Minggu, 22 Juli 2012

CERITA DARI LEMBAH NAPU


Lemba Napu adalah Dataran Tinggi Sulawesi Tengah yaitu kurang lebih 1200 meter dari permukaan laut, dikelilingi oleh pegunungan sehingga bentuknya seperti kuali besar, ditengahnya mengalir sungai lariang yang berhulu di tawaelia (Desa Sedoa), dan bermuara di sela Makasar Mamuju Sulawesi Selatan. Semua sungai dan anak sungai lembah napu bermuara ke sungai Lairiang sehingga semakin ke Selatan semakin besar dan dalam.
Dataran lembah Napu sebagian terdiri dari padang rumput, dataran perkampungan dan Hutan Rimba.
Menurut hikayat atau cerita turun temurun, ribuan tahun yang lalu lembah napu adalah danau yang luas yang disebut “Rano Raba”. Desekeliling danau diatas bukit/gunung bermukimlah kelompok-kelompok masyarakat berbentuk panguyuban yang dipimpin oleh seorang yang dituakan yang disebut TUANA. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut adalah :
1. To Huku ( Diatas desa Wanga) bahasa yang digunakan adalah bahasa Huku.
2. To Makumba (diatas desa Siliwanga)
3. To Malibubu ( Sebelah Barat desa Watutau, sebelah utara desa Betue)
4. To Urana ( Sebelah Timur desa Talabosa)
5. To Beau ( sebelah selatan desa watutau/ sebelah timur desa Betue)
6. To Atuloi (Sebelah utara desa Dodolo)
7. To Beloka ( Sebelah Timur desa Tamadue)
8. To Kapa ( Sebelah Selatan desa Tamadue)
9. To Wawowula ( Sebelah Selatan desa Tamadue)
Kemudian To’beloka, To’kapa, To’wawula, bergabung membuat pemukiman baru diatas bukit Winua yang mempunyai bahasa sendiri yang disebut bahasa Winua. Tempat ini disebelah Timur Tamadue terdapat patung Pakasele dan Pakatalinga dua kilometer dari desa Tamadue.
Ada banyak lagi kelompok-kelompok masyarakat yang belum diiventarisir tetapi bukti pemukimaqn ditatas bukit/gunung masih ada bekasnya sampai sekarang ini seperti sebelah Utara desa Winowanga Disebelah utara Desa Alitupu dan disebelah Utara desa Wuasa yang disebut dengan POWANUANGA SAE –(Perkampungan Tua).
Kelompok-kelompok masyarakat ini saling mengetahui / mengerti bahasa, yang akhirnya sekarang terkenel dengan bahasa Napu.
Suatu saat Rano Raba (Danau Raba) dikeringkan dengan upacara adat atas petunjuk Alla Ta Ala melalui Tawalia (dukun) dengan mengaliri aliran Danau disebelah selatan desa Torire sekarang, yang akhirmya menjadi sungai lairiang melewati Lore Selatan dan bermuara di Mamuju Sulawesi Barat.
Semakin lama Rano Raba semakin kering dan beberapa ratus tahun kemudian menjadi padang rumput dan hutan rimba, tinggal Rango Wanga (Danau Wanga) dan Rango Ngkio sebelah selatan desa Alitupu sekarang.
Dengan melihat dataran yang baik untuk penggembalaan ternak, dan untuk pertanian, makaa kelompok masyarakat yang tadi turun ke lembah untuk membuat pemukiman baru yang dikenal dengan nama:
