Selasa, 09 Oktober 2012
Merayakan Padungku Di Poso
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki adat merayakan panen dengan cara masing-masing. Di daerah Poso, Sulawesi Tengah, ada yang namanya Padungku atau syukuran panen. Karena mata pencarahian utama masyarakat Poso adalah petani, yang jumlahnya hampir 85%, maka perlu dilakukan syukuran atas keberhasilan panen, dengan nama Padungku. Apalagi, salah satu Desa di Poso telah menerima penghargaan dari FAO sebagai Desa dengan hasil pertanian terbaik.
Padungku dilakukan sebagai rasa syukur atas hasil panen dan karena bersumber dari Tuhan, maka hasil panen yang pertama harus dipersembahkan padaNya. Perayaan Padungku juga diharapkan dapar menciptakan rasa persatuan dan kesatuan.
Jika dilihat dari asal katanya, Padungku berarti “telah selesai”. Petani telah selesai memanen hasil taninya, alat-alat tani seperti ani-ani, bajak dan penggiling padi telah selesai digunakan, dan hasil panen telah disimpan di lumbung. Saat itulah disebut Padungku. Dalam kehidupan masyarakat Poso, banyak hal yang mereka percayai sekitar penanaman padi, seperti ketika padi hendak masak, suami dan istri tidur terpisah, dan ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan agar dewi padi merawat padi dengan baik, dan lain sebagainya. Ketika panen telah dikumpulkan, dan hasilnya dimasak kemudian makan malam bersama, saat itulah disebut Padungku, hari raya panen.
Makan bersama dilakukan dengan sebuah prinsip dasar, anak muda yang akan melayani orang tua. Dan selanjutnya akan mengambil makanan sendiri setelah orang tua selesai mengambil makanannya. Yang disajikan dalam Padungku adalah makanan tradisional seperti sagu (dui), woke, dan nasi bambu. Lantas, dilanjutkan dengan berbalas pantun antar suami istri. Kemudian kemeriahan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu daerah (Dero) dan menari dalam lingkaran.
Dalam perayaan Padungku, biasanya seluruh warga desa akan sibuk menyiapkan segala keperluan untuk memasak, seperti kayu, bambu, beras terbaik dan mengundang semua keluarga untuk makan bersama. Makan bersama akan diadakan di Balai Desa, di mana semua penduduk membawa makanannya sendiri-sendiri, dan akan dibagikan nanti dengan penduduk desa lainnya. Proses ini namanya Molimbu, namun kini sudah jarang ditemui lagi, karena sudah dilakukan di rumah masing-masing penduduk. Penduduk akan saling mengunjungi dan makan bersama serta berpesta.
Awalnya, Padungku ini adalah sejenis upacara adat untuk mengucap syukur atas hasil panen yang melimpah, kepada Alo (dewa yang dipercayai sebelum masuknya Kristen) dan leluhur yang telah menjaga tanah sehingga menghasilkan panen yang berlimpah bagi warga Poso. Warga juga mempercayai, dengan menggantungkan padi yang masih bertangkai di atas tungku, akan membuat leluhurnya berlimpah makanan.
Makanan khas selama Padungku adalah Nasi Bambu atau I’nuyu, yaitu beras yang dimasak dalam bambu yang dibakar. Minuman khasnya adalah tuak dari pohon enau yang disebut Baru. Tarian yang dilakukan adalah Modingkula, tarian melompati bambu dan Modero, tari rakyat Poso.
Kita Explore Taman Nasional Lore Lindu Yuk!
Taman Nasional Lore Lindu dapat dikunjungi melalui beberapa tempat diantaranya Kamarora [50 kilometer dari Palu], Wuasa [100 kilometer dari Palu], Besoa [150 kilometer dari Palu dan Kulawi [80 kilometer dari Palu]. Alternatif akomodasi adalah di Desa Wuasa, terdapat penginapan dengan rate antara Rp. 100.000,- hingga Rp. 200.000,- yaitu Sendy dan Monalisa. Selain itu ada juga penginapan di Tomado, Kulawi, Doda, Tuare dan Gintu.
Jika sudah di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, trekking dapat dilakukan, baik dengan berjalan kaki maupun dengan menaiki kuda, selama satu sampai dengan tiga hari. Beberapa contoh rute trekking yang dapat dilakukan dan lamanya waktu tempuh antara lain: Sidaunta – Daratan Lindu [6 jam], Gimpu – Moa [7 jam] Tuare – Moa [6 jam], Moa – Gimpu [7 jam]. Lama waktu tempuh tersebut jika dilakukan dengan berjalan kaki. Dan masih banyak sekali rute-rute lain yang bisa menjadi pilihan.
Di sekitar Taman Nasional Lore Lindu, terdapat setidaknya dua etnis yaitu etnis Lore dan etnis Kulawi. Jika saat panen tiba, atau ada sebuah pesta perkawinan, kita dapat menyaksikan tarian Moraego. Moraego dapat dijumpai di desa Kulawi, Doda di Lembah Besoa dan desa Gintu di Lembah Bada. Dibawakan oleh 6 orang perempuan dan 6 orang laki-laki yang membentuk lingkaran dan saling berhadapan.
