Senin, 20 Januari 2014

Orang Katu, Sulawesi Tengah


Orang Katu, adalah penduduk desa Katu kecamatan Lore Tengah kabupaten Poso provinsi Sulawesi Tengah. Populasi orang Katu di desa Katu adalah sebesar 226 orang.

Orang Katu, bukanlah merupakan sebuah "suku kecil", dengan kata lain mereka adalah suatu "kelompok kecil" dari suku Besoa. Mereka memiliki beberapa perbedaan kecil dengan sub-suku Besoa lainnya. Menurut orang Besoa, bahwa orang Katu ini adalah bagian dari sub-suku Besoa (Behoa), karena mereka tinggal di daerah bernama Besoa Kakau, oleh karena itu orang Katu inipun disebut juga sebagai orang Besoa Kakau. Menurut orang Katu sendiri mereka memang termasuk bagian dari suku Besoa. Bahasa yang digunakan oleh orang Katu juga termasuk dalam kelompok bahasa Besoa, tapi mereka memiliki dialek dan beberapa perbendaharaan yang berbeda dengan kelompok sub-suku Besoa lainnya.

Pemukiman desa Katu adalah salah satu desa dari 21 desa yang berada di kecamatan Lore Utara. Saat ini menjadi salah satu desa dari 7 desa di kecamatan Lore Tengah kabupaten Poso provinsi Sulawesi Tengah yang berada pada ketinggian 1100 m dpl dan berada di tengah hutan pedalaman.

Orang Katu berbicara menggunakan bahasa Besoa ketika berkomunikasi di antara mereka, atau dengan sesama sub-suku Besoa lainnya, atau orang Napu, suku tetangga mereka yang menggunakan bahasa Pekurehua. Antara orang Besoa dan orang Napu memang dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa masing-masing.

Tahun 1300 masyarakat adat Katu sudah hidup menyebar di wilayah adatnya, kemudian tahun 1908 Belanda masuk Katu dan memaksa masyarakat katu pindah dari wilayah adat mereka ke suatu tempat yang disebut Bangkeluho, kemudian karena wabah penyakit, masyarakat Katu bergerak kembali ke wilayah adat mereka, kemudian pada tahun 1919 orang Katu dipaksa dipindahkan lagi ke Bangkeluho, tapi masyarakat Katu menolak dan pada tahun 1956 masyarakat Katu mengeluarkan sumpah adat “Totovi Tauna To Ara Iwanua Katu”. Proyek pada tahun 1985 proyek Konservasi Lore Lindu bermaksud memindahkan masyarakat Katu yang ketiga kalinya, tapi masyarakat sudah sepakat dan kembali mengeluarkan sumpah “Iheana Tauna Toi Katu To Barani Mopelahi Wanua Katu, Ina Nadampangi Daana Nunu Dee. (Barang siapa orang Katu yang berani meninggalkan desanya akan ditindis dahan-dahan beringin yang sedang rimbun dan mendapatkan Bala dalam kehidupannya).

Orang Katu adalah penganut agama Kristen Protestan. Menurut penuturan beberapa pemuka masyarakat Besoa, sejak tahun 1929, orang Katu sudah menjadi penganut Kristen. Pada tahun 1909, P.Ten Kate, seorang zending telah ditempatkan di Napu (Kruyt), 1975 :184, kemudian Kristen pertamapun berdiri di Watutau (Napu) dan Doda (Besoa), dan tahun 1913, seorang pemuda menjadi orang Kristen Pertama di Baptis di Napu (Aditjondro, 1979).

Peitua Torae
ketua adat orang Katu
pic pusaka

Segala keputusan adat yang berlaku dalam masyarakat adat Katu diatur berdasarkan musyawarah adat yang dipimpin oleh Ketua Lembaga adat (orang yang dituakan di desa) dan tugas sekretaris mencatat proses musyawarah yang dilakukan dan anggota lembaga adat dan ikut memutuskan dalam musyawarah baik dalam musyawarah adat dalam masalah konflik pengelolaan hutan maupun permasalahan sosial masyarakat adat Katu.