1. To Kalide sebelah selatan Desa Tamadue (suku Winua), pada saat itu tibalah seorang Manuru yang kawin dengan seorang perempuan Bangsawan Putri Raba dengan turunan yaitu: Tindarura (Gumangkoana), Madusila, Ralinu, Sadunia, Madikampudu (Kompalio), Pua, Rabuho (perempuan), Rampalili.
2. To Habingka (suku Winua).
3. To Gaa (suku Winua).
4. To Lengaro (suku Huku,To Makumba, To Malibubu).
5. To Pembangu (To Urana, To beau, dan sebagian To Malibubu yang sekarang menjadi Suku Watutau)
6. To Mamboli ( Suku Winua)
7. To Pekurehua (kumpulan masyarakat yang akhirnya menjadi perkampungan besar yang dipimpin oleh seorang Panglima yang bernama Tindarura(Gumangkoana) yang memberi nama Lembah ini dengan PEKUREHUA.
Disetiap pemukiman didirikan Powoha tempat musyawarah masyarakat adat masyarakat setempat. Sedangkan tempat musyawarah seluruh Bangsawan napu dibangunlah Duhuga di Lamba, dan akhirnya Lamba menjadi pemukiman baru yang disebut To’Lamba.
Didalam duhuga Lamba inilah setiap tahun dilaksanakan upacara ritual adat MOENDE bagi arwa jenazah para bangsawan Napu yang tidak dikuburkan, nanti dikuburkan setelah Belanda masuk lembah Napu Tahun 1919.
Sebagaiman telah dipaparkan diatas, bahwa disebelah Utara desa Wuasa ada Powanuanga Sae atau pemukiman /perkampungan tua. Menurut cerita di Perkampungan ini hiduplah sekelompok Masyarakat yang dipimpin oleh seorang yangn dituakan yaitu MPEBIARO kurang lebih ratusan tahun yang lalu, ketika itu masyarakat telah berbudaya.
Mpebiaro adalah seorang yang memiliki sifat suka menantang perang tanding satu lawan satu, suatu saat dia menentang kedaerah “Lemba” (sekarang Sigi Biromaru), disana dia mendapat lawan yang kuat bernama “Latandu” yang sebenarnya adalah sahabatnya sendiri. (jauh sebelumnya Napu telah mempunyai hubungan baik dengan Masyarakat Lemba tidak terkecuali masyarakat dibawa pimpinan Mpebiaro, Jalan yuang mereka tempu adalah lewat Torongkilo, Salu Mparapa, Mamawa. Adale, Susumalindu, kemudian turun ke Banga-banga sampai Dongi-dongi mengikuti sungai dan tiba di Bora atau Lemba).
Untuk menjaga kemungkinan akibat tantangan Mpebiaro ini, maka seluru masyarakatnya dipindahkan ke suatu tempat yang disebut PANGKATUHA sebelah selatan desa alitupu dekat Rano Ngkio. Sebagai tanda bagi masyarakatnya bahwa musunya telah datang maka digantunglah gendang besar yang dipukul sebagai tanda agar masyarakat mencari perlindungan terutama bagi wanita dan anak-anak, karena Mpebiaro sudah merasakan kekuatan Latandu, sebab sudah berbulan-bulan mereka berperang tanding namun belum tanda-tanda ada yang kalah.
Suatu saat mereka melakukan pertandingan yang terakhir di Torongkilo, Gunung disebelah Utara Desa Wuasa / sebelah Barat desa watumaeta dengan perjanjian apabilah tidak ada yang kalah, maka pertandingan ini berakhirlah, sama-sama menang dan sama-sama kalah. Namun ketika mereka bertanding sama-sama menderita luka parah sehingga mereka berpisah.