Hal lain yang menarik dari masyarakat di sekitar Taman Nasional Lore Lindu adalah pakaian atau kain yang terbuat dari kulit kayu. Di Lembah Napu dan Besoa, kain ini disebut dengan Inodo. Di Bada disebut Ranta. Di Kulawi dan Pipikoro disebut Kumpe. Meski sudah tak sebanyak dulu, tetapi beberapa perempuan masih mengenakan rok yang terbuat dari kain kulit kayu tersebut. Juga penutup kepala untuk pria dewasa.
Di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu terdapat Danau Lindu, berjarak sekitar 63 kilometer dari Palu ke arah selatan. Danau Lindu seluas 3.200 hektar dan berada 1.000 meter di atas permukaan air laut ini terbentuk dari proses tektonik. Berbentuk rawa-rawa yang luas, berbagai macam satwa dapat kita temui di Danau Lindu seperti Anoa, Tarsius, Monyet Hitam Sulawesi, Elang, Kelelawar dan Elang Laut. Di tengah Danau Lindu terdapat sebuah pulau seluas 5 hektar dan terdapat sebuah kuburan.
Sekitar 50 kilometer ke arah selatan Kota Palu, terdapat Bumi Perkemahan Saluki, di mana terdapat sarang burung Maleo. Kapasitas pengunjung bumi perkemahan ini sekitar 500 orang. selain burung Maleo, kita juga bisa menjumpai burung Merpati Hitam Sulawesi, Raja Udang Merah Sulawesi, Cekakak Hutan, Tungging Hijau, Dederuk Merah, Pergam Putih dan Rangkong Sulawesi.
Di Lembah Napu, Besoa dan Lembah Bada, masih di dalam Taman Nasional Lore Lindu, terdapat berbagai peninggalan jaman megalitikum. Berbentuk monumen batu, situs megalit ini diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun SM. Selain situs megalit, di Lembah Napu kita dapat menjumpai banyak spesies burung seperti mandar muka biru, elang, peragam putih dan kipasan Sulawesi.
Lalu, apa saja flora dan fauna khas Taman Nasional Lore Lindu? Di deretan daftar flora ada rotan, pohon ara, aren, kayu damar dan 88 jenis anggrek. Untuk fauna, berbagai macam hewan dapat kita jumpai seperti babi rusa, kera hantu, burung maleo dan 267 spesies burung lainnya, 24 spesies reptil, penyu, dan 21 spesies amphibi. Taman Nasional Lore Lindu menjadi tempat yang sering digunakan sebagai pengamatan burung yaitu di kawasan Danau Tambing dan Lembah Napu.
DESA GIMPU
"Gimpu adalah sala satu Desa tertua di antara semua desa yang ada di kulawi selatan, yang sebelumnya wilayah Gimpu keseluruhan masi bernama Lerro, yang di diami dua etnis etnis Toriuntu dan Totolee. Gimpu adalah arti kata kandang kerbau, yang di hargai 4 ekor kerbau oleh Mantailly kepada etnis Toriuntu, untuk di jadikan kandang kerbau, pada saat itu etnis toriuntu panda di bulu mari, setelah Belanda masuk di daerah kulawi, dan hewan suda mulai berkur Ang, masyarakat toriuntu kembali mendiami wilayah itu sampai saat ini suda beberpa etnis. "
Mengamati burung air di Danau Lindu
Danau lindu merupakan bagian dari ekosistem lahan basah (wetland)yang kaya dengan kenekaragaman hayati terutama burung perairan. Disekitar Danau Lindu ini banyak terdapat rawa-rawa berlumpur yang sangat disukai oleh burung air. Salah satu tempat yang baik untuk mengamati burung-burung air di sini adalah di desa Langko. Sepanjang jalan Desa Langko menuju arah danau, merupakan areal persawahan dan penggembalaan ternak masyarakat. Karena pengaruh limpasan air dari sungai yang mengalir menuju danau, tanah selalu tergenang dan membentuk sebuah daratan lumpur becek ditumbuhi rumput rawa atau herba diatasnya. Dari kejauhan kita bisa mengamati tingkah laku burung Bangau Sandang-lawe ( Ciconia episcopis) berjalan tenang diatas rumput, atau cangak merah (Ardea purpurea)yang tegak berdiam mematung menyembulkan kepalanya diantara daun-daun rumput rawa. Kehidupan burung-burung air disini nyaris tidak terusik oleh kegiatan manusia dan bisa berkembang biak dengan nyaman. Masyarakat Adat Lindu tidak ada yang memburu atau menembak burung-burung air ini. Pada pukul 06.00-09.00 merupakan waktu terbaik untuk mengamati burung air di Lindu. Disamping itu kita bisa menikmati keindahan danau lindu di pagi hari yang terbias warna jingga pada permukaannya. Kita bisa menyaksikan sekawanan belibis (Dendrocigna arquata), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), atau pelatuk besi(Plegadis flacinellus) terbang dalam kelompok besar berpindah tempat mencari makan. Disamping itu kawasan ini juga menjadi tempat bagi beberapa spesies burung migran. Pada waktu tertentu bisa dijumpai trinil pantai, kedidi dan cerek sibuk mencari makan, mematuk-matukkan paruhnya di hamparan pasir danau Lindu. Rimbunnya pepohonan yang tumbuh dipinggir danau digunakan oleh kelompok burung kuntul kerbau yang kontras bulu putihnya dengan hijaunya daun. Sampai saat ini kelestarian burung-burung air dan habitatnya masih terjaga dengan baik, yang tidak lepas dari peran-serta masyarakat Lindu yang sangat menghargai alamnya.