Orang Katu pada umumnya hidup pada bidangi pertanian ladang dan sawa dan berkebun untuk tanaman coklat. Selain itu mereka memanfaatkan hasil hutan untuk mengumpulkan rotan dan apapun yang tersedia di hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

sumber:
toikatuiwanuakakau: sistem land tenure orang katu
nasrualam.multiply.com
adat.fwi: komunitas katu
sumber lain dan foto:
tanah-merdeka.blogspot.com
pusaka: orang katu

Rabu, 18 Desember 2013

Air Terjun Tontouan, Luwuk



Salah satu Objek Wisata yang berada di tengah-tengah Kota Luwuk, memiliki Pesona Keindahan Alam yang indah dan dapat menjadi alternatif Wisata dalam mengisi liburan akhir pekan adalah air terjun mini Tontouan

Objek Wisata alam CM3 (Cepat,murah,menarik,memuaskan). memiliki daya tarik tersendiri karena berada dilembah yang diapit oleh 2 gunung di penuhi tanaman jagung,pisang,pepaya,sayur-sayuran milik masyarakat setempat. Jarak 2 km dari jantung kota dengan waktu tempuh 30 menit.

Selasa, 15 Oktober 2013

Desa SOI, Desa di atas awan


INILAH salah satu desa tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut (MDPL). Untuk mencapai desa ini hanya membutuhkan waktu 2 jam berkendaraan roda dua, namun jalan yang harus di lewati tidaklah mulus dan rata. Di sepanjang jalan kita di hadapi jalanan yang beraspal tidak berbentuk lagi. Memasuki perkampungan, tanjakan curam yang masih berupa jalan tanah membuat kendaraan berkerja ekstra keras untuk menanjakinya, belum lagi jika di lalui di saat musim hujan <<< mmmm semakin menantang >>>

Desa Wanja atau orang sekitar lebih mengenalnya dengan desa Soi. Sangat Ironis, dari desa ini kita dapat melihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu di lembah kota Palu, namun sayang seribu sayang desa ini sendiri belum teraliri listrik. Berbagai janji telah di tebarkan pemerintah untuk segera mealiri listrik ke desa ini, namun warga desa hanya harap-harap cemas menanti datangnya KABAR GEMBIRA itu.

Berada di desa ini sangat menyenangkan, di siang hari cuaca terasa sejuk. Selain itu kita dapat melihat pemandangan lembah palu di satu sisi, di sisi yang lain kita dapat menikmati luasnya hutan dan bukit-bukit laksana gelombang lautan…. begitulah; karena desa ini tepat berada di puncak gunung.

Lokasi : Desa Wanja/Soi Kecamatan Marawola Barat Kabupaten SIGI, Sulawesi Tengah

facebook : waone palu mara

Jumat, 30 Agustus 2013

Danau Wanga, Salah Satu Danau di Ketinggian




DANAU Wanga adalah salah satu danau yang terletak di Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Poso Kecamatan Lore Peore. Sumber daya perikanan danau ini memiliki potensi untuk dikelola dengan baik untuk menjaga stok sumberdaya perikanan pada danau ini.
Danau Wanga yanga ada di kecamatan Lore Piore ini, memiliki luas perairan sekitar 138 Ha. Secara geografis, danau ini terletak dalam kawasan Lore Lindu dalam formasi lembah Napu. Aliran air mengalir dan bermuara pada sungai leriang (DAS). Danau ini terletak di atas pegunungan.
Wanga, termasuk salah satu danau yang dijadikan sasaran restocking oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng. Belum lama ini, bidang perikanan tangkap, yang melakukan penebaran benih ikan di Danau Wanga. Danau yang dikenal dengan banyaknya lumut tersebut, selama ini memang menjadi sumber bagi masyarakat di sekitar danau, untuk mendapatkan ikan. Tidak heran, jika restocking yang dilakukan DKP Sulteng, disambut antusias seluruh warga.

Kamis, 11 Juli 2013

MENYUSURI SEMENANJUNG BALAESANG




TRAVELING menyusuri Tanjung Balaesang begitu melelahkan, jalanan yang penuh lubang di sana sini membuat sepeda motor tak bisa melaju melebihi 30 km/jam. Apalagi di lalui di saat hujan turun, huuuu jalan begitu licin dan genangan air membuat perangkap pada lubang-lubang jalan, di tambah lagi jurang dan tebing yang mudah longsor semakin menambah kehati-hatian. Memasuki desa Walandano ada sebuah pantai kecil yang indah, di kanan kirinya terdapat bebatuan besar sebagai penghiasnya, asik juga nongkrong di atasnya memandang laut sambil menikmati sebatang rokok, di bawah ombak berdebur menabrak bebatuan…hmmm indahnya hidup.

