Rabu, 22 Agustus 2012

Menikmati Gemercik Air di Saluopa


Setelah mengunjungi danau poso, ada baiknya jika singgah terlebih dahulu ke obyek wisata Air terjun Saluopa. Butuh waktu sekitar satu jam untuk untuk mencapai lokasi ini dari pusat kota Tentena. Dari Kota Tentena sebaiknya menyewa angkot menuju tempat ini karena untuk mencapai tempat ini kita harus menggunakan angkutan ke lembah bada yang frekuensinya tak tentu tiap harinya.

Air terjun Saluopa merupakan air terjun yang mempunyai 12 tingkatan atau undakan. Letaknya sangat cantik, air mengalir dengan deras dari undakan paling atas sampai undakan paling bawah. Undakan-undakan ini terbentuk akibat proses pengikisan air terhadap batu yang melintang, proses ini mirip dengan proses pembentukan stalaknit dan stalaktit pada gua-gua yang ada di Indonesia. Batu yang tekikis tersebut merupakan jenis batu kapur. Walaupun batuan-batuan ini terkena air dan sedikit terkena sinar matahari, namun tekstur batuan tersebut tidak menjadi licin berlumut bahkan tekstur batuan-batuan tersebut cenderung kasar seehingga kita dapat berpijak pada batuan-batuan tersebut untuk menaiki undakan-undakan pada air terjun Saluopa ini dari mulai undakan terbawah sampai dengan undakan teratas. Air terjun ini berada di areal hutan tropis dengan pohon-pohon besar memayungi tempat ini dari teriknya sinar matahari. Rapatnya hutan ini membuat udara di areal air terjun ini sangat segar dan membuat pikiran menjadi benar-benar rileks.

Tidak mudah memang untuk mencapai air terjun yang indah ini, kita perlu melewati jalan yang masih berbatu dan berdebu. Sepanjang jalan kita akan melewati perkebunan cokelat dan beberapa kampung bali yang ada di kota Tentena. Namun perjuangan melewati jalan berbatu menuju lokasi akan terbayar lunas ketika melihat cantiknya air terjun ini. Kita cukup mengeluarkan uang Rp.1000 saja untuk menikmati keindahan air terjun Saluopa ini.

http://travel.detik.com/read/2010/12/08/203230/1512261/1025/menikmati-gemercik-air-di-saluopa

Ketika Logika dan Mitos Bertemu di Lembah Bada


Padang rumput terbentang luas sejauh mata memandang, kalimat itulah yang paling tepat untuk mendeskripsikan Lembah Bada di kawasan Hutan Lindung Lore Lindu. Keberadaannya yang sulit untuk diakses dengan jalan yang sangat sulit untuk ditempuh membuat suku Lore di Lembah Bada ini cukup sulit terjamah oleh wisatawan. Apa saja sih sebenarnya yang ada di Lembah nanindah ini? selain pemandangan yang luar biasa indah, penduduk yang ramah, juga terdapat patung-patung megalitik yang jumlahnya sangat banyak tersebar di seluruh lembah. Setiap patung diberi nama oleh penduduk, biasanya dengan nama tempat ditemukannya. Antara lain patung Palindo, Loga, Torompana, dan Tarae Roe.

Menurut mitos patung Palindo yang posisinya miring diakibatkan karena pada saat orang-orang Toraja ingin menyerang Lembah Bada, mereka mengakui kekuatan suku Lore di lembah ini, kemudian orang-orang Tora (begitu biasa Pak Henrik menyebut orang Toraja) menyimpulkan bahwa Patung Palindo inilah yang merupakan sumber kekuatan orang Lore. Kemudian mereka berusaha memutar arah patung itu, tetapi apa daya mereka tidak berhasil dan berakhir dengan delapan orang terjepit di bawah patung itu, sehingga patungnya pun miring. Hal ini dibuktikan dengan adanya tulang-belulang di bawah patung tersebut. Namun menurut pak Gfuewgf, besarnya populasi kerbau di daerah ini menyebabkan patung Palindo dijadikan sebagai alat untuk menggaruk badan mereka, sehingga patungnya pun miring, hal ini dibuktikan dengan adanya bekas gesekan pada bagian samping patung.