Masyarakat Adat Dataran Lindu
Tahun 1905 di Bulu Momi terjadi perang antara masyarakat Kulawi melawan kolonial Belanda dibawah pimpinan seorang pahlawan Kulawi yaitu Towualangi yang juga disebut Taentorengke. Ketika perang berlangsung, pada pada saat itu pula kolonial Belanda mulai berkuasa di Kulawi untuk menjadikan Kulawi sebagai daerah kerajaan, maka pada tahun 1906 Kolonial Belanda mengangkat Towualangi menjadi raja Kulawi yang pertama. Dan oleh kolonial Belanda wilayah dataran Lindu masuk kedalam wilayah administrasi Kerajaan Kulawi.
Sejarah menunjukkan bahwa pada mulanya penduduk Lindu terdiri 7 pemukiman yang disebut Pitu Ngata. Dan untuk mengatur tatanan hidup masyarakat Pitu Ngata itu, adalah sebuah lembaga yang disebut Maradika Ngata yang terdiri dari empat orang lembaga dengan sebutan 1. Jogugu, 2. Kapita, 3. Pabisara dan 4. Galara. Keempat Lembaga ini berfungsi sebagai Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.
Ketika kolonial Belanda berkuasa di Kulawi, maka pada tahun 1908 dataran Lindu yang terdiri dari Pitu Ngata diresetlement menjadi 3 pemukiman yaitu mejadikan :
1. Penduduk yang bermukim di Langko dan Wongkodono dikumpulkan menjadi satu di Langko.
2. Penduduk yang bermukim di Olu, Luo, Palili dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Tomado.
3. Penduduk yang bermukim di Paku Anca, dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Anca.
Untuk Mengatur tempat pemukiman baru tersebut, maka pemerintah kolonial Belanda menunjuk Lakese menjadi Kepala Kampung yang pertama di tiga tempat pemukiman baru itu, dengan tugas pokok yaitu : membangun rumah tinggal penduduk di tempat pemukiman yang baru dan membuka areal persawahan penduduk di sekitar wilayah Langko. Sesudah penunjukan kepala kampung yang pertama Lakese, sesuai tuntutan perkembangan dari ke-tiga wilayah pemukiman tersebut, berdasarkan perencanaan pemerintah kolonial Belanda maka pemukiman baru menjadi 3 desa, yaitu desa Langko, Tomado dan Anca, sebagaimana yang ada sampai sekarang ini.
Pada tahun 1960 sesuai dengan perkembangan penduduk di kecamatan Kulawi, sebagian penduduk desa Lonca dan Winatu kecamatan Kulawi diresetlemen ke wilayah bagian selatan desa Langko yang disebut Puroo. Atas kebijakan pemerintah kecamatan Kulawi pada waktu itu, sehingga memicu berbagai reaksi keras dari masyarakat Lindu karena merasa integritas wilayahnya terganggu. Masalah yang memicu keadaan pada waktu itu terjadi penembakan hewan kerbau dan sapi secara brutal yang dilakukan oleh Londora Kodu, mantan Tentara KNIL sebagai pejabat kepala kampung Langko, yang ditempatkan oleh pemerintah kecamatan Kulawi yang dijabat oleh Ibrahim Bandu B.A.
Akibat masalah tersebut diatas, maka masyarakat 3 desa itu semakin sulit dikendalikan oleh pemerintah kecamatan Kulawi sehingga masyarakat Lindu diembargo perekonomiannya oleh pemerintah kecamatan Kulawi selama 3 bulan. Akibat embargo tersebut, masyarakat Lindu mengeluarkan ancaman untuk bergabung dengan kecamatan Sigi Biromaru. Ancaman masyarakat Lindu ditanggapi dengan serius pemerintah kecamatan Kulawi dengan mencabut kembali sanksi ekonomi tersebut. Setelah keadaaan masyarakat Lindu menjadi tenang, mulai saat itu pula desa Puroo sudah menjadi satu kesatuan wilayah dataran Lindu sehingga sampai saat ini, desa-desa dataran Lindu menjadi empat desa terdiri dari : Desa Puroo, Langko, Tomado dan Anca yang disingkat dengan PLTA. Dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan dan ketertiban masyarakat adat Lindu, kepala desa dibantu oleh lembaga adat desa. Dan diatas lembaga masing-masing desa dibentuk Lembaga Masyarakat Adat Dataran Lindu.
Masyarakat adat Lindu telah mengenal pembagian zona pemanfaatan dan perlindungan yang ditetapkan oleh nenek moyang mereka yaitu ;
1. Suaka Ngata.
Adalah keseluruhan wilayah adat yang dibatasi puncak bulu/gunung yang disebut diatas.