Perjalanan di lanjutkan menuju desa Malei, dalam perjalanan mampir sebentar di sebuah air terjun yang berada tepat di tepi jalan. Walau tak begitu tinggi tapi cukup lumayan buat berfoto-foto ria (narsis). Desa Malei merupakan desa yang cukup luas dan padat, di bandingkan dengan desa lainya desa Malei ini lebih maju, rumah rumah permanen berjejer rapi di sepanjang jalan desa begitu juga dengan bangunan sekolahnya yang berdiri kokoh. Lalu sepeda motor meninggalkan desa malei menuju Rano/Danau Balaesang, kondisi jalanya tidak kalah hancur dengan jalan sebelumnya dan hujanpun mulai turun menambah serunya perjalanan kali ini. Hutan di kanan kiri yang masih terawat baik sedikit menjadi hiburan, kira-kira 45 menit perjalanan akhirnya Rano/danau Balaesang terlihat di pelupuk mata. Tak seperti ku sangka danau ini cukup luas juga, pohon sagu, rawa, pohon kelapa banyak terdapat di tepi danau. Di kejauhan tampak desa Rano, masih perlu beberapa menit lagi untuk sampai ke sana, memasuki desa Rano jalananya masih berupa tanah, rumah-rumah panggung banyak berdiri berjejer di tepi danau, perahu-perahu tertambat rapi, anak-anak asik bermain air menjadikan tontonan menarik.

Hujan semakin deras ketika aku meninggalkan Rano Balaesang, kembali perjalanan menyusuri Semenanjung Balaesang di lanjutkan. Kondisi jalanya tak berupah, masih tetap penuh lubang di sana sini, kali ini jalanya naik turun naik turun bukit membuat kaki harus lincah memainkan rem dan gigi motor untuk menghindari lubang-lubang yang menganga…Sayang waktu sudah memasuki siang hari, dan hujanpun tak henti-hentinya turun, setelah bertanya pada seseorang ternyata desa / manimbaya tak jauh lagi, tapi karena waktu yang telah mepet akhirnya ku putuskan segera kembali ke Palu..

SUMBER : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4651233412484&set=gm.687104591316503&type=1&relevant_count=1&ref=nf

Sabtu, 06 Juli 2013

Sungai Miu & Gumbasa



Letak Geografis

Wilayah Sungai Miu dan Gumbasa secara administratif terletak pada Kabupaten Sigi Biromaru yang beribukota di Biromaru, merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Tengah. Sungai Miu dan Gumbasa termasuk dalam Wilayah Sungai Palu-Lariang, secara geografis terletak di 0º30” LU dan 2º20” LS, serta antara 119º45” -121º45” BT, daerah ini berbatasan dengan Kota Palu di Utara, Kabupaten Donggala dis Barat, Provinsi Sulawesi Selatan di Selatan dan Kabupaten Parigi Moutong di Timur. Luas wilayah daerah ini adalah 10.471,71 Km².

Sungai Miu dan Sungai Gumbasa merupakan anak sungai utama pembentuk aliran Sungai Palu. Kedua sungai ini berada di kawasan hulu DAS Palu yang mengalirkan debit sepanjang tahun.

Potensi DAS Miu dan DAS Gumbasa1.
Sarana dan Prasarana Sumber Daya Air

Sarana dan prasarana bangunan sumber daya air antara lain, bendungan (dam), bendung (weir), saluran irigasi, saluran drainase, bangunan pengendali banjir, tanggul banjir, saluran pengelak banjir dan sebagainya. Bangunan irigasi yang penting di WS Palu Lariang antara lain:a. Bendung Gumbasa. Saat ini mengairi lahan persawahan seluas 6.972 ha (luas fungsional). Kondisi bendung saat kunjungan lapangan (Juli 2007) masih dalam kondisi baik dan terawat. Tetapi kondisi saluran induk pada bulan Juni 2005 mengalami kerusakan karena adanya longsoran lahan yang masuk dan menimbun saluran induk sepanjang 5 km di Desa Sibalaya. Telah dilakukan pengerukan atas timbunan tersebut, tetapi pada bulan Agustus 2005 terjadi timbunan lagi akibat dari putusnya saluran syphon dibawah saluran induk. Upaya-upaya perbaikan telah dilaksanakan dan saat ini Irigasi Gumbasa telah befungsi dengan normal kembali.
b. Bendung-bendung lainnya dalam skala yang lebih kecil dan dilaporkan kondisinya dalam keadaan baik.
c.
Intake PDAM dilaporkan dalam kondisi rusak dan tidak beroperasi secara optimal. Dimasa depan direncanakan pengambilan air dari S.Gumbasa sebesar 500 l/detik.