Menurut Pak Henrik, banyak kekuatan mistis yang terdapat pada patung ini, salah satunya adalah kesulitan mencarinya. Orang yang menemukan patung-patung ini biasanya justru orang-orang yang tidak berniat mencarinya. Contohnya saja ada petani yang menemukan patung dan kemudian dia menandai jalan pulangnya, namun dia kembali, patungnya sudah tidak ada. Katanya sih karena patungnya patung wanita yang sedang ingin mandi jadia dia memang tidak ingin ditemukan. Tapi kalau menurut Pak yhgfejy waktu pertama kali patungnya ditemukan adalah saat musim kemarau sehingga patungnya terlihat, sedangkan waktu tinjauan kembali merupakan musim hujan sehingga air melimpah dan menutupi batu tersebut.

Yang unik dari patung-patung ini adalah semuanya menghadap ke satu arah, yaitu ke Patung Palindo di Padang Sepe. Jika dilihat dari topografinya mungkin dulu Lembah Lore ini merupakan danau dan pusat pembuatan patung megalitik adalah di Padang Sepe, karena dari jenis batunya semuanya sama. Kemudian orang ingin mengangkut patung ini menyebrangi danau, tapi sayangnya semua jatuh di danau sehingga yang bisa terangkut sampai di seberang hanya dua patung.

Untuk menyelamatkan letak patung yang kadang sudah sulit dijangkau seperti Patung Torompana yang terletak hanya dua jengkal dari jurang, para tetua adat harus mengadakan upacara dengan membawa persembahan. Hal ini untuk mencegah jatuhnya korban dan membuat patung tetap terjaga di tempat yang akan diletakkan berikutnya.



Patung Megalitik yang tersebar ini bisa kita lihat di seluruh Lembah Bada. Berdasarkan letaknya ada yang mudah dijangkau dan ada juga yang sulit. Namun pemerintah sudah mulai membuat infrastruktur yang baik sehingga jalan ke Patung Palindo bisa dengan mudah disusuri. Sama sekali tidak dipungut biaya untuk melihat situs-situs megalitik ini dan jika ingin mendengarkan cerita dan fakta, kita bisa bertanya pada Pak Henrik yang lebih sering dipanggil Tetenel dan Pak Agus yang biasa dipanggil Papa Rolan oleh orang-orang di Lembah Bada.

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/082112/1512520/1025/ketika-logika-dan-mitos-bertemu-di-lembah-bada

Menikmati Indahnya Danau Poso


Mengunjungi poso belum lengkap jika belum menikmati danau poso. danau poso merupakan danau terbesar ke 3 di Indonesia setelah danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Singkarak di Sumatera Barat. Danau Poso berada di kota tentena yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten poso sekitar 58 kilometer dari Kota Poso dan sekitar 283 kilometer dari kota Palu.

Danau poso merupakan danau yang terletak pada ketinggian lebih dari 600 meter diatas permukaan laut.danau ini mempunyai luas kurang lebih 32.000 hektar. Air yang jernih serta pemandangan alamnya yang dikelilingi gunung akan membuat siapapun jatuh cinta kepada danau ini. Danau ini juga memiliki pasir putih yang mengkilat indah seperti pasir putih-pasir putih di pantai. Masih terjaganya ekosistem danau ini menjadikan danau ini selalu terlihat segar, siapapun pasti tidak akan kuat menahan godaan untuk tidak bermain air di danau ini.

Keindahan danau ini cukup menggaung di luar negeri, tak heran banyak juga wisatawan mancanegara yang sengaja mengunjugi danau ini terlebih ketika Festival danau Poso yang diadakan setiap tahun oleh pemerintah setempat. Jika ingin melakukan penjelajahan danau maka kita dapat menyewa perahu motor yang ada di terminal kapal tentena atau ikut bersama warga yang akan menuju wilayah peura di ujung danau poso.