2. Suaka Ntodea.
Suaka Ntodea adalah wilayah pemanfaatan yang dapat dikonversi menjadi sawah atau tempat pemukiman. Hak pemanfaatan di Suaka Ntodea dibatasi oleh hak-hak perorangan (privat individual), seperti Ombo dan ketentuan lainnya, misalnya larangan menebang pohon enau.
Lahirnya hak perorangan (privat individual) dimulai ketika seseorang membuka Pangale (hutan perawan) untuk dijadikan ladang. Dahulu masyarakat Lindu masih menggunakan sistim perladangan berotasi. Masyarakat mengelolah lahan selama dua atau tiga musim, kemudian diistirahatkan dan membuka ladang di tempat lain, misalnya membuka hutan perawan yang baru atau mengolah ladang yang telah diistirahatkan. Ladang yang diistirahatkan disebut dengan Ngura. Jika seseorang membuka pangale dan menjadikan ladang, tetapi orang itu mengurunkan pengolahannya karena sesuatu pertimbangan, maka Ladang ini sebut Taluboo. Namun tanah itu sudah merupakan milik si pembuka Pangale tersebut.
3. Suaka Nu Maradika.
Suaka Nu Maradika atau diberi nama lain yaitu Lambara adalah tempat perburuan dan melepaskan hewan ternak kerbau. Dan terdapat beberapa lambara Nu Maradika, seperti di Walatana (dekat Langko), Bulu Jara (dekat Tomado), Tongombone (dekat Olu), Kana (dekat Luo/Palili), Bamba (dekat Paku), Malapi (dekat Anca), dan Keratambe (dekat Tomado).
4. Suaka Nuwiata.
Wiata dalam bahasa Lindu berarti roh makhluk yang sudah meninggal atau makhluk “halus”. Di kalangan orang Lindu yang masih memegang teguh tradisinya terdapat kepercayaan kuat yang meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal dunia sebenarnya mendiami daerah-daerah tertentu. Roh itu pada waktu-waktu khusus datang ke tempat sanak keluarganya yang masih hidup. Misalnya pada saat upacara adat panen.
Dalam tradisi orang Lindu, Suaka Nu Wiata adalah wilayah konservasi yang mutlak. Di tempat ini, seseorang tidak dibolehkan masuk apalagi sampai melakukan kegiatan menebang kayu atau kegiatan yang sifatnya merusak hutan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan memperoleh sanksi adat yang berat.
Suaka Nu Wiata tidak hanya terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, tetapi juga terdapat di tempat yang dekat dengan perkampungan. Sehingga di tepi jalan antara desa Langko, Tomado dan Anca terdapat hutan yang cukup lebat. Hutan-hutan ini terletak jauh dari tapal batas Taman Nasional yang ditetapkan pemerintah.
Dalam wilayah Suaka Nu Wiata ini pula berdasarkan pengamatan, ternyata terdapat fokus keong. Dalam istilah kesehatan disebut penyakit Schistosomiasis. Sehingga keadaan ini patut menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini instansi Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala dalam upaya pemberantasan penyakit endemik Schistosomiasis dimasa mendatang.
Taman Nasional Lore Lindu ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 593/Kpts-II/19993 tanggal 5 Oktober 1993 dengan tujuan untuk melindungi areal ini yang memiliki fungsi lindung terhadap Daerah aliran sungai (DAS) Gumbasa, Palu dan Lariang.
Penetapan Taman Nasional Lore Lindu yang mencakup sebagian dari wilayah adat Lindu, sehingga dataran Lindu menjadi Enclave(Kantung penduduk di dalam kawasan yang tidak menjadi bagian dari kawasan lindung) di Taman Nasional Lore Lindu. Dari segi ekologi, penetapan sebagai Taman Nasional selayaknya disambut dengan gembira, karena kawasan itu kaya dengan keanekaragaman hayati. Daerah wilayah Taman Nasional Lore Lindu juga merupakan daerah tangkapan air untuk menyuplai sungai-sungai besar, seperti sungai Lariang yang bermuara di Mamuju, Sulawesi Selatan dan sungai Palu yang bermuara di teluk Palu, Sulawesi Tengah.
Semua desa di dataran Lindu saat ini telah memiliki dokumen KKM (Kesepakatan Konservasi Masyarakat) yang difasilitasi oleh The Nature Conservancy (TNC). KKM ini mengatur tentang pemanfaatan secara lestari dan perlindungan terhadap hutan di Taman Nasional Lore Lindu.
Nurdin Yabu salah seorang Ketua LKD dari Desa Anca mengatakan,“ Sebelum adanya KKM ada kesulitan dari kami untuk memberikan gambaran kepada pemerintah juga pendatang mengenai pengakuan tentang masyarakat adat di Dataran Lindu. Aturan adat kami sangat sejalan dengan konservasi dan penduduk asli di Lindu tidak ada yang merambah hutan. Babirusa, Babi hutan, bahkan Rusa tidak kami buru dan makan, karena menurut kepercayaan setelah meninggal orang jadi rusa sehingga kami ada semacam rasa jijik untuk memakannya. Dengan datangnya pendatang seperti melalui program transmigrasi lokal tahun 1960an awal yang jadi kini desa Puro’o, atau orang Puroo yang pindah ke Kangkuro, saat itu banyak hutan yang dirambah dan satwa semacam rusa sudah susah dijumpai, padahal dulu banyak sekali. Dengan adanya KKM sekarang ini mudah bagi kami untuk memberikan pengertian bagi pendatang tentang adat dan budaya Lindu. Adanya KKM juga lebih menguatkan aturan Adat Lindu, karena wilayah KKM adalah bagian dari wana ngkiki atau suaka wiata yang harus kami jaga keberadaan dan kelestariannya demi menghormati leluhur.”