Menjejaki Komunitas Suku Seasea diDataran Tinggi Pulau Peling




Oleh ; Andi F Alwi

Ada tiga kelompok suku Seasea yang masih tinggal di hutan.Kelompok kelompok ini bermukin di suatu wilayah hutan yang disebut Lipu. Tiga kelompok ini berdasarkan pembagiannya meliputi Lipu Tetek, Lipu Bubasak dan Libu Tuboan. Lipu yang paling jauh dari desa Osan adalah Lipu Bubasak.Di mana komunitas di Lipu yang paling jauh ini masih berburu dan masih banyak mengenakan kulit kayu sebagai pakaian sehari hari.

Istilah Lipu merupakan unit paling kecil setingkat desa sekarang.Lipu sendiri merupakan peristilahan dari warisan Pemerintahan Kerajaan Banggai dahulu.Masing masing Lipu dipimpin oleh perangkat adat yang digelar tonggol.Tonggol diakui sebagai pemimpin dalam struktur masyarakat dan diakui sampai sekarang oleh komunitasnya. Sebagai bagian penting kerajaan Banggai, Tonggol juga merupakan bagian dari perangkat kerajaan di tingkat paling bawah. Kepala suku.Begitulah kira kira terjemahannya secara sederhana.

Umumnya kondisi pemukiman di Lipu Tetekmemiliki jenistopograpi berbukit.Tanahnya mempunyai kandungan kapur yang sangat tinggi.Tidak ada sungai dan mata air yang kami jumpai di Lipu Tetek.Bisa dipastikan, komunitasnya sangat kesulitan dalam pemenuhan air bersih.

komunitas setempat bergantung pada curah hujan untuk kebutuhan air dan berladang.Tak jarang dijumpai di wilayah dataran tinggi seperti Seasea, pepohonan berdiameter besar dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mendapatkan air.

Unik dan tradisional.Caranya, mereka mengikat dedaunan di batang pohon besar.Hasilnya, tetesan air hujan dan embun pada pagi hari yang menetes di batangdan sedikit demi sedikit tertampung dalam wadah yang disiapkan. Wadah yang dipakai umumnya merupakan tong yang terbuat dari tempikar tanah. Orang Seaseamenyebutnya “gumbang.Asli buatan Seasea katanya.

Namun pada saat musim kemarau berlangsung dan persedian mulai menipis, warga kemudian menempuh cara lain untuk mendapatkan air bersih. Cara yang dilakukan adalah dengan menebang jenis pohon Meranti dan pohon Bambu.Dari dua jenis pohon ini, masyarakat dapat mengakses air walaupun dalam ukuran yang relative kecil dan tak cukup untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Namun pada saat musim kemarau berlangsung dan persedian mulai menipis, warga kemudian menempuh cara lain untuk mendapatkan air bersih. Cara yang dilakukan adalah dengan menebang jenis pohon Meranti dan pohon Bambu.Dari dua jenis pohon ini, masyarakat dapat mengakses air walaupun dalam ukuran yang relative kecil dan tak cukup untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

legenda orang pertama Seasea.Disebutkan olehnya bahwa orang pertama yang ada di Seasea bernama Boloki Seasea.Menurut kepercayaan komunitas Seasea, Boloki Seasea adalah seorang perempuan yang bisa menjelma menjadi kucing. Sehingga ia diberi gelar Tomundo Sasa, Tomundo artinya Raja dan Sasa artinya kucing. Boloki Seasea ini kemudian mempunyai tiga orang anak . Dia inilah kemudian menjadi cikal bakal penerus generasi Seasea, sehingga orang orang di Seasea biasa juga dikenal dengan sebutan Pau Seasea yang berarti keturunan Seasea.

Legenda lain adalah Boloki Seasea tidak mempunyai kuburan di Seasea. Ini terjadi karena Boloki Seasea suatu ketika menghilang di salah satu puncak gunung di wilayah utara tanah adat Seasea. Itulah kemudian orang Seasea meyakini kuburannya tidak dapat dijumpai di wilayah Seasea.“Boloki Seasea itu tidak meninggal seperti manusia biasa, tapi dia itu menghilang”, cerita Tonggol kepada kami.

Berkaitan dengan legenda Boloki Seasea ini, kami mencoba membandingkan penuturan Hukum Tua Lembaga Masyarakat Adat Kerajaan Banggai, H Yusuf Basan di Salakan.Dari beliau, dijelaskan bahwa pada di awal masehi salah ada salah satu raja dari delapan raja Kerajaan Banggai pada masa itu bernama Tomundo Sasa atau dijuluki Mbumbu Patola.Mbumbu artinya Raja dan Patola adalah kucing.Artinya, legenda tentang Boloki Seasea memiliki kemiripan sejarah yang ada di Kerajaan Banggai dahulu.

Hal laintentang suku Seasea, H Yusuf Basan memberikan penjelasanbahwa bila dilogikakan tentang kata Seasea adalah uraian kata Sasa, yang memiliki arti dari kata kucing. Kata Sasa ini kemudian menurut analisa beliau besar kemungkinan mengalami perubahan dialek di wilayah pesisir.Dari kata Sasa menjadi Seaseasekarang.