Ketika menyusuri danau poso, selain akan disuguhi pemandangan sekeliling danau poso berupa bukit-bukit hijau dan hutan yang masih terjaga, kita juga dapat melihat sekumpulan batu-batu yang menyerupai komplek batu terapung. kumpulan batu tersebut oleh masyarakat diberi nama Watu ngonggi dan watu asa mpangasa angga. Watu ngonggi sendiri adalah batu yang bisa berbunyi. memang batu batu tersebut dapat berbunyi jika diketuk sehingga dipercayai bahwa watu nggonggi merupakan alat tabuh yang dapat dipakai untuk menandai sesuatu. sedangkai watu asa mpangasa angga adalah batu yang terdapat jejak pengasahan parang, uniknya jejak asahan parang tersebut tidak dapat dihilangkan meskipun banyak warga sekitar yang mencoba menghapus jejak pengahasahan parang tersebut sehingga banyak juga warga yang menyebut batu ini dengan nama batu setan.

Selain kumpulan batu-batu tersebut, di pesisir danau poso tepatnya di daerah tando bone terdapat tugu belanda yaitu sebuah tugu yang dibangun oleh keturunan tentara belanda yang tewas saat perang dulu. Tak jauh dari sana, mata kita dimanjakan dengan pemandangan sawah-sawah hijau lengkap dengan kerbau-kerbaunya, pemandangan yang menyadarkan betapa indahnya negeri indonesia.

Menjelajahi danau poso memang tidak cukup hanya satu hari, karena banyak sekali keindahan alam yang dapat ditemukan di sekitar danau. akses menuju danau poso ini bisa dilakukan dengan beberapa cara diantaranya : menggunakan bus dari palu menuju poso kemudian dilanjutkan dari poso menuju tentena, atau langsung menuju Tentena dengan menggunakan mobil pribadi atau sewaan. sedangkan untuk akomodasi, penginapan atau hotel banyak tersedia di pinggir danau (dekat dengan terminal kapal tentena) dengan range harga antara 50-150 ribu rupiah permalam. namun jika kita ingin tempat yang nyaman dan tenang mungkin tando Bone Cottage yang lokasinya terletak di Tando Bone (sekitar 20 menit menggunakan kapal) dapat menjadi pilihan.

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/083608/1512572/1025/menikmati-indahnya-danau-poso

Berkunjung ke Kampung Bajo


Togean, kabupaten Tojo Una-una Sulawesi Tengah. Pulau Papan merupakan pulau kecil yang berada di tengah laut yang dikelilingi oleh pemukiman kayu khas suku bajo.

Sudah tidak asing lagi jika suku bajo dan laut merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Laut merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat bajo di pulau papan ini. Suku bajo merupakan petualang laut,dahulu mereka hidup dengan berpindah-pindah namun sekarang sudah banyak suku bajo yang hidup menetap di pesisir-pesisir laut. Suku bajo sendiri tersebar di timur perairan Indonesia diantaranya di flores, pulau moyo, perairan banda, laut sulawesi,dan teluk tomini. Pulau Papan bukanlah suatu pulau yang besar, luas pulau ini tidak lebih 1 km persegi. Pulau ini hanya dijadikan tempat untuk mendirikan sarana ibadah dan sanitasi saja sedangkan rumah-rumah tinggal dibuat mengelilingi pulau ini dengan tetap berpatok pada dasar laut.

Rumah orang bajo terlihat sangat sederhana hanya terdiri dari papan sebagai dinding dan batang pohon jenis bakau yang tahan air sebagai penyangganya. Walaupun terlihat sederhana namun suku bajo di pulau papan ini tidak anti terhadap teknologi dan informasi.Beberapa rumah terlihat memasang parabola untuk memperjelas saluran televisi, sedangkan yang lainnya cukup dengan mendengarkan radio saja untuk mendapatkan informasi tentang keadaan yang sedang terjadi di luar sana.