Sumpah Adat Masyarakat Adat Lindu
Masyarakat Lindu melakukan Sumpah secara adat untuk tidak melakukan pelanggaran berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Musyawarah Adat Pengelolaan Sumber Daya Alam di Dataran Lindu pada peringatan Hari Lingkungan se-dunia 05 Juni 2008. Kegiatan yang dilaksanakan di Baruga Desa Langko atas kerjasama Masyarakat dan Pemerintah Kecamatan Lindu, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dan The Nature Conservancy ini dihadiri oleh pemerintah Kecamatan, pemerintah desa, lembaga adat dan 130 orang perwakilan masyarakat dari 4 desa di Kecamatan Lindu.
Rangkaian kegiatan terdiri rangkaian prosesi adat yang dimulai dengan penyerahan secara simbolis kerbau beserta baju adat, guma (parang), siga dan sarung yang ditaruh di atas dulang (piring tradisional) dari camat kepada lembaga adat. Hal ini dilakukan sebagai simbol penyerahan sepenuhnya penerapan aturan adat Lindu kepada Lembaga Adat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan pongo (sirih dan pinang) kepada Camat sebagai tanda penghormatan. Setelah rapat singkat Lembaga Adat Dataran, Ketua Lembaga Adat Dataran kemudian mengumumkan Aturan Adat Lindu dan menegaskan Aturan Adat melalui penyembelian kerbau dengan pembacaan gane-gane (mantra) yang disaksikan oleh seluruh masyarakat Lindu yang hadir. Kemudian seluruh masyarakat yang hadir melakukan prosesi ” Moelasi pale kasalaa ngata ri Lindu” pada darah kerbau yang disembelih lalu ditempelkan pada kain putih yang artinya membersihkan Dataran Lindu dari kesalahan yang mereka lakukan, melebur kesalahan mereka bersama darah kerbau dan kemudian bersumpah tidak melakukannya lagi.
Musyawarah Adat Dataran Lindu dilakukan untuk mengukuhkan kembali aturan adat di Dataran Lindu yang mulai melemah. Aturan yang dimaksud adalah ”Kapotia Nulibu Todea Ada To Lindu” yang merupakan keputusan bersama yang berisikan tentang Tatanan Hidup Masyarakat Dataran Lindu Terhadap Pelestarian Lingkungan dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya yaitu berupa ketentuan pelanggaran (waya) dan sanksi (sompo) terhadap pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam dan ekosistemnya sebatas tanah ulayat masyarakat adat Dataran Lindu.
Pelanggaran Kelestarian sumber daya alam dan semacamnya yang dimaksud dalam ”Kapotia Nulibu Todea Ada To Lindu” menyangkut pemilikan tanah, kependudukan, penggunaan alat yang mengakibatkan kerusakan sumber daya alam seperti chain saw, strom ikan, racun potas, senapan angin, jerat hewan serta kegiatan pencemaran lingkungan dan mengambil atau menjual tanah secara diam – diam.
Sumber masalah pengelolaan Sumber Daya Alam di Dataran Lindu terbilang sangat kompleks hal ini diakui oleh Camat Lindu Marten Magero bahwa masalah kerusakan hutan terutama di wilayah sekitar sungai Sungai hulu Danau Lindu memang memprihatinkan. Banyak pendatang baru yang illegal yang melakukan penyerobotan lahan di dalam wilayah hutan Taman Nasional Lore Lindu. ”Banyak pendatang baru namun kita sadari wilayah Lindu juga bagian dari NKRI setiap orang boleh tinggal di wilayah ini. namun kemudian yang terjadi dan menjadi masalah adalah banyaknya pengrusakan hutan yang dilakukan karena penyerobotan lahan yang akhirnya merugikan kehidupan kita bersama”. Permasalahan ditambah lagi dengan berkurangnya populasi ikan mujair yang dirasakan oleh masyarakat Lindu seperti yang disampaikan oleh Max Ratuleko penduduk asli Lindu yang juga pensiunan guru bahwa ombo (larangan) untuk mengambil ikan di Danau Lindu dari tanggal 1 Mei 2008 sampai 1 Juli 2008 adalah karena jumlah ikan yang didapatkan oleh nelayan menjadi semakin sedikit.