.Di wilayah pegunungan Seasea, tata guna lahan memiliki pengaturan yang khas.Pondok pondok atau rumah tinggal mereka terletak secara terpisah.Nampaknya diatur dengan pola yang sama. Bisa saja ini bagian dari kearifan lokal dalam melakukan penataan dan pengunaan lahan suku Seasea.

Secara kasat, dapat dikatakan bahwa satu topografi yang berupa gunung terletak satu rumah. Dengan kata lain, satu gunung satu rumah. Di mana satu rumah atau pondok ini didiami oleh satu keluarga.Bila salah satu anggota keluarga sudah dewasa dan menikah, maka ia akan membuat pondok atau rumah yang berpisah dengan orang tuanya. Untuk masing masing keluarga memiliki rata rata lebih dari satu bidang tanah untuk dijadikan ladang.

Ladang diolah secara bergiliran sesuai aturan lokal sepanjang tahun.Kami menemukan pembuktian bahwa ternyata anggapan banyak kalangan bahwa masyarakat yang ada di wilayah pedalaman, khususnya di dataran tinggi seperti suku Seasea ternyata bukan peladang berpindah.Justru sebaliknya, ternyata mereka memiliki pola tata guna lahan yang diolah secara bergiliran dan diatur secara arif.

Pola itu dapat dilihat dengan cara mereka memperlakukan lahan milik mereka. Di mana satu keluarga mengelola dua atau tiga lahan secara terpisah.Di mana mereka hanya mengolah satu lahan saja sepanjang musim tanam.Lahan yang satunya lagi dibiarkan bero.

Dengan di biarkan satu dari dua atau tiga lahan untuk tidak di olah atau dibiarkan bero memberikan kesempatan lahan bero melakukan pemulihan unsur hara tanah secara alami.Sumber hara berasal dari tumbuhan liar dan ilalang yang ada di ladang yang diistirahatkan.Waktu yang dibutuhkan umumnya satu periode musim tanam.Di periode tanam berikutnya, barulah lahan bero di olah kembali.Cara ini dilakukan secara bergiliran.Sehingga dengan mudah kita bisa menyimpulkan bahwa perlakuan bero dan di olahnya lahan berlangsung secara bergiliran untuk memberikan kesempatan lahan ladang melakukan pemulihan unsur hara secara alami.

Dari ladang yang mereka olah, umumnya diperuntukkan untuk kebutuhan pangan sehari hari.Hanya sebagaian saja yang di jual ke pasar.Itupun hanya di jual di pasar tradisional di desa Osan.Pasar ini juga hanya digelar sekali seminggu.

Di pasar tradisional ini, mereka masih mengunakan system barter.Umunya hasil panen warga ditukar dengan kebutuhan sehari hari seperti garam, ikan asin, minyak tanah untuk kebutuhan penerangan, dan beberapa dari mereka menukar hasil panen dengan pakaian bekas.

Walaupun kurang melakukan interaksi dengan dunia luar dan terisolasi dari segi jarak, Suku Seasea nampaknya pernah memiliki puncak beradaban di masa masa yang lalu.Ini dapat dibuktikan dengan adanya ilmu pengetahuan mereka yang mengenal seni membakar tembikar, menempa besi dan menuang tembaga yang diajarkan secara turun temurun. Sisa peradaban ini dapat dilihat dengan masih dijumpainya beberapa jenis gong dari tembaga, tombak, dan sebahagian penduduknya memiliki keahlian membuat parang tradisional khas Seasea.

Umumnya, mereka juga mahir memainkan alat musik tradisional, gendang, gong, suling bambu.Kami sempat disuguhkan pertunjukan seni tradisi.Diringi alat music tradisi, penarinya mengelilingi tiang rumah dengan panas terhunus berkelebat kelebat.Sangat memukau dan terasa daya magisnya.Tarian Cakalele, begitu mereka menamai tarian ini.

Dialek dan bahasa Seasea turut menjadi perhatian .Selain khas dalam dialek, juga sepertinya beberapa kosa kata yang digunakan sulit dipahami
“ada beberapa bahasa yang sulit saya pahami orang sini, mereka di sini masih pakai bahasa asli Seasea, sedangkan kami yang di bawah sudah tercampur dengan bahasa lain”, terang Mikus.