2.  Air Minum

Kapasitas produksi potensial air minum di Kabupaten Sigi Biromaru/Kota Palu pada tahun 2004 mencapai 399 liter/detik dan kapasitas efektif yang dihasilkan oleh PDAM Sigi Biromaru/Palu adalah 254 liter/detik (63,6%) (BPS Prov. Sulteng, 2004). Sumber air untuk memenuhi kebutuhan air minum Kota Palu dan Kab.Sigi Biromaru diambil dari sungai dan mata air. Pengambilan sumber air dari sungai dimulai pada tahun 1971 tetapi upaya ini tidak berjalan sesuai dengan rencana

3. Potensi Sumber Tenaga

Pada beberapa lokasi dalam DAS Miu dan Gumbasa, khususnya yang berada di daerah hulu Sungai Miu dan Gumbasa, terdapat beberapa titik potensial untuk pengembangan pembangkitan listrik tenaga air (PLTA). Kondisi ini ditunjang dengan beda tinggi (head) yang cukup besar dengan debit air yang konstan sebagai energy potensial untuk menggerakkan turbin-turbin pembangkit listrik.
Lokasi yang strategis tersebut adalah outlet Danau Lindu atau Sungai Rawa pada elevasi +980 mdpl, dengan kapasitas debit berkisar 45 m³/detik, dan outlet Sungai Sopu (awal S. Gumbasa) dengan elevasi + 550 mdpl dengan debit berkisar 100 m³/detik. Selain itu, untuk opimasi penggunaan air Bendung Gumbasa, dapat pula dimanfaatkan airnya bagi pembangkitan tenaga listrik skala mini dengan memanfaatkan jaringan irigasi yang sudah ada. Dengan menggunakan jenis turbin pembangkit untuk head yang rendah, potensi aliran irigasi Gumbasa berpotensi untuk dimanfaatkan bagi pembangkitan tenaga listrik untuk daerah-daerah disekitarnya.
Babarapa lokasi lainnya yang juga berpotensi adalah sungai-sungai yang menghasilkan terjunan 20 – 40 m yang terletak di sisi barat DAS Palu, tepatnya di desa Kaleke, Wera dan sekitarnya. Beberapa investor sebenarnya tertarik untuk melakukan investasi dan telah melakukan studi kelayakan untuk Sungai Rawa dan Sungai Gumbasa. Studi kelayakan telah dilakukan dan pihak investor bahkan telah sampai pada tahapan exspose kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi Biromaru dan Kota Palu, LSM, perguruan tinggi dan dinas-dinas terkait lainnya.

POTENSI SUNGAI LARIANG



Letak Geografis

Wilayah Sungai (WS) Palu Lariang adalah salah satu WS lintas provinsi yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Total luas WS Palu Lariang adalah 14,550 km², dan DAS Lariang yang menjadi lokasi studi dan pekerjaan kali ini merupakan salah satu DAS utama di WS Palu Lariang (A02 – 22). Dengan luas keseluruhan daerah pengaliran sungai sebesar 7.069 km² (atau sekitar 49 % dari luas total WS Palu-Lariang), menjadikan DAS Lariang daerah aliran sungai terbesar di dalam WS Palu-Lariang.



DAS Lariang yang terletak pada posisi geografis 1° 10’ LS – 2° 29’ LS dan 119° 16’ BT – 120° 31’ BT, berada di 3 provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat. Hal tersebut menempatkan DAS Lariang sebagai DAS yang memiliki kompleksitas pengelolaan yang lebih besar dari DAS-DAS atau WS lainnya dalam WS Palu-Lariang, meskipun prosentase terbesar DAS Lariang berada di Provinsi Sulawesi Tengah. Bagian hulu DAS Lariang terletak di dua provinsi, yaitu bagian selatan DAS Lariang berada di Provinsi Sulawesi Selatan (Kecamatan Masamba), sedang bagian utara dan tengah berada di Kecamatan Lore Utara dan Lore Tengah. Bagian tengah DAS Lariang terletak di Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Pipikoro, sedangkan bagian hilir berada di Kecamatan Rio Pakawa dan Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat


II.
Potensi Sungai Lariang1. Potensi Air Permukaan

DAS Lariang mempunyai curah hujan yang cukup tinggi, bahkan di beberapa lokasi, curah hujan dapat mencapai lebih dari 2500 mm per tahun. Hasil simulasi dengan menggunakan DSS-Ribasim tahun 2005 (PT. DDC dan PT. Wahana Adya Consultan) memperlihatkan bahwa ketersediaan aliran permukaan rerata Sungai Lariang hilir berkisar 232.6 m³/detik. Untuk S. Lariang hulu (segmen Paato – Watutau) debit rerata adalah 26.3 m³/detik, segmen Rompo – Doda adalah sebesar 79.1 m³/detik, segmen Gintu – Tuare adalah sebesar 85.4 m³/detik, segmen Lariang 6 ke hilir sebesar 160.4 m³/detik dan segmen Lariang 7 hulu adalah sebesar 169.1 m³/detik. Jadi terjadi peningkatan debit ke arah hilir sungai utama. Potensi air permukaan ini sangat besar jumlahnya dan dapat dipakai untuk berbagai macam keperluan, diantaranya adalah untuk penambahan areal irigasi, baik yang sudah ada maupun yang baru direncanakan (ekstensifikasi), untuk keperluan perkebunan dan ground water recharge scheme, sampai kepada pemanfaatan air; dengan memanfaatkan head yang tersedia, untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala menengah keatas. Selain itu, potensi air permukaan ini dapat pula dikembangkan untuk keperluan rekreasi dan olah raga air serta perikanan darat.
2. Potensi Air Tanah
potensi air tanah tidaklah merata tersebar di DAS Lariang. Mayoritas daerah yang ada mempunyai kondisi air tanah yang langka, hal mana berhubungan erat dengan kondisi topografi wilayah yang berbukit-bukit hingga bergunung. Akifer produktif tinggi dapat dijumpai di daerah hilir DAS, tepatnya di daerah Pasangkayu yang topografinya datar (0 – 2 %), sedangkan di Lembah Napu, sebagian akifer mempunyai kandungan air tanah dengan produksi sedang – tinggi yang pula berhubungan erat dengan kondisi topografi wilayah setempat. Potensi air tanah dapat dikembangkan untuk keperluan irigasi (jika air permukaan tidak mencukupi) dan untuk penyediaan air baku bagi keperluan penduduk dan industri/perdagangan.
3. Potensi lahan

Sebenarnya, sebagian besar DAS Lariang merupakan daerah berbukit dan pegunungan dengan kemiringan lebih besar dari 60 %, sehingga mayoritas lahan di DAS Lariang ini adalah berupa hutan asli yang dilindungi (hutan lindung) sebagai penyangga (buffer zone) dan daerah tangkapan air. Akan tetapi di sebagian kecil daerahnya sangat potensial untuk lebih dikembangkan melalui sistem pertanian, perkebunan dan agroforestry yang dapat menambah penghasilan masyarakat di sekitarnya dan juga bagi pemda setempat. Beberapa lokasi/wilayah yang dapat dikembangkan diantaranya adalah daerah Lembah Napu, mulai dari Desa Kaduaa hingga ke daerahTalabosa (pertanian dan perkebunan), Desa Watumaeta – Winowanga (perkebunan dan pertanian) hingga Watutau (perkebunan) serta Danau Wanga untuk keperluan perikanan darat dan rekreasi.
4. Potensi PLTA

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Sungai Lariang sangat berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan airnya bagi keperluan PLTA. Dari hasil studi peta topografi dan Citra Satelit (Landsat 7 ETH +) serta kondisi geologi kawasan, terdapat sedikitnya empat (4) lokasi yang potensial untuk dikembangkan. Dua lokasi di Kecamatan Lore Selatan dan dua lokasi terdapat di Kecamatan Pipikoro dan/ atau di Kecamatan Kulawi bagian barat.
Ke-empat lokasi tersebut tidak dilalui sesar aktif Palu-Koro, sehingga dari pertimbangan geotektonik, lokasi terpilih relatif aman untuk pembangunan bangunan bagi keperluan pembangkitan listrik tenaga air seperti bendungan, pelimpah, pipa pembawa dan pipa pesat, generator dan turbin, jaringan distribusi dan tail-race.
Dengan pembangunan PLTA yang merupakan sumber energi terbarukan (renewable energy) setidaknya dapat menjawab persoalan kelistrikan di Sulawesi Tengah umumnya dan Kota Palu khususnya yang akhir-akhir ini tidak dapat memenuhi pasokan daya bagi seluruh pelanggan dengan mesin pembangkit yang ada.