Dengan adanya Musyawarah Adat yang didalamnya terdapat sumpah melalui prosesi adat dengan menempelkan darah kerbau di kain putih ini maka Lembaga Adat semakin percaya diri menerapkan aturan adat bagi pelanggaran yang dilakukan berkenaan dengan kelestarian sumberdaya alam yang telah tertera di ”Kapotia Nulibu Todea Ada To Lindu”. Mereka percaya jika sumpah dilanggar maka akan menerima bencana atau malapetaka seperti yang dikatakan Daniel Tarese, Ketua Majelis Adat Dataran Lindu ”Mulai sekarang kami tidak ragu lagi menerapkan aturan adat Kapotia Nulibu Todea Ada To Lindu di tanah kami, mereka yang berani melanggar pasti akan merasakan akibatnya”
Senandung Reigo di Pipikoro
“Mbak Ade mau ke Pipikoro?!!” Tiga lelaki itu hampir terlompat dari kursinya. “Itu mustahil mbak. Sekarang musim hujan. Taruhannya nyawa.”
Aku sempat ciut, namun segera teringat kami punya fasilitator yang live in di sana. “Lalu bagaimana fasilitator kita bisa bertahan dalam keadaan seperti itu? Bukankah mereka harus mengunjungi desa-desa untuk pendampingan? “
“Buat kami, apalagi mereka yang tinggal di sana, kondisi itu sudah biasa. Tapi mbak Ade kan belum pernah ke sana, belum tahu kondisinya seperti apa?” katanya sambil menatapku, tampak ragu.
Aku tersenyum. Kalau kalian bisa, kenapa aku tidak bisa? Aku membatin.
****
Pipikoro terletak di kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Di Palu kami bertemu dengan dua mitra lokal yang akan mendampingi perjalanan kami ke sana. Lagi-lagi mereka meragukan keteguhan kami untuk mengunjungi Pipikoro, dan berkali-kali mengatakan, “Tak apa-apa membatalkan monitoring mbak, sebagai gantinya bisa berdiskusi dengan mitra pendamping di Palu saja.” Aku menelan ludah. Separah itukah lokasinya? Atau separah itukah mereka menilai nyali kami?
Untuk menjawab keraguan mereka, aku segera mengepak barang dan belanja perbekalan untuk persiapan di sana.
Lalu dimulailah perjalanan yang memacu adrenalin itu.
Pertama kami menyewa mobil menuju ke Gimpu. Gimpu adalah tempat berakhirnya jalan aspal yang menghubungkan Palu dengan wilayah dataran tinggi Pipikoro. Itulah ‘terminal’ terakhir bagi semua kendaraan roda empat. Untuk sampai Gimpu kita membutuhkan waktu sekitar 4 jam, melintasi hutan perawan di kawasan Taman Nasional Lorelindu. Yup, Gimpu memang terletak dibalik rerimbunan Lorelindu yang termasyur itu. Jalan aspal yang menjadi berkah masyarakat di kawasan ini sudah bolong-bolong dan di beberapa bagian sudah tak ada lagi jejak-jejak aspalnya. Berubah menjadi jalanan tanah yang berdebu. Sepanjang perjalanan kami dimanjakan dengan udara yang sangat sejuk, hutan lindung yang hijau sejauh mata memandang, pohon-pohon tinggi besar dan binatang hutan yang berkeliaran. Jalan yang kami lalui terus menanjak, berkelok-kelok, membuat tubuh kami terlonjak-lonjak ke kiri dan kanan. Dalam hati aku menggumam, “Pemandangan indah begini kok ditakuti!”
Setelah makan siang di Gimpu kami segera mencari tukang ojek yang akan membawa kami ke Pipikoro. Oya, sebelum tahun 2005, satu-satunya cara mencapai Gimpu adalah dengan mengendarai kuda. Saat ini, jalan setapak dari tanah dan kerikil sudah bisa dilalui kendaraan bermotor. Setelah tawar menawar alot kami mendapat harga yang ‘menakjubkan’. Satu motor dihargai Rp. 400.000 untuk pergi pulang. Kami pergi berempat, jadi kami membayar Rp. 1,6 juta untuk perjalanan dari Gimpu (Kec. Kulawi Selatan) ke Kecamatan Pipikoro yang sebenarnya adalah kecamatan terdekat. Ini mungkin harga termahal yang pernah kubayar untuk mengunjungi kecamatan sebelah. Aku mulai meraba-raba seperti apakah perjalanan kami nanti. Bismillah.
Ojek motorku seorang pemuda tanggung berusia dua puluhan, tapi telah memiliki dua anak. Rambutnya panjang sebahu dan sangat pendiam. Satu-satunya kalimat yang diucapkan adalah, “Pegangan yang erat Bu.”
Baru setengah jam berjalan, aku sudah menahan nafas berkali-kali. Jalan berkelok-kelok dengan kiri kanan jurang menganga. Terkadang kami menukik dengan permukaan nyaris vertikal. Kali lain, tiba-tiba kami seperti meluncur dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Tanpa sadar kami menjerit-jerit seperti anak-anak menaiki halilintar. Jika sudah tak tahan, --dan harus kuakui ada rasa takut mendera--, aku meminta berhenti. Kawan kami berujar, saking nyaris vertikal permukaan tanah di Pipikoro, jika menanam kopi, petani tidak menunduk seperti para petani di Jawa, tapi berdiri dengan lahan yang ditanami berada tepat di dada. Jadi jika musim tanam tiba, kita akan melihat petani berdiri berderet-deret seperti sedang menulis di papan tulis. Ya itulah papan tulis mereka. Tempat mereka menuliskan masa depan melalui kopi dan coklat.