Bahasa orang Seasea, tambah Mikus, oleh masyarakat yang bermukim di desa Osan mengakui ada beberapa kosa kata yang dimiliki oleh saudara mereka yang ada di gunung justru tidak dimengerti.Terutama mereka yang berdiam di wilayah lipu Tubuan yang tinggal lebih jauh lagi dalam hutan.Artinya, bahasa asli memang masih terpelihara.

Menyoal tentang kekhasan Seasea dalam berbahasa.Mari kita coba mencermati tentang bahasa bahasa yang ada di Banggai dan Banggai Kepulauan.Adapun bahasa orang Seasea merupakan salah satu bahasa Banggai yang mempunyai konstruksi genitive bertiga ganda. Salah satu contoh kata aki yang berarti tidak yang berbeda dengan bahasa Balantak yang mengatakan sian dan Saluan menyebut madi untuk kata yang bermakna sama. Para pengucap aki di masyarakat Banggai juga terbagi dalam dua bagian.Satu bagian di wilayah Timur dan satu kelompok komunitas di wilayah Barat.

Di Pulau Peling, semakin mengarah ke wilayah barat, nampaknya memiliki perbedaan dialektis dari pengunaan kata di banding dengan para penguna kata aki di wilayah timur. Di mana komunitas di wilayah barat, khususnya di Seasea menghilangkan huruf huruf K dan G di tengah kata dengan mengantinya dengan hamzah.Sehingga kata aki menjadi a’i. Dialek Seasea yang khas lainnya adalah di setiap kata yang mengandung huruf R dan diganti dengan huruf L. Sehingga, dalam berbahasa Seasea terdengar cadel.

Ada kemungkinan, perbedaan dialek ini terjadi karena kedua kelompok komunitas ini terpisah dari sisi wilayah dan aksebilitas.Satu kelompok berdiam di desa dan satu kelompok masih berdiam di hutan.Kelompok komunitas yang ada di desa Osan memiliki akses untuk berhubungan dengan dunia luar sehingga memiliki system transformasi bahasa dan social budaya yang cepat berubah.

Sedang komunitas yang masih tinggal di hutan masih terisolasi.Keterisolasian ini kemudian menciptakan sisi positif di mana bahasa asli orang Seasea yang bermukim di hutan tidak mudah dipengaruhi oleh bahasa dan dialek lain. Terutama pengaruh bahasa Indonesia yang umumnya menjadi bahasa sehari hari mayoritas masyarakat yang ada di Pulau Peling.

Terkait soal itu, Komunitas Seasea dalam meneruskan sejarah dan budayanya, termasuk dalam melestarikan bahasa lokal hanya bergantung pada budaya tutur. Komunitas Seasea tidak mengenal proses pendokumentasian dalam bentuk tulis, hanya lisan dari generasi ke generasi. Di komunitas lain di Indonesia, semisal Kertagama di Jawa dan Lagaligo dan aksara Lontara milik Bugis Makassar, terbukti mampu melestarikan budaya dan bahasa setempat sampai saat ini.Adapun Seasea hanya mengenal pendokumentasian bahasa asli hanya dengan teks berupa tuturan, nyanyian, tanda dan symbol.