Semua pria di kampung bajo ini berprofesi sebagai nelayan sedangkan para wanita bekerja di rumah atau membantu mencari ikan di sekitar rumah. walaupun penghasilan masyarakat bajo ini terbilang hanya cukup untuk sehari-hari namun mereka tidak pernah mengeluh, mereka selalu berbahagia di tengah kesederhanaan. Pak ahyar merupakan salah warga kampung bajo pulau papan, sehari-hari beliau hanya berburu ikan di kepulauan togean teluk tomini. Penghasilan beliau hanya cukup untuk membiayai makan sehari-hari namun beliau tidak berniat untuk beralih profesi karena bagi beliau laut merupakan sumber hidupnya dan laut tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya.

Eratnya hubungan masyrakat bajo dan laut dapat dilihat dari lingkungan laut yang berada disekitar perkampungan ini. Masyarakat bajo sangat menjaga kelestarian laut karena laut merupakan sumber penghidupan mereka sehingga masyarakat bajo ini sangat menjaga ekosistem perairan di sekitar pulau papan ini. Senang sekali rasanya kami dalapat merasakan kesederhanaan masyarakat bajo pulau papan ini. sebelum pulang, kami diberi cinderamata berupa bia (cangkang kerang yang dapat ditiup) oleh salah satu warga yang ada di kampung bajo pulau papan ini.

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/083711/1512580/1025/berkunjung-ke-kampung-bajo

Perayaan padungku.


Perayaan padungku. perayaan ini dilakukan sebagai simbol ucapan rasa syukur masyarakat tentena yang sebagian besar berprofesi sebagai petani atas hasil panen yang telah mereka raih.

Padungku sendiri dapat diartikan sebagai nasi yang dimasak dengan menggunakan bambu atau orang jawa barat mengenalnya dengan nama nasi lemang pada awalnya pembuatan padungku ini memang menggunakan beras hasil panen masyarakat namun, seiring banyaknya warga tentena yang memiliki profesi lain dan juga dengan meningkatnya penduduk pendatang kini beras yang digunakan untuk pembuatan padungku merupakan beras yang dibeli di pasar yang ada di kota tentena.

Cara membuat padungku sendiri cukup sederhana, beras yang telah dicuci bersih dimasukan kedalam bambu yang berukuran 75-100 cm kemudian diberi santan agar rasa nasi menjadi gurih lalu dimasak dengan cara dibakar. perayaan padungku merupakan perayaan seluruh warga kota, seluruh masyarakat membuat padungku lengkap dengan lauk pauk pengiringnya. p

Pada hari perayaan padungku seluruh rumah membuka pintu rumah mereka selebar-lebarnya agar banyak tamu yang datang. Warga tentena sangat terbuka dengan siapapun. Kerabat, teman, bahkan orang yang tak dikenalpun boleh datang mengunjungi rumah dan akan disambut dengan sangat ramah oleh tuan rumah yang kemudian akan mempersilahkan kita mencicipi hidangan yang disajikan. Jangan khawatir masalah makanan disini, walaupun sebagian besar penduduk disini memegang kepercayaan nasrani namun tingkat toleransi terhadap warga yang beragama lain tergolong tinggi.

Mereka memisahkan proses pembuatan makanan halal dan non halal. bahkan terkadang mereka hanya membuat makanan halal saja sebagai pelengkap padungku seperti opor ayam, ikan bakar ataupun soto kaledo yag merupakan makanan khas Sulawesi tengah. setelah puas menyantap hidangan padungku di rumah warga, kamipun lantas diberi "oleh-oleh" berupa dua buah nasi padungku. Sudah menjadi hal yang lazim disini, sang tuan rumah memberikan buah tangan kepada siapun yang berkunjung.