Kali lain kami menerabas sungai berarus deras. Para ojek kami beramai-ramai menuntun dan mengangkat motornya sambil terengah menyeberang ke tepi. Ada kalanya kami harus mendorong motor dengan sepenuh tenaga karena kondisi jalan telah melebihi ambang kemampuannya. Sempat pula aku berdiri gamang, mengukur seberapa kemungkinan aku selamat melihat jalan berkelok patah dan jurang terjal di kanannya. Jalan yang kami lalui hanya mampu menampung satu motor. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, nyawa kami betul-betul menjadi taruhan. Kulirik mbak Endang yang berjalan tersendat di belakang motor, tak berani menaikinya. Ada rasa sesal menggumpal. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? Titik-titik keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku memang masih bisa menghalau rasa takut, tapi kenyataan bahwa aku mengajak kawanku ke sini sungguh menyiksaku.
Satu setengah jam perjalanan, kami masih melintasi kondisi jalan yang sama. Lalu kulihat tiang pancang dari bambu ditancapkan di tepi jalan. Di sekelilingnya terlihat tetumbuhan yang layu, seperti baru saja kerubuhan sesuatu.
“Apa itu?” tanyaku.
Ojekku yang pendiam menjawab pendek, “Kemarin bapa pendeta jatuh di situ.”
Jleb!
Aku bergidik ngeri. Setelah itu aku tak bertanya lagi ketika melihat beberapa tongkat yang sama tertancap di tepi jalan. Dengan ujung jilbabku, aku menyeka peluh yang terkadang bercampur dengan air mata. Aku teringat saat aku menagih laporan mitra kami di lapangan dengan menulis tanggal deadline tebal-tebal dengan huruf besar. Padahal aku hanya menanti di belakang meja, sementara mereka harus melalui jalan terjal berliku seperti ini hanya untuk melakukan kegiatan dan mendapatkan data untuk dilaporkan.
Kawan, coba bayangkan bagaimana perasaanku. Seorang manager program yang duduk manis di Jakarta, sementara sekitar 44 kawan fasilitator kami berpeluh, berdarah seperti ini tersebar dari Sumatera hingga Papua. Dadaku sesak dihinggapi perasaan malu. Separuh ragaku mengeluh lelah dan takut, tapi separuh lagi menggelegak penuh semangat. Dalam hati aku bersyukur ngotot mengunjungi daerah ini. Jika aku menyerah, bagaimana aku bisa menghargai kerja keras kawan-kawanku ini? Aku tak ingin menjadi manusia pongah di Jakarta yang semena-mena meminta laporan, sementara aku dibisu-tulikan dengan kondisi lapangan. Aku tak tahan lagi. Aku pun tergugu di punggung motor tua yang berderik-derik menaklukkan jalan setapak mengelilingi gunung-gunung kopi di jantung Sulawesi ini.
****
Pukul lima sore kami tiba di perkapungan. Terlihat rumah-rumah sederhana dari kayu. Hanya sedikit dan jarang-jarang. Sebagian lain terkurung pepohonan tinggi yang baru terlihat saat mendekat. Salah seorang ojek meminta kami berhenti dan menunggu. Kami pun beristirahat sejenak. Tak berapa lama, ojek yang merangkap guide itu datang lagi.
“Ibu ade dan Ibu Endang silakan berjalan di depan. Bapak Anto dan bapak Oyong (nama teman kami dari Palu) di belakangnya. Kami akan iringi paling belakang,” katanya serius.
Haduh. Apa pula ini?
Terdengar sayup-sayup suara musik tradisional mengalun. Makin dekat makin keras, berdentam-dentam. Suara nyanyian dengan nada tinggi menyobek ketenangan senja itu. Dari jarak sekitar 20 meter, terlihat ratusan masyarakat menyemut menghadap kami. Beberapa tetua adat mengenakan pakaian khusus tampak menari sambil mengacung-acungkan golok. Penari ini berbaris dan melompat-lompat menuju tempat kami. Senyumnya terkembang. Tangan kanan mengayunkan golok, tangan kiri melambai kepada kami. Kami berhenti di persimpangan jalan dan guide kami berbisik, “Itu tarian selamat datang. Kami sudah menyiapkan sejak seminggu yang lalu.”
Ya Allah.
Acara tari-tarian masih berlanjut. Kelak aku mengetahui, tarian selamat datang itu dikenal dengan nama “Reigo”. Reigo dibawakan untuk menyambut tamu atau syukuran hasil panen. Kulirik Mbak Endang yang berdiri terpaku di sebelahku. Sesekali punggung tangannya menyeka air mata yang meluncur tanpa mampu ditahan.