ORANG TOMPU


Dalam bahasa lisan orang Tompu, dulunya, luas daratan masih sebesar telur ayam kampung. Oleh Tupu Atala (sang pencipta), diturunkanlah Tana Sanggamu (tanah segenggam) bersama seekor ayam jantan warna putih. Peristiwa itu terjadi menjelang sore, di puncak Gunung Kalinjo, Tompu.
Ayam itu kemudian mengais-ngaiskan cakarnya di atas Tana Sanggamu sehingga berubah menjadi daratan luas yang ditumbuhi sejumlah pepohonan seperti, bambu kuning, lampeuju, peliu, lambuangi, ganaga, tea, beringin dan lanjo.
Selain itu, bekas cakaran ayam jantan tersebut kemudian nebete (menjelma) menjadi manusia, tapi wujudnya belum sempurna, masih berupa badan tanpa kepala. Untuk proses penyempurnaan, Tupu Atala kemudian mengambil tanah dari Bulili, suatu tempat di sebelah utara Kalinjo yang masih termasuk dalam wilayah ke–adat-an Tompu sekarang ini.
Dari manusia pertama itulah yang kemudian menurunkan generasi suku Kaili sub etnis Ledo yang mendiami sejumlah Boya di Tompu. Lambat laun, mereka menyebar luas ke Lembah Palu dan beberapa daerah lainnya di Sulawesi Tengah.
Dalam hal pengelolaan sumber daya alam, orang Tompu masih mengandalkan tradisi perladangan padi. Sebab menurut keyakinan mereka, padi itu adalah merupakan jelmaan leluhur yang harus selalu di jaga. Kisah tentang asal-muasal padi ladang itu, menurut Papa Reni (62), salah satu warga setempat, bermula dari  cerita sepasang suami isteri yang hidup di Tompu. Mereka memiliki dua orang anak, laki dan perempuan. Suatu ketika dua orang anaknya itu menangis minta makan.
Karena tidak tahan mendengar tangisan anaknya, Si Ibu kemudian pergi ke suatu tempat dan memohon kepada Tupu Alatala agar diberikan makanan. Tak lama kemudian, permohonan doa ibu tersebut dikabulkan. Diturunkanlah padi, tapi jumlahnya agak terbatas. Oleh Si Ibu, padi tersebut dibuat menjadi bubur untuk dimakan anaknya.
Keesokan harinya, anak itu kembali menangis minta makan. Tak tahan mendengar anaknya menangis, suaminya meminta lagi pada istrinya agar bermohon pada Tupu Alatala. Si Isteri pun kembali berdoa dan memohon agar diberikan makanan. Dan permintaan itu kembali dikabulkan.
Hari berikutnya, sang anak menangis lagi. Melihat anaknya menangis, Si Ibu bingung dan merasa malu untuk minta makanan secara terus menerus pada Tupu Alatala. Karena itu, suaminya kemudian menawarkan diri untuk pergi berdoa minta makanan pada Tupu Alatala. Namun sebelum pergi, dia berpesan pada isterinya, ”Jika seminggu lamanya saya tidak kembali, tidak perlu dicari. Tetapi pergi saja ke ladang kita yang baru, saya ada di sana,” kata Sang Suami pada istrinya.
Setelah seminggu pergi,  suaminya tak kunjung datang. Maka, Sang Isteri pergi ke ladang mereka yang baru dibuka, sesuai pesan suaminya.
Betapa terkejutnya dia sesampai di ladang. Ternyata tempat itu sudah ditumbuhi padi, yang tidak lain adalah jelmaan dari suaminya.
Sejak saat itu, orang Tompu tidak pernah meninggalkan tradisi menanam Padi.
Sebab jika tidak menanam padi ladang, sama saja memutuskan hubungan spiritual dengan leluhur. Karenanya proses itu dianggap suatu religi.
Untuk menjaga ketersediaan pangan, setiap rumah tangga membuat Gampiri (lumbung padi). Karenanya, kata Papa Reni, sehebat apapun kemarau panjang saat itu, warga Tompu tidak pernah mengalami kekurangan pangan. Bahkan, mereka menjadi penyuplai beras ke desa-desa tetangga.
Saat itu, ada enam puluh lebih jenis varietas lokal di Tompu. Tapi sekarang ini, tidak sampai sepuluh jenis yang tersisa. Karena kampung ini sempat kosong, akibat di bubarkan secara paksa oleh pemerintah pada tahun 1975.  Pernah diupayakan warga mencari di tempat lain varietas padi tersebut, tapi sudah tidak tersedia lagi di tempat itu.
Penekanan terhadap Orang Tompu
Sejarah penekanan terhadap orang Tompu sebenarnya telah berlangsung lama.  Menurut Papa Jani, proses itu dimulai tahun 1927, ketika kolonial Belanda mulai menduduki Sigi Biromaru.
Kekayaan alam yang dimiliki warga Tompu memancing reaksi Belanda untuk datang menguasainya. Akan tetapi, niat buruk kompeni itu mendapat tentangan dari warga. Dan, terjadilah pertempuran hebat pada saat itu.
Tapi karena hanya bersenjatakan seadanya, orang Tompu pun kuwalahan. Korban mulai berjatuhan di pihak warga. Oleh mereka, dikuburkan secara massal di Boya Sidima, Tompu.
