pantoloan Palu anda tinggal melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, sekitar 6 jam menuju Desa Pinedapa di Kecamatan Poso pesisir kabupaten Poso.

Rute pendakian dimulai dari Desa Pinedapa Kecamatan Poso Pesisir. Rute pendakian gunung berketinggian 2535 mdpl ini termasuk panjang dibanding pendakian ke beberapa gunung lainnya di Sulteng, terlebih lagi bila dibandingkan dengan rute pendakian gunung di pulau Jawa, hal ini dikarenakan titik start pendakian di mulai dari desa pesisir yang ketinggiannya sekitar 10 m dpl. Selain itu posisi Gunung Mad yang di kelilingi oleh bukit dan barisan pegunungan Balingara menambah panjang lintasan dan tingkat kesulitan.

Salah satu pesona yang sangat luar biasa di gunung ini adalah Danau Tanamorambu yang terletak di ketinggian 2100 mdpl, ini mengingatkan kita pada Gunung Rinjani dengan danau Segara Anak. Namun di danau ini suasana alamiahnya sangat kental dikarenakan jarang didatangi oleh manusia. Lokasi danau yang tidak jauh dari jalur pendakian membuat lokasi danau ini bagus dijadikan lokasi beristirahat (camp) sebelum maupun sesudah Puncak.

keindahan alam lainnya yakni flora dan faunanya, sering kali pendakian ke gunung ini kita bisa menyaksikan berbagai fauna endemik misalnya Anoa, Tarsius dan Burung Allo yang kerap melintas sepanjang perjalanan. di puncak gunung ini terdapat tringulasi dan dari sini anda bisa menyaksikan keindahan teluk tomini atau lembah napu di kejauhan.

Berikut ini adalah definisi pos/tempat menginap pada jalur pendakian gunung mad.
Pos I. Koordinat LS 01 º 23' 01" BT 120º 35' 08"
Titik air 10 Meter. Vegetasi: Damar(Agatis alba), Rotan(Colamus sp) dll. Elevasi: ± 341 Mdpl. Pos Bayangan. Koordinat LS 01 º 23' 05" BT 120º 34' 37" Titik air 50 Meter. Vegetasi : Paku-pakuan, Rotan (Colamus sp), dll. Elevasi : ± 800 Mdpl. Pos II Koordinat
LS 01 º 23' 08" BT 120º 34' 12" . Titik air tidak ada Vegetasi : Paku-pakuan,Rotan (Colamus sp), dll. Elevasi ± 1041 Mdpl. Pos Bayangan Koordinat LS 01 º 23' 28"
BT 120º 33' 41" . Titik air tidak ada Vegetasi : Damar (Agathis alba). Elevasi: ± 1200. Pos III. Koordinat
LS 01º 23' 49" BT 120º 32' 57" Titik air 100 Meter.Vegetasi : Damar (Agathis alba) Rotan (Colamus sp), dll.Elevasi : ± 1800 Mdpl

Pos Bayangan. Koordinat LS 01 º 24' 04" BT 120º 32' 19" . Titik air 10 Meter. Vegetasi: Paku-pakuan, Damar (Agathis alba) Pandan Hutan dll. Elevasi : ± 1600 Mdpl. Pos Bayangan Koordinat LS 01 º 23' 42"
BT 120º 31' 49". Titik air 15 Meter. Vegetasi : Paku-pakuan, Damar (Agathis alba),Rotan (Colamus sp), Pandan hutan dll. Elevasi : ± 1800 Mdpl. Pos IV Danau Tanamorambu. Koordinat LS 01 º 23' 34" BT 120º 31' 31" . Titik air 10 Meter. Vegetasi : Meranti (Shorea sp),Rotan (Colamus sp),Damar (Agathis alba) Pandan hutan, dll. Elevasi : ± 2139 Mdpl. Pos Bayangan Koordinat LS 01 º 24' 18" BT 120º 31' 05"
Titik air tidak ada. Vegetasi :Rotan (Colamus sp),Damar (Agathis alba), dll. Elevasi : ± 2100 Mdpl. Pos V
Koordinat LS 01 º 25' 02" BT 120º 30' 46" . Titik air tidak ada. Vegetasi : Pohon-pohon santigi, Kalpataru, Kantung Semar (Nepenthes), dll. Elevasi :± 2321 Mdpl. Puncak G. Mad Koordinat LS 01 º 26' 20" BT 120º 30' 30" . Titik air tidak ada Vegetasi : Pohon-pohon santigi Elevasi :± 2545 Mdpl
Bagi teman-teman yang berminat menjejakkan tapak kakinya di puncak gunung mad, untuk deskrifsi jelasnya silakan hubungi Mapala Sagarmatha, di kampus Universitas Tadulako Fakultas Pertanian Provensi Sulawesi Tengah.