Seorang pendeta maju memimpin doa. Doanya sangat panjang, namun aku hanya mengingat kalimat awalnya yang menyentuh hati. “Ya Tuhan yang bersemayam di dalam kerajaan surga. Terima kasih telah menyertai tamu-tamu kami yang pemberani ini. Terutama nona-nona dari Jakarta ini. Sungguh Tuhan, hanya syukur kepadamulah yang tak henti-henti kami lantunkan. Engkau yang maha baik, mohon berkatilah pertemuan kami ini……. “
Entah bagaimana aku menanggapi sambutan yang gegap gempita ini. Kelak aku tahu, desa Porelea ini memang sangat jarang dikunjungi tamu. Jangankan tamu dari Jakarta, petugas pemerintahan dari kecamatan atau Kabupaten saja bisa dihitung dengan jari yang datang ke sini. Saking terpencilnya, desa ini hanya memiliki satu SD swasta yang muridnya masuk sekali atau dua kali seminggu. Guru aktif yang mengajar adalah istri kepala desa dan seorang gadis muda yang tidak memiliki kualifikasi sebagai pengajar. Ketika ibu kepala desa mengikuti pertemuan dengan kami di balai desa, sekolahpun libur. Anak-anak berlarian dan berjinjit-jinjit menonton kami. Lulus SD mereka akan menikah dan memiliki anak. Amat sangat sedikit yang meneruskan hingga SMP, karena melanjutkan sekolah berarti harus tinggal sendirian di kota.
Di depan SD tua itu ada rumah kayu yang nyaris rubuh. Aku bertanya bangunan apa itu?
Anak-anak menjawab, “Rumah itu dibangun untuk ibu guru yang mau mengajar di sini. Tapi sejak dibangun sampai sekarang, tak ada satupun guru dari kota yang mau ke sini.”
Ya Tuhanku….
Pendidikan dan kesehatan adalah masalah paling serius di wilayah ini. Tak ada bidan apalagi dokter. Semua penyakit, ringan atau berat, juga kelahiran bayi semua ditangani oleh dukun. Dalam pertemuan di balai desa terungkap, jika kehamilan bermasalah, bisa dipastikan baik ibu maupun bayi tidak selamat. Tak ada peralatan yang memadai. Jika di bawa ke puskesmas, membutuhkan waktu berjam-jam dengan kondisi jalan yang mengerikan. Dengan tubuh sehat dan segar bugar saja, aku nyaris menyerah, bagaimana seorang ibu hamil atau orang sakit bisa menjalaninya?
Mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan memadai di Porelea- Pipikoro ini ibarat si pungguk merindukan bulan.
Aku menyaksikan bagaimana fasilitator kami, Budiansyah, asal Gorontalo tengah menyemangati ibu-ibu untuk menyampaikan usulan. Ya, hari itu kami memang berdiskusi mencari jalan keluar bagi keterisolasian desa ini. Sekolah tak ada. Klinik kesehatan tak ada. Sementara kami bukan pemerintah yang bisa menyediakan fasilitas publik itu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menjembatani usulan dan menyediakan alternatif kesehatan dan pendidikan yang murah dan memungkinkan untuk sementara, sampai pemerintah melirik dan memberi perhatian kepada desa ini.
Budi dan kawan-kawan kini telah mengembangkan sanggar pelayanan masyarakat yang melayani pendidikan dan kesehatan cuma-cuma. Dukun-dukun bayi yang ada di desa-desa dilatih selama beberapa hari mengenai standar persalinan dan penanganan penyakit sederhana. Percuma saja kami mengharapkan pelayanan dari bidan atau dokter, karena seperti yang disampaikan dalam pertemuan desa, tak ada satu bidan atau dokter yang mau tinggal di sini. Kader-kader desa yang penuh semangat juga dilatih untuk menjadi sukarelawan yang mengajar anak-anak putus sekolah, membantu Budi dan kawan-kawan. Toh Fasilitator kami tak selamanya bisa tinggal di sana. Ada saatnya mereka kembali atau berpindah ke tempat pengabdian yang lain. Kader desalah yang harus meneruskan.
Kini sanggar layanan masyarakat telah berdiri. Ibu-ibu hamil bisa memeriksakan kehamilan dan mendapatkan makanan tambahan. Obat-obatan tersedia, meski masih terbatas jumlahnya. Anak-anak putus sekolah belajar menulis dan berhitung. Mereka berebutan membaca buku cerita yang masih sangat sedikit jumlanya. Sebuah doa terucap di dalam hati. Mudah-mudahan banyak penerbit yang berbaik hati membantu kami.
Di saat yang sama teman kami di Palu terus berjuang untuk menghubungi dinas pendidikan dan kesehatan. Hasil terakhir, lokakarya digelar dan menghasilkan beberapa kesepakatan untuk ditindaklanjuti.
Setelah tiga hari menginap di rumah kepala desa yang sangat sederhana dan mengunjungi desa lain (Lonebasa) yang berjarak satu jam perjalanan dengan motor, kami kembali.
Ketika motor kami mencapai Gimpu dan menyadari diriku tetap utuh sehat walafiat, kujatuhkan lututku ke tanah. Terima kasih ya Allah, ucapku penuh syukur. Kupeluk mbak Endang erat-erat. Perjalanan ke Pipikoro telah memberinya pengalaman pertama yang menyentuh hatinya. Dan entah mengapa, ia menjadi lebih pendiam setelah itu.
Masih panjang jalan yang harus dilalui. Tapi melihat semangat teman-teman di lapangan, aku tahu, misi ini akan berhasil. Insha Allah.
http://adesiti.multiply.com/journal/item/137?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Langganan:
Komentar (Atom)