Sejak saat itu, pemerintah kolonial dengan leluasa bisa mengambil seluruh kekayaan alam yang ada di Tompu, seperti damar, cendana, kayu manis dan kemiri. Untuk mempermudah proses pengangkutan, mereka memaksa penduduk untuk membuat jalan lingkar menuju ke kantong-kantong hutan kayu manis dan damar.
Selain itu, para warga juga diminta untuk membayar blasting (pajak) ke pihak kompeni atas penggunaan tanah di tempat itu.
Hal itu mendapat reaksi keras dari warga. Menurutnya, mereka tidak pernah berutang dengan pemerintah Belanda. Karena menolak bayar pajak, sebagian dari mereka kemudian memilih untuk meninggalkan perkampungan tersebut dan masuk ke hutan di daerah Manggalapi, dekat perbatasan Kabupaten Parigi Moutong hingga sekarang ini.
Menurut Papa Asa (69), salah seorang tokoh adat setempat, sebelum tahun 1927,  Tompu sudah otonom dan punya sistem pemerintahan sendiri. Terhitung, ada tujuh Kapala Ntina (setingkat dengan kepala kampung)  yang sempat menjadi pemimpin di tempat itu.  Yang pertama adalah, Rapeyangga Ngata, kedua Yabakita, ketiga Kitanava, keempat Lamatoti, kelima Silinava, keenam Yavaringgi, dan ketujuh adalah Manasele.
Manasele menjabat dari tahun 1945 sampai 1975. Setelah itu, tidak ada lagi kepemimpinan baru di Ngata Tompu. Karena sejak tahun 1975, perkampungan itu telah dibubarkan secara paksa oleh pemerintah dengan alasan masuk dalam kawasan hutan lindung.
Melalui dinas kehutanan dan aparat keamanan, pemerintah mendesak warga untuk mengosongkan perkampungannya. Mereka dipaksa pindah ke beberapa desa yang telah disiapkan oleh  pemerintah. Beberapa pemukiman warga di Boya Bulili dibakar oleh Badu, salah seorang anggota kepolisian dari sektor Palu Timur.
”Kami tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu, kecuali pasrah. Karena mereka mengancam akan memasukkan kami ke penjara jika membangkang,” ungkap Papa Santa, salah seorang warga Tompu,
Dengan mobil truk, mereka diangkut ke Desa Rahmat, Kecamatan Palolo –jaraknya sekitar 50 km dari Tompu. Di tempat baru ini, pemerintah telah menyiapkan sebuah rumah panggung sederhana dan lahan seluas 2 hektar untuk setiap keluarga. Disamping itu, pemerintah juga memberikan bahan makanan selama beberapa bulan serta peralatan kerja, seperti parang dan cangkul.
Meskipun diberi sejumlah fasilitas oleh pemerintah, warga Tompu tidak merasa betah di tempat itu. Karena di perkampungan baru itu mereka sudah berbaur dengan masyarakat dari komunitas lain, jadi mereka tidak bisa leluasa mengembangkan tradisinya. Hal lain, menurut penuturan warga, lahan yang diberikan pemerintah adalah lahan basah yang hanya cocok buat sawah. Sedangkan mereka tidak punya keterampilan bertani di lahan basah.
Pada beberapa kasus, malah tanah milik penduduk lain yang diberikan pemerintah pada warga Tompu. Dan ini seringkali menimbulkan konflik antar sesama warga. ”Untuk menghindari terjadinya konflik, kami selalu mengalah,” ujar Kobo, warga Tompu.
Atas persetujuan Efendi Dg. Pawara, Camat Sigi Biromaru pada saat itu, warga Tompu akhirnya menyingkir ke Vatubose, masih dalam wilayah desa Rahmat. Di tempat itu, mereka mulai menanam beberapa tanaman produksi, seperti kakao dan kopi. Ketika tanaman mereka sudah berbuah, muncul lagi soal baru. Kali ini datang dari pihak Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL).
Lembaga konservasi milik pemerintah itu memasang patok-patok pal batas tepat di lokasi perkebunan warga. Secara sepihak, tempat itu ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Akibatnya, warga Tompu semakin tersingkir. Dan, itu kemudian membuat kerinduan di hati mereka untuk segera kembali ke kampung leluhur.
Untuk menghindari terjadinya konflik berkepanjangan, tahun 1998, “Kami dan sejumlah warga lainnya sepakat untuk pulang ke Tompu hingga sekarang ini,” kata Papa Jani.
Saat mereka kembali, ada banyak perubahan yang terjadi di kampung itu. Sejumlah hutan  mulai rusak akibat adanya penebangan kayu yang dilakukan pihak luar. Hal itu kemudian menyebabkan keringnya mata air. ”Padahal dulu tempat itu sangat kami jaga, karena itu adalah penghidupan kami,” ungkapnya.
Sementara itu, pengetahuan mereka tentang perbintangan juga sudah mulai
hilang. Karenanya, mereka bertekad untuk mencari segala sesuatu yang hilang dari perkampungan itu, baik sistem sosial, religi ataupun lainnya. Hal itu mereka lakukan demi untuk menata kehidupan Tompu yang lebih baik ke depan. ”Sebab perjuangan kami saat ini adalah adanya pengakuan dari negara terhadap orang Tompu,” tegas Papa Jani.

Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi)


Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaƱa. Dalam bahasa latin anoa pegunungan disebut Bubalus quarlesi.

Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 122-153 cm dengan tinggi sekitar 75 cm. Panjang tanduk anoa pegunungan sekitar 27 cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 150 kg. Anoa pegunungan berusia antara 20-25 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun. Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 mdpl meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang diperlukan dalam proses metabolismenya.

Anoa pegunungan cenderung lebih aktif pada pagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan. Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”.

Populasi dan Konservasi Anoa. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah terlihat lagi. Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah).

Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diperjual belikan. Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore-Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah).

Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.

Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)

Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)

Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sering disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa pegunungan.

Anoa dataran rendah  mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi sekitar 85 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya 40 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg.

Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 30 tahun yang matang secara seksual pada umur 2-3 tahun. Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 mdpl. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.

SEPENGGAL CERITA JEMBATAN LOBU


Jembatan Lobu....jembatan kayu itu tersimpan kenangan sejarah perkembangan masyarakat dan wilayah di sepanjang Sungai Lobu. Menurut cerita dan kesaksian yang dihimpun dari penduduk setempat, jembatan kayu itu dibangun sejak tahun 1940. Dan baru rampung serta resmi digunakan oleh kolonial Belanda pada tahun 1942. Buktinya bisa dilihat pada monumen kecil di ujung timur jembatan yang bertuliskan angka tahun 1942.
Dari cerita-cerita itu pula, diketahui bahwa desainernya adalah orang Belanda, serta mandornya berasal dari Manado. Di sebelah utara jembatan, masih bisa dijumpai sumur tua, tempat para pekerja dan mandor mengambil air untuk diminum dan memasak. Seluruh pekerja berasal dari kampung-kampung terdekat. Seluruh bahan baku jembatan yang terbuat dari kayu, bersumber dari hutan tropis di hulu Sungai Lobu. “Waktu itu, hutan di hulu masih lebat dan terjaga, banyak cadangan kayu tropis yang berkualitas, sehingga mudah dapat bahan baku kayu”, ujar Pak Jarhan dari Desa Lobu.

Jembatan itu pula, pernah dilalui oleh konvoi Laskar Merah Putih (LMP) Lobu menuju Bunta, untuk menjembut Komandan Laskar Merah Putih dari Gorontalo, Nani Wartabone. Setelah bergabung dengan laskar pejuang kemerdekaan LMP, pimpinan Nani Wartabone, tahun 1943 di tepi pantai Lobu, masyarakat dari sepanjang Sungai Lobu mengibarkan bendera Merah Putih. “Jadi, kami di wilayah Sungai Lobu lebih duluan mengibarkan bendera Merah Putih dibandingkan orang Jakarta”, ujar Andong, pemuda dari Bolobungkang. Itulah sejumput nilai historis yang bersentuhan langsung dengan keberadaan jembatan kayu itu.

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:
Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu
Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Donggala
Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Bare'e berdiam di kabupaten Touna
Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala

Di samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan Suku Ta' di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.