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/083830/1512605/1025/bersuka-cita-dalam-perayaan-padungku

TANJUNG API


Jika Anda berada di Ampana, sempatkanlah untuk singgah ke Tanjung Api.Tanjung Api sendiri adalah sebuah cagar alam yang berada di kabupaten Tojo Una-una. Lokasi ini berada sekitar 13 Km dari pelabuhan Ampana. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat menyewa katinting (perahu kayu bermesin) seharga Rp350.00 dapat digunakan oleh 10 orang.

Selain cagar alam yang menyimpan kekayaan flora dan fauna, tanjung api juga banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun asing karena di tempat ini terdapat sebuah sumber api yang menyala secara alami dari perut bumi. Api berpijar secara alami dari tanah, setiap kali kita mengeruk pasir maka sengan sendirinya api keluar dari kerukan tanah tersebut. Jika dilihat dari fenomena alam ini, kemungkinan di daerah ini masih tesimpan Liquid Natural gas (LNG) atau gas pijal alam dalam jumlah yang besar namun kekayaan didalamnya tidak bisa dieksploitasi mengingat tempat ini sudah diresmikan menjadi cagar alam pada Februari 1977.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Tanjung Api ini adalah ketika sore menjelang malam, karena selain api akan terlihat lebih jelas, kitapun dapat menikmati matahari terbenam dengan indah selama perjalanan. Sungguh kekuasaan Tuhan luar biasa karena walaupun api terus menyala dari tempat ini namun hutan di sekelilingnya tidak ikut terbakar. Ekosistem di tempat ini juga sangat terjaga,flora dan fauna endemik sulawesi hidup disini dan terumbu-terumbu karang yang menjadi rumah bagi jutaan hewan laut masih memancarkan pesonanya untuk dikunjungi

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/083837/1512609/1025/menyaksikan-fenomena-alam-di-tanjung-api

Kesegaran di Air Terjun Salodik


Ketika singgah di Kota Luwuk, jangan lewatkan untuk menikmati keindahan air tejun Salodik di desa Salodik kecamatan luwuk Kabupaten Banggai. Letak air terjun ini berada tepat di sisi jalan yang menghubungkan kecamatan luwuk dan kecamatan pagimana. untuk menuju air terjun ini diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kota luwuk melewati jalan yang berkelok tajam namun hijaunya hutan tropis di sepanjang jalan tentunya akan tetap segar.

Kesan pertama saat memasuki tempat wisata ini adalah kurang terawat, bisa dilihat dari gerbang masuk dan gazebo-gazebo yang tersedia dibiarkan seadanya. namun, keindahan air terjun ini tidak bisa ditutupi. air terjun ini memang tidak terlalu tinggi, namun jatuh mengalir bertumpuk tumpuk tidak ada habisnya di sungai Salodik. Tempat ini cocok bagi siapapun yang menginginkan kesegaran dan ketenangan. Letaknya yang berada di kaki gunung membuat tempat ini jauh dari keramaian, dan juga hutan tropis disekelilingnya membuat suasana menjadi segar. Hutan tropis yang masih lebat dan ekosistem yang masih terjaga membuat sungai ini tak pernah kering walaupun di musim kemarau. Tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk menikmati kesegaran air tejun salodik ini, cukup dengan membayar 1000 rupian kita sudah dapat menikmati keindahan dan jenihnya air di Salodik ini.

Air terjun Salodik merupakan potensi wisata yang sangat besar di kabupaten banggai, hanya sayang sektor pariwisata di Kabupaten Banggai ini belum mendapatkan porsi yang seharusnya, sehingga potensi wisata di Kabupaten Banggai belum dapat dioptimalkan. Jika dikelola dengan baik maka air terjun ini bukan saja akan terkenal di Sulawesi Tengah namun juga terkenal di seluruh Indonesia.

http://travel.detik.com/read/2010/12/09/083849/1512611/1025/berburu-kesegaran-di-air-terjun-